Remaja Kami Terpapar Zina dan LGBT; Apa Negara Peduli?

Sengaja saya ambil judul di atas karena sebagai kepala rumah tangga, praktisi parenting, saya begitu gemas dan kesal dengan sikap pejabat di negara ini, yang seperti memicingkan mata pada menjamurnya seks bebas dan LGBT di kalangan remaja.

Belakangan medsos dibombardir dengan berita seputar seks bebas di kalangan remaja, juga LGBT. Namun karena saya sejak belasan tahun menggeluti perbaikan sosial remaja dan keluarga, seperti sudah ‘kebal’ mendengar berita seperti itu. Pergaulan macam begitu saya duga akan terus menanjak grafiknya dan menembus lintas usia. Terbukti, sekarang sudah mulai menjamur di kalangan pelajar Sekolah Menengah Pertama.

Dulu, tahun 80-an, tidak susah mencari majalah porno atau video porno – dulu namanya film biru – dalam format VHS. Cari rumah kawan yang kosong lalu ramai-ramai nonton di sana. Sekarang, di generasi milenial, kecanggihan teknologi membuat orang jadi lebih mudah lagi mendapatkan berbagai konten pornografi, termasuk film-film abnormal berisi film gay atau lesbian. Media sosial jadi tempat yang paling rawan untuk peredaran film porno dan membangun jaringan gaya hidup seks bebas dan LGBT.

Maka, jumlah remaja yang terpapar gaya hidup seks bebas dan LGBT makin membengkak. Lintas usia dan lintas komunitas. Para bapak dan ibu jangan berpikir seks bebas atau LGBT tak bisa masuk ke lingkungan sekolah Islam atau ponpes. Beberapa kawan saya yang masuk sekolah Islam dan ponpes, atau yang anaknya bersekolah di sana, bercerita kalau film porno atau bahkan perilaku gay juga lesbian bisa menembus ke sana.

Yang menyebalkan para pelaku seks bebas ataupun LGBT makin lama makin belagu. Berani dan arogan. My body is my right, badan gue urusan gue. Emang kalau gue jadi LGBT ngerugiin orang lain? Ini kan HAM! Ini keniscayaan demokrasi, bro! Susah memang menghentikan seks bebas dan LGBT di alam demokrasi yang menjunjung liberalisme. Semua jadi hak asasi.

Anak-anak muda pelaku seks bebas dan LGBT mungkin belum merasakan saat diri mereka atau pacar mereka hamil, berlanjut mengaborsi kandungan, lalu kemudian rahim mereka rusak akibat aborsi. Mereka juga belum merasakan perihnya dihantam penyakit gonorhea, sepilis, yang membuat mereka mungkin meraung-raung, nangis sejadi-jadinya. Mereka terlalu bodoh untuk tahu kalau seks bebas dan LGBT itu mengundang penyakit mematikan macam HIV/AIDS atau kanker anus.

Mereka belum tahu kalau biaya pengobatan penyakit kelamin, apalagi obat HIV/AIDS antiretroviral itu mahal. Amat mahal. Mereka juga terlalu bodoh untuk tahu kalau mereka bisa ketularan berbagai macam penyakit kelamin, termasuk HIV/AIDS juga kanker anus.
Tapi sudahlah, para remaja itu rata-rata anak-anak yang polos, bahkan bodoh, untuk menyadari bahaya itu semua. Yang jadi pertanyaan; sudah sejauh mana peran negara untuk mencegah itu semua? Kalau memang mereka kerja, kerja dan kerja, lalu kenapa jumlah remaja yang terpapar seks bebas dan LGBT terus bertambah? Kenapa penjualan kondom di kalangan anak muda makin besar? Kenapa kehamilan di usia remaja dan angka remaja mengaborsi kandungan terus naik?

Berapa banyak edukasi yang diadakan negara setiap tahun? Setiap bulan? di tiap sekolah, kampus, dll? Yang ada pemerintah terus terusan mengedukasi anak muda agar jangan menikah dini, tapi pernahkah pemerintah mengedukasi bahayanya pacaran? Bahayanya perzinaan dan LGBT?

Harusnya peringatan bahaya seks bebas dan LGBT dilakukan negara secara masif sebagaimana kampanye melawan terorisme dan radikalisme. Seks bebas dan LGBT itu menghancurkan masa depan suatu bangsa. Silakan diitung berapa jumlah warga usia produktif yang sudah terpapar HIV/AIDS, semakin lama semakin bertambah. Bukankah ini ancaman buat masa depan negeri kita?

Yang kami ingat Presiden Jokowi dan sejumlah menteri justru meminta rakyat agar melindungi kaum LGBT. Alasannya mereka juga manusia? Apa-apaan ini? LGBT itu bukan kelainan jiwa, bukan penyakit seperti kanker, tapi perilaku menyimpang. Dalam Islam pelaku LGBT itu dimasukkan sebagai pelaku kriminal yang sanksinya berat, karena memang menyimpang.

Lalu melihat banyak remaja yang bergelimpangan hamil, terpapar penyakit kelamin, atau jadi anggota komunitas LGBT, kami jadi bertanya lagi; apakah negara peduli?

Faktanya, yang peduli pada kerusakan moral remaja justru datang mandiri dari warga, DKM, dan ormas-ormas Islam, termasuk Hizbut Tahrir Indonesia. Banyak syabab HTI bergerilya di daerah-daerah, di ibu kota, di sekolah-sekolah, tanpa minta bayaran, tak mencari keuntungan mengedukasi orang tua dan remaja untuk menjauhi perilaku  seks bebas dan bahaya LGBT. Saya sendiri berkali-kali menjadi pembicara untuk mengingatkan keluarga dan remaja dalam soal ini.

Tapi kegiatan edukasi itu baru akan efektif bila negara berperan menata kehidupan sosial masyarakat, khususnya kawula muda. Menutup total tempat-tempat hiburan yang sering menjadi sarang prostitusi dan LGBT. Melarang pergaulan bebas, pacaran, dan menghukum para pelakunya, termasuk menghukum berat kaum gay dan lesbian.

Namun lagi-lagi, negara seperti memandang remeh ancaman seks bebas dan LGBT di masyarakat. Bahkan kaum LGBT hari ini seperti merasa nyaman karena merasa sudah ada perlindungan. Media massa, tokoh parpol, sampai ustadz pun ada yang mendukung keberadaan mereka. Bahkan presiden meminta agar kaum LGBT dilindungi (https://www.bbc.com/indonesia/indonesia/2016/10/161019_indonesia_wwc_jokowi_lgbt)

Saya hanya bisa mengelus dada, bersabar dan terus bekerja keras menyadarkan keluarga-keluarga muslim dan para remaja, akan bahaya hal ini. Karena sepertinya, berharap negara mau lebih peduli, mau lebih masif memberikan perlindungan para warganya sendiri, seperti pungguk merindukan rembulan. Negara sibuk dengan dunianya sendiri, sedangkan rakyat bertahan hidup dengan kekuatan sendiri. Inilah masyarakat autopilot.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.