Suami Penyebab Perceraian

Berapa jumlah perceraian di tanah air? Tinggi. Konon tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Kabarnya setiap jam 40 pasangan bercerai, dan katanya perceraian terbanyak adalah istri menggugat cerai suami.

Bila hanya melihat data sepintas, kaum lelaki bisa berpikir bila perempuan atau para istri hari ini keras kepala dan keterlaluan. Sampai-sampai menggugat cerai suami. Bukankah meminta cerai adalah perbuatan tercela?

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاقًا فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّة

Siapa saja wanita yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas wanita tersebut.” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud).

Hadits itu adalah benar. Meminta cerai dari suami tanpa alasan yang haq adalah perbuatan fasik. Namun bukankah dalam perkataan Baginda Nabi tersebut terkandung lafadz “fiy ghairi maa ba’sin – dalam perkara yang tak dibenarkan”? 

Al-Ahwadziy dalam syarah at-Tirmidzi menyebutkan (من غير بأس)  adalah segala sesuatu yang bukan kesukaran yang menimpanya hingga meminta perceraian dari suaminya. Contohnya adalah buruknya pergaulan suami terhadapnya (su’u al-‘usyroh).

Para suami, pahamilah, perempuan yang baik, yang terhormat, apalagi yang taat pada Allah, tak akan mudah meminta talak pada suaminya kalau bukan karena persoalan yang ia rasakan amat berat, atau ia khawatir mendapatkan mudlarat bila mempertahankan pernikahan. Bagi para istri seperti ini, perceraian adalah benar-benar emergency exit.

Namun adakalanya rumah tangga terasa menjadi penjara yang menyiksa batin mereka. Banyak perempuan yang merasa menjadi tawanan yang diperlakukan buruk oleh pria yang menikahi mereka.

Persoalannya banyak lelaki yang tak paham cara memperlakukan istri dalam pernikahan. Para suami, apakah Anda tidak paham bahwa ketika seorang perempuan Anda nikahi, sebenarnya ia telah menjadi tawanan dalam dunia Anda? Posisinya amat tak berdaya. Bila ia ingin fokus melayanai Anda dan mengasuh anaknya, maka nafkah ia gantungkan pada Anda. Bukankah ini posisi yang begitu lemah? Saat ia paham bahwa ketaatan seorang istri wajib menaati suami, maka hidupnya ada dalam genggaman Anda. Berpuasa sunnah pun menunggu restu suaminya. Keluar rumah mesti seizin Anda. Bahkan mengunjungi kedua orang tuanya yang telah melahirkan dan membesarkannya, harus menanti persetujuan Anda, suaminya.

Namun kedudukan istri sebagai ‘tawanan’ bukan untuk kemudian menjadikan suami diizinkan sewenang-wenang pada istri-istri mereka. Justru Islam memerintahkan para suami untuk bersikap baik dan memenuhi hak para ‘tawanan’ mereka. Nabi SAW. bersabda:

أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ

“Hendaknya kalian berwasiat yang baik untuk para wanita karena mereka sesungguhnya hanyalah tawanan yang tertawan oleh kalian” (HR At-Thirmidzi no 1163, Ibnu Majah no 1851).

Islam memerintahkan para tawanan dalam peperangan diperlakukan baik, tidak semena-mena. Dalam beberapa kondisi mereka dibebaskan dengan tebusan ada pula yang dibebaskan cuma-cuma. Bila tawanan perang saja wajib diperlakukan dengan baik, apatah lagi seorang istri?

Islam memerintahkan para suami menunaikan hak-hak para istri seperti nafkah pangan, sandang, juga tempat tinggal, karena mereka punya hak sebagaimana kewajiba mereka pada suami.

Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang ma’ruf. (Al-Baqarah: 228).

Rasulullah SAW. juga memberikan gambaran suami yang baik di mata Allah, adalah suami yang baik pergaulannya pada istri mereka.

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya (HR. Tirmidzi)

Ada sebagian lelaki yang menganut filosofi konyol, mereka hanya paham istri itu adalah tawanan yang wajib taat pada suami. Mereka sigap menuntut kewajiban para istri, tegas juga melarang istri begini dan begitu,  tapi tutup mata terhadap hak istri dan tak memberikan pergaulan yang maruf.

Ada istri yang mengeluh karena suaminya tak mau membantunya mengasuh anak, padahal ia juga harus mengurus rumah dan menyiapkan makanan keluarga. Sang suami selalu minta semua beres dan tinggal menyuruh-nyuruh. Persis bak sipir penjara.

Ada istri yang juga berkeluh kesah karena bingung mengatur uang belanja dan kebutuhan pribadinya, sementara sang suami seperti tak mau tahu karena merasa sudah memberi nafkah yang cukup padahal kurang. Ketika sang istri meminta baik-baik tambahan nafkah, suaminya justru memarahinya. Bukankah pada pengemis saja kita tak boleh menghardiknya, bagaimana bisa pada istri yang sedang menuntut haknya seorang suami malah berkata kasar padanya?

Ada juga suami nyaris melarang istrinya menyambung silaturahim dengan kedua orangtuanya, melarangnya mengikuti kajian agama, meski hanya ke majlis dekat rumah. Karena sang suami berprinsip, amal terbaik seorang istri adalah di rumah, hanya di rumah. Padahal suaminya sendiri tak bisa membimbing agama istrinya. Bukankah ini ironi?

Di dunia ini banyak lelaki yang hanya punya separuh jiwa suami. Mereka tegas dalam menuntut kewajiban istri, tapi abai memberikan hak istri, dan mungkar dalam pergaulan terhadap istri-istri mereka.

Lelaki macam ini jika menjadi suami, hanya menghancurkan kehidupan kaum perempuan. Ironisnya mereka sudah merasa benar. Yakin bahwa mereka menegakkan kepemimpinan terhadap istri-istri mereka. Mereka tak paham kalau kepemimpinan suami atas para ‘tawanan’, bukan saja membutuhkan ketegasan, tapi perilaku ma’ruf pada para istri. Ber-mujamalah, alias santun dan kasih sayang, mencukupi nafkah mereka, dan menjaga silaturahim dengan keluarga istri.

Mental suami yang kasar pada tawanan mereka, muncul dari keimanan yang rapuh dan lemahnya ketaatan pada hukum Allah. Lalu semakin rapuh karena keengganan bercermin pada syariat Islam yang menata kehidupan suami dan istri. Tak peduli ia rajin shalat lima waktu, zikir, hafal al-Qur’an, tapi bila personaliti/kepribadiannya tak ditundukkan pada syariat Islam maka tetap akan jadi pribadi kasar pada tawanan alias istri-istri mereka.

Semoga saja jumlah lelaki macam begini semakin berkurang, karena hanya merusak masa depan kaum perempuan dan menghancurkan rumah tangga. Semoga.

* Silakan simak ceramah  singkat saya dengan tema Istri Sebagai Tawanan di link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=hRnt6OwJHjc

Incoming search terms:

  • tanya ustadz suami homo cerai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *