3 Pembiasaan Perusak Pribadi Anak

[arabic-font]كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيْمَةِ تَنْتِجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟[/arabic-font]

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan yang dilahirkan oleh hewan, apakah kalian melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya?”(HR. Bukhari)

Nash di atas adalah patokan awal dalam pembinaan anak dalam keluarga. Agama Islam menjelaskan bahwa setiap anak terlahir fitrah, yakni kecenderungan untuk hanif, lurus pada agama Allah. Tak ada anak yang terlahir dalam keadaan cacat kepribadian, sampai kedua orang tuanya yang menjadikan anak itu menjadi pribadi yang bermasalah.

Dalam hadits di atas, Nabi SAW. mengatakan, “Apakah kalian melihat pada anak (hewan) ada yang terpotong telinganya?”, sebagai ungkapan bahwa anak itu lahir bersih laksana anak binatang yang lahir dengan telinga yang utuh sampai kemudian pemilik binatang itulah yang memotong telinga hewan tersebut. Dalam keluarga, yang bisa “memotong telinga” anak sampai rusak sudah tentu orang tua.

Pantaslah bila Rasulullah SAW. mendorong orang tua untuk terus mendidik anak-anak dengan pendidikan yang baik.

[arabic-font]لأَنْ يُؤَدِّبَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ[/arabic-font]

Seseorang yang mendidik anaknya maka lebih baik baginya ketimbah bersedekah satu sha (HR. Tirmidzi)

Maka, ketika kita melihat anak tumbuh dengan pribadi negatif seperti pendendam, rakus, selfish, sebenarnya itu tidaklah muncul tiba-tiba. Ada proses ‘penanaman’ akhlak-akhlak negatif yang menahun pada mereka. Berikut ini tiga kebiasaan yang dapat merusak pribadi anak:

1.  Mengajarkan Dendam

Ayah bunda harus bisa membedakan antara self-defense dengan melampiaskan amarah. Dalam beberapa kasus, orang tua bukan mengajarkan pertahanan diri, tapi justru membalas dendam. “Kalau kamu dipukul, pukul lagi saja kawan kamu, nak!” begitu yang sering diajarkan beberapa orang tua pada anak. Tak jarang orang tua seperti ini membiarkan kakak beradik saling memukul, atau berkelahi dengan kawannya, dengan alasan melatih ‘pertahanan diri’. Pepatah bilang, elu jual gue beli. Kalau temen memukul, maka pukul sepuasnya.

Sebenarnya setiap anak sudah punya kemampuan pertahanan diri, spontan ia akan melawan bila merasa terganggu. Tak mengapa mengajarkan anak gerakan bertahan seperti mendorong kawannya yang mengganggu atau memukulnya, tapi bukan membiarkan ia terus menyerang pengganggunya. Namun jauh lebih penting mengajarkan anak-anak untuk hidup rukun dan bersahabat.

Ketika misalnya anak kita dilarang bermain oleh kawannya, justru ajarkan anak kita untuk berbagi dan mengajak kawannya ikut bermain. Biasakan anak kita untuk tetap menjalin pertemanan dan tidak mendendam serta membalas perlakuan kawannya.

 

2.  Selalu Memenangkan Anak

Di antara hal yang merusak pribadi anak kelak, adalah sikap orang tua yang selalu memenangkan anaknya saat mereka berselisih dengan kawannya atau saudaranya yang lain. Saat itu terjadi pahami hal berikut;

  • Pergaulan anak tak lepas dari pertengkaran ya ayahbunda. Itu biasa. Hal yang penting dipahami orang tua adalah jangan mengangkat pertengkaran anak ke level lebih tinggi lagi, apalagi turun tangan bertengkar dengan orang tua lain.
  • Perlu dipahami juga cerita anak tentang pertengkaran tidak ada jaminan 100 persen benar. Anak juga punya self defense, ada kemungkinan ia hanya bercerita kejadian yang akan menguntungkan dirinya. Maka tenangkan diri dan berikan nasihat pada anak untuk bersabar dan ajarkan tata cara berteman.
  • Bisa jadi anak kita menjadi korban, tapi tak ada artinya bila kemudian kita ‘mengadili’ anak tetangga. Orang tua yang punya mental pendidik bukanlah mengambil langkah memenangkan anaknya lalu ‘mengadili’ anak lain, tapi justru menanamkan pengertian pada semua anak tentang pentingnya pertemanan yang sehat dan ukhuwah. Lagipula, tidak semua orang tua terima kalau anaknya diadili oleh orang tua lain. Kalau mereka juga marah, urusan bisa panjang. Weleh-weleh.

 

 3.  Membiarkan Sifat Rakus

Anak senang makan? Tentu orang tua senang. Tapi bukan berarti membenarkan anak untuk makan sesukanya dan sebanyak apa yang ia mau. Penting bagi orangtua mengajarkan anak untuk menahan diri dari keinginan makan

Dari Miqdam bin Ma’dikarib r.a, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidaklah anak Adam memenuhi bejana lebih buruk dari memenuhi perutnya. Cukuplah bagi bani Adam makanan yang dapat menegakkan tulang rusuknya, kalau tidak boleh tidak (harus memenuhi perutnya) hendaklah 1/3 (perutnya) untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 lagi untuk nafasnya.”

 

Sifat rakus biasanya juga dibarengi dengan sifat buruk lain; enggan berbagi dan tak mau berhenti. Kadangkala anak bolak-balik menyantap makanan yang ia suka, bila orang tua sudah paham tabiat kurang baik pada anak, maka harus mendisplinkan anak untuk menghentikan kebiasaannya ini. Nabi SAW. mencela orang yang makan seolah tanpa henti.

[arabic-font]اَلْمُؤْمِنُ يَأكُلُ فِي مِعً وَاحِدٍ، وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِيْ سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ[/arabic-font]

Orang kafir makan dengan tujuh usus, sedangkan orang mukmin makan dengan satu usus.”

Pantau terus pola makan anak agar tidak menjadikan makan berlebih sebagai habit. Ingatkan juga mereka bahwa pada makanan itu ada hak orang lain sehingga harus mau berhenti, dan mau berbagi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.