Miras Lebih Kejam Dari Pelakor

Photo by Anete Lusina from Pexels

Photo by Anete Lusina from Pexels

Sementara waktu umat Islam di tanah air bisa bernafas sedikit lega, usai Presiden Jokowi membatalkan rencana investasi terbuka industri miras. Desakan dan dikritik banyak pihak mulai dari kepala daerah, masyarakat adat sampai alim ulama dan ormas Islam, membuahkan hasil.

Namun ini ‘sedikit’ lega ya, karena persoalan miras ini belum selesai. Ingat yang dibatalkan hanyalah rencana investasi baru. Sementara produksi dan distribusi miras di tanah air tetap ada. Artinya, masyarakat Indonesia tetap terancam dengan keberadaan miras legal maupun ilegal di pasaran.

Minuman beralkohol memang ada efek positif baik secara materil ataupun medis. Namun keburukan yang ditimbulkannya jauh lebih besar. Tak sebanding dengan keuntungannya. Selain memicu berbagai tindak kejahatan terutama kekerasan, miras mengancam kesehatan jantung, ginjal, liver, dll. WHO mendata minuman beralkohol ini membunuh orang tiap 10 detik.

Ancaman lain yang jarang diperhatikan oleh pemerintah, miras ini jadi momok bagi keluarga. Banyak riset yang menunjukkan pengaruh minuman keras ini merusak keharmonisan keluarga, memicu kekerasan dan percaraian, serta merusak pola asuh pada anak. Minuman keras, jauh lebih merusak keluarga ketimbang kehadiran pelakor dalam rumah tangga.

Peneliti dari University of Buffalo Research Institute on Addictions (RIA) di New York, Amerika Serikat, mendapati dari 634 pasangan, pasangan yang salah satunya pemabuk 50% dari mereka bercerai. Perceraian ini menjadi semakin besar bila sang istri punya kebiasaan mabuk-mabukan. Uniknya, pasangan yang sama-sama pemabuk hanya beresiko 30% bercerai.

–  Di AS, Inggris, dan Wales 50% orang jadi korban kekerasan fisik oleh pasangan mereka akibat pengaruh alkohol (WHO, 2006).

– Situs BBC memberitakan dari hasil penelitian di tahun 2019, oleh Professor Seena Fazel dari University of Oxford, pria dengan problem alkohol 6 x beresiko lakukan kekerasan fisik pada pasangannya.

– Kebiasaan minum minuman beralkohol juga merusak kehidupan seksual dalam pernikahan, juga kemampuan reproduksi terutama pada pria. Sperma pria dapat mengandung alkohol dan sampai pada sel telur. Hal ini dapat merusak embrio yang sudah terbentuk dan dapat menyebabkan terjadinya kelainan bawaan dan keguguran.

–  Anak-anak juga turut menjadi korban orang tua yang pemabuk. Alkohol merusak pola asuh dan pola didik dalam keluarga. Akibatnya anak-anak yang hidup dengan orangtua pemabuk rentan alami gangguan mental seperti kecemasan, marah, malu, gelisah, mengisolasi diri, kompulsif.

Dalam Islam hukum minuman beralkohol atau yang disebut khamr ini sudah jelas; haram. Tak ada khilafiyah di kalangan ulama soal ini. Pengharaman khamr yang sudah pasti adalah karena firman Allah SWT.:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (TQS. Al-Maidah: 90)

Meskipun ayat ini sebenarnya telah jelas soal status haramnya khamr alias miras, namun Allah SWT. menjelaskan pula
keburukan khamr yaitu menciptakan permusuhan dan kebencian selain juga membuat orang lupa dari taat pada Allah SWT. FirmanNya:

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (TQS. Al-Maidah: 91)

Lengkap sudah haramnya khamr, sampai-sampai Allah sebutkan efek negatif yang ditimbulkannya. Persoalannya hari ini adalah bukan sekedar pembatalan investasi baru industri miras, tapi melindungi umat dan keluarga muslim secara total dari distribusi miras. Karena seperti disebutkan di awal, pembatalan rencana investasi itu tidak berarti melarang produksi dan distribusi miras.

Namun mengharap itu terjadi dalam kondisi hari ini, ketika negara dan masyarakat berpijak pada pondasi sekulerisme dan ekonomi kapitalisme, amat sulit. Kebijakan yang dibuat seringkali berpusat pada hitung-hitungan ekonomi; atas nama devisa dan pertumbuhan ekonomi. Sementara ongkos sosial yang harus dipikul warga sering tidak dihitung.

Masyarakat dan keluarga muslim hanya bisa terlindungi secara penuh bukan dalam keadaan hari ini, tapi hanya dalam naungan syariat Islam yang diterapkan Khilafah Islamiyyah. Sebab, hanya dalam syariat Islam kemaslahatan umat terjaga termasuk kesehatan dan akal akan terpelihara.

Sudah saatnya umat mengakhiri keadaan ini secara aktif. Bersama-sama berjuang agar syariat Islam yang mulia dapat terlaksana, agar umat Islam bisa hidup secara mulia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.