Pahami Gaya Komunikasi Suami

Bagi pasangan suami-istri gaya komunikasi rentan menjadi penyebab konflik. Mulai dari ribut kecil hingga berujung pada perceraian, bisa berawal dari dari miskomunikasi. Hanya gara-gara keliru menangkap mimik wajah pasangan, keributan bisa dimulai. Sampai yang paling fatal adalah keliru menangkap maksud pembicaraan pasangan.

Para suami dan istri yang dimuliakan Allah SWT., pria dan wanita diciptakan sebagai manusia yang punya potensi kehidupan yang sama. Ada kebutuhan jasmani dan ada juga naluri. Namun pria dan wanita punya cara berpikir dan komunikasi yang ternyata berbeda.

No. ini bukan karena otak mereka berbeda sebagaimana teori yang banyak berkembang, yang menyebutkan otak pria dan wanita berbeda yakni dalam penggunaan bagian ‘kanan’ dan ‘kiri’. Penelitian terakhir menunjukkan pria dan wanita punya otak yang sama (https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20151203091356-277-95659/otak-pria-dan-wanita-ternyata-tak-jauh-berbeda/).

Tapi memang Allah memberikan cara berkomunikasi yang berbeda di antara pria dan wanita. Sebagai contoh ketika wanita sudah kesal pada suaminya, maka ia menggunakan gaya bahasa ala ‘karet gelang’ pada suaminya. Misalnya ia akan bilang, “Ya sudah, kalau kamu begitu, aku pulang saja ke rumah orang tua!” Sebenarnya tidak sedang benar-benar ingin pulang ke rumah orang tuanya. Dengan gaya bahasa itu, istri sesungguhnya meminta agar suami berubah menjadi lebih baik, lebih sayang, lebih perhatian padanya, bahkan dalam hatinya ia minta agar suaminya mendekati dan memeluknya. Inilah logika komunikasi ‘karet gelang’; tarik dan ulur. Hanya saja, bagi lelaki ucapan itu bisa menandakan ‘tantangan perang’. Andai suami tengah kalap, bukan tidak mungkin ia akan mengantar atau malah menyuruh istrinya pulang. Beneran.

Tapi pada artikel ini saya mengajak para istri untuk belajar lebih memahami gaya komunikasi suami. Semoga ini membantu komunikasi kita dengan pasangan, sehingga bisa saling mengerti dan bukan saling membenci.

1.  Pria berbicara seperlunya, sedang bagi wanita bicara itu adalah hiburan. Ketika anak perempuan saya sudah menjelang baligh saya semakin menyadari bahwa ia senang ngomong. Saat saya tanya satu hal jawabannya bisa dua lembar halaman pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini yang tidak saya temui pada dua anak lelaki saya yang sudah beranjak baligh. Mereka benar-benar bicara ketika merasa hal itu perlu dibicarakan. Terkadang ceritanya panjang, tapi lebih sering ringkas.

Karenanya para istri jangan galau ketika sudah panjang x lebar mengirim chat tapi jawaban dari suami hanya “oke”, “iya, beb” atau “Sebentar lagi ya”. Pria memang berkomunikasi seperlunya, tidak akan berpanjang cerita bila memang ia merasa tak perlu. Jadi, jangan tenggelam dalam asumsi sendiri yang negatif ketika suami lebih sering irit dalam berkata-kata.

2.  Pria lebih mudah paham bahasa yang lugas, bukan berkamuflase. Ketika ia lapar dan mengajak kawannya makan, pria akan bilang, “Aku lapar, kita makan yuk?” Gaya bahasa pria memang lugas. To the point. Sementara wanita sering bicara dengan gaya bahasa samar karena ada perasaan malu. Saat perempuan lapar dan mengajak suaminya makan, maka pertanyaannya, “Kamu lapar nggak, Yang?” maksudnya ia sendiri yang lapar.

Gaya bahasa perempuan yang samar ini seringkali membuat miskomunikasi. Andai tak belajar untuk saling memahami bisa berujung keributan.

3.  Pria akan menyendiri ketika ada masalah, sedangkan perempuan akan bercerita. Masih aktivitas tahannuts atau berkhalwatnya Rasulullah SAW. di Gua Hira? Ketika merasa bahwa masyarakat Mekkah punya masalah dengan tatanan kehidupan sosial, Beliau tidak mengajak istrinya, Khadijah ra., berdiskusi, tapi memilih untuk menyendiri di Gua Hira. Memikirkan solusi yang bisa dilakukan.

Pria umumnya demikian. Saat menghadapi masalah suami cenderung akan diam, berpikir mencari solusi sendiri. Mereka enggan melibatkan orang lain termasuk istri untuk mencari jalan keluar. Biasanya akan duduk di kursi favorit, di teras atau belakang rumah, mengurus tanaman tanpa bicara, dll. Namun dalam keadaan itu otak mereka berputar kencang mencari solusi.

Kadangkala mereka juga main game untuk relaksasi. Sungguh, dalam kondisi ini suami terlihat amat menyebalkan. Egois dan seperti marah pada istri. Sebenarnya tidak.

Dalam kondisi ini istri baiknya memberi kesempatan suami untuk berada dalam pikirannya sendiri untuk sementara waktu. Mengajak mereka membicarakan persoalan malah bisa membuat mereka tersinggung.

Beri pijatan ringan pada pundak atau kepala suami, buatkan minuman kesukaannya, lalu bisikkan pada telinganya, “Lelah ya, sayang? Aku ada di ruang sebelah ya kalau kamu perlu aku.” Kemudian tinggalkan ia sementara waktu. Tidak berapa lama Anda, para istri, akan terkejut mereka sudah kembali hangat dan ceria. Berarti masalah mereka sudah terselesaikan.

Apakah mereka sama sekali tak mau membahas persoalannya dengan pasangan? Ada waktunya mereka mau membahas saat merasa memang Anda berkompeten pada masalah yang ia hadapi.

Incoming search terms:

  • mbangun kluarga ideologis/iwan januar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *