Membentuk Ketaatan Pada Anak Di Tengah Fitnah

Adalah sebuah tantangan menanamkan ketaatan pada anak di jaman now. Bukan karena ajaran Islam itu sulit, tapi karena kondisi hari ini yang membuat proses pendidikan penuh rintangan. Diantaranya; Pertama, lingkungan yang serba permisif, serba boleh. Ini menjadi tantangan dan rintangan saat kita mengajarkan prinsip hidup halal-haram pada keluarga. Soal pakaian yang Islami, soal tata pergaulan dengan lawan jenis, berbahasa yang ahsan, dsb. Mendidik anak dalam ketaatan di zaman sekarang ibarat mencuci pakaian bersih untuk kemudian dipakai di tempat berlumpur. Butuh kerja keras untuk selalu menjaganya dan mencucinya tetap bersih kembali.

Kedua, sedikit atau banyak, fitnah atau kriminalisasi terhadap agama ini (Islam), berpengaruh pada keluarga dan lingkungan kita tinggal. Anak-anak mungkin menyimak berita soal terorisme, fitnah terhadap syariat Islam dan penegakkan Khilafah, soal larangan bercadar, kecurigaan pada orang berjenggot, dsb. Dengan gencar media massa mainstream terutama elektronik memberitakan soal topik radikalisme sampai terorisme.

Lingkungan yang terpengaruh opini negatif itu setidaknya bisa memberikan suasana kurang nyaman pada keluarga terutama anak-anak. Opini negatif yang dibangun media massa melekatkan Islam radikal justru pada keluarga muslim yang rajin ibadah, berakhlak baik dan bergaul dengan tetangga. Bisa dikatakan, musuh-musuh Islam berhasil membangun stigma atau label yang  buruk pada agama Islam dan orang yang menaatinya.

Meskipun demikian, membentuk pribadi taat pada anak tetaplah kewajiban. Bahkan dalam keadaan seperti ini menjadi sebuah tugas yang semakin penting. Bila keluarga muslim kemudian mengendurkan pendidikan agama pada anak-anak mereka, akan habislah generasi muslim di masa depan. Dan itulah justru yang diharapkan oleh musuh-musuh Islam.

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, (TQS. Maryam: 59).

Apa yang harus dilakukan keluarga muslim dalam menanamkan ketaatan agama pada anak-anak mereka, di jaman?

Pertama, tanamkan pada anak-anak keyakinan bahwa Islam adalah agama sempurna dan mengajarkan akhlak mulia. Ayahbunda bisa menceritakan keteladanan Nabi SAW. dan para sahabat dalam akhlak secara paripurna. Bukan saja menceritakan kelembutan pribadi Nabi, atau jiwa pemaafnya, tapi juga ketegasan Beliau dalam melaksanakan hukum-hukum Allah SWT., misalnya Nabi menegur pedagang yang tidak jujur, melarang menyerupai orang kafir, dsb. Contoh kelembutan dan ketegasan penting untuk disampaikan pada anak-anak agar mereka belajar untuk mempertahankan prinsip hidup yang benar.

Kedua, ketika anak menyimak berita kekerasan yang terjadi di layar kaca, maka tunjukkan simpati pada korban misalnya katakan, “Innalillahi wa inna ilayhi rajiun…kasihan ya, nak. Semoga bapak fulan yang jadi korban dirahmati Allah.” Ucapan dan ekspresi simpati penting sehingga anak paham seorang muslim harus merasa sayang pada orang yang tertimpa musibah. Hal ini sekaligus menanamkan pada anak bahwa tindakan kekerasan seperti tidak dibenarkan agama.

Ketiga, bila anak sudah bisa diajak berdialog dan berpikir seperti anak pra-baligh, orang tua sudah bisa mengajarkan hukum-hukum jihad yang benar menurut tuntunan syara’. Misalnya, sekalipun di medan perang tapi Islam melarang membunuh anak-anak, perempuan, pendeta, merusak rumah ibadah, merusak tanaman dan membunuh ternak. Ceritakan juga bahwa penaklukan-penaklukan (futuhat) yang dilakukan umat Muslim justru mendatangkan dukungan dari banyak warga bukan muslim karena perlakuan yang mulai dari prajurit Muslim pada mereka.

Keempat, latih anak-anak usia remaja berpikir siyasi (politis) tentang kondisi sekarang. Seperti jelaskan kesalahan sebutan radikalisme pada agama Islam, apa tujuan dimunculkan istilah demikian yakni untuk memojokkan umat Islam dana agamanya. Kemudian latih mereka untuk menganalisa apakah benar aksi pemboman atau penyerangan atas nama Islam itu ditujukan untuk membela agama Islam? Padahal korbannya sebagian muslim dan justru merusak agama Islam.

Kelima, ajarkan mereka untuk bisa menjelaskan fitnah agama dan radikalisme. Cukupkan ilmu mereka agar bisa membuat orang lain paham dan tidak ikut-ikutan memfitnah agama sendiri. Hal ini juga penting agar anak-anak kita tidak selalu menjadi tertuduh lalu merasa inferior dengan agama mereka, tapi bentuklah pribadi mereka agar bisa tampil sebagai pembela Islam dan menunjukkan umat ke jalan Islam yang haq.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.