Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?

Persoalan nafkah memang menjadi salah satu sebab pemicu kisruh dalam rumah tangga. Di antarnya karena istri meminta nafkah yang berlebih, bukan saja kebutuhan pokok. Istri meminta agar suami juga memberikan nafkah sekunder-tersier bahkan lux, atau hajat al-kamaliyyah. Bagaimana sebenarnya solusi Islam dalam masalah ini? Benarkah suami wajib memberikan keseluruhan nafkah yang dirasa penting oleh istri?

Pernikahan dan keluarga dalam Islam punya aturan unik yang bertujuan menciptakan kehidupan tumaninah. Aturan ini pastinya bukan datang dari kesepakatan suami dan istri, atau pemaksaan oleh salah satu pihak. Akan tetapi diturunkan oleh Allah SWT. yang memang Pencipta manusia, dan Mahatahu aturan yang terbaik, agar tak terjadi kezaliman dalam antar anggota keluarga.

Di antara aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala adalah mewajibkan suami/ayah sebagai pencari nafkah. FirmanNya:

Kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. (TQS. Al-Baqarah: 233)

Juga firmanNya:

Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. (TQS. Ath-Thalaq: 6).

Pemberian nafkah ini berdasarkan dari firman Allah di atas mencakup kebutuhan sandang, pangan dan juga tempat tinggal. Keseluruhan nafkah ini tidak boleh diberikan sembarangan, tapi harus secara ma’ruf sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Baqarah: 233. Doktor Wahbah az-Zuhayli dalam Fiqh Islam wa Adillatuhu juz 7 berpendapat ada tujuh hak istri yang wajib dipenuhi suami; makanan, pakaian, bahan-bahan masakan, peralatan kebersihan, perabot rumah tangga, tempat tinggal, pembantu bila memang dibutuhkan untuk membantu istri.

Hukum syara’ menetapkan semuanya mesti dipenuhi dengan ma’ruf. Imam ath-Thabariy menjelaskan makna ma’ruf adalah dengan apa yang wajib sepadan baik bagi istri maupun bagi suami. Rasulullah SAW. pernah ditanya oleh sahabat tentang kewajiban nafkah pada istri. Beliau menjawab;

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ

Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah (HR. Abu Daud).

Hukum syara’ sengaja tidak memberikan batasan kualitas dan kuantitas nafkah bagi istri. Allah SWT. justru memberikan panduan yang amat baik yakni sebatas apa yang sanggup diberikan suami pada keluarga sebagaimama firmanNya:

Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. (TQS. Al-Baqarah: 233)

Imam ath-Thabari menjelaskan makna ayat di atas; Tidaklah (Allah) membebani seseorang dengan berbagai urusan kecuali dengan apa yang tidak menyempitkan dirinya, tidak sukar baginya keberadaan perkara tersebut jika orang itu menghendakinya…Allah tidak mewajibkan bagi seorang pria menafkahi anak-anaknya yang masih menyusui pada istrinya melainkan dengan apa yang mereka sanggupi dan ada jalan untuk menempuhnya. Sebagaimana firman Allah yang lain:

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan (TQS. Ath-Thalaq: 7)

Ini adalah hukum yang terbaik bagi manusia, khususnya kaum muslimin. Allah tidak menetapkan batas-batas tertentu secara spesifik karena Allah Mahatahu kondisi hamba-hambaNya ada dikaruniai keadaan kaya maupun yang fakir, dan bahwasanya di antara mereka ada yang lapang rizkinya dan ada pula yang sempit.

Doktor Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya juga menyebutkan bahwa batasan dasar nafkah bagi keluarga adalah berdasarkan adat kebiasaan negeri yang bersangkutan. Batasan nafkah yang ma’ruf bagi masyarakat Eropa dan Arab juga Indonesia tentunya berbeda. Di negara-negara beriklim dingin adanya pemanas ruangan termasuk bagian yang wajib diadakan oleh para suami. Jenis makanan yang harus dipenuhi juga berbeda pada setiap wilayah ataupun bangsa.

Yang jelas, jika seorang suami menahan nafkah keluarga yang wajib menjadi tanggungannya maka ia berdosa. Sabda Nabi SAW.:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوْتُ

Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang wajib ia beri makan (nafkah).

Maka, bolehkan seorang istri menuntut nafkah sekunder bahkan tersier (lux) dari suaminya, juga untuk anak-anaknya? Misalnya meminta kendaraan ber-cc besar atau mewah, tempat tinggal permanen juga eksklusif dan bukan kontrakan, atau menuntut agar anak-anak mereka bersekolah di sekolah unggulan yang berbiaya lebih mahal dan bukan sekolah negeri?

Jawabannya adalah bila memang suami memiliki kelapangan rizki dan tak ada prioritas yang lebih utama menurut syariat, boleh saja suami meloloskan permintaan istrinya. Membelikan hunian permanen di cluster mewah, memberikan kendaraan yang ekslusif, termasuk menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan yang mahal.

Namun bila ternyata suami tak memiliki kecukupan rizki untuk memenuhi kebutuhan sekunder apalagi tersier, maka tak ada kewajiban bagi suami untuk memaksakan diri memenuhi keinginan istri dan anak-anaknya. Istri pun tak boleh memaksa apalagi mengancam suami untuk memenuhi keinginnanya. Hal ini ditetapkan oleh Allah SWT.:

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan (TQS. Ath-Thalaq: 7)

Suami berkewajiban menafkahi keluarganya dengan apa yang bisa ia berikan. Saat ia baru mampu memberikan hunian kontrakan pada istrinya, maka itulah batas yang ditetapkan syariat. Begitupula ketika kemampuan finansialnya hanya cukup memasukkan anak-anaknya ke sekolah umum, maka itu adalah nafkah yang diwajibkan Allah SWT. Hukum syara’ tidak menuntut seorang kepala rumah tangga mengeluarkan nafkah di luar kemampuannya, selama ia terus berikhtiar menjalankan usaha dan tidak bermalas-malasan.

Bagaimana bila kemudian istrinya tidak ridlo dengan nafkah suaminya tersebut, karena tak bisa memenuhi keinginannya dalam kebutuhan sekunder dan tersier?

Begini, harus dipahami bahwa pernikahan dalam pandangan Islam adalah menjalin persahabatan antara suami-istri. Benar ada hak dan kewajiban di antara mereka berdua, tapi hubungan yang terbangun bukanlah antara buruh dengan majikan yang salah satu bisa menuntut dari yang lain. Majikan bisa menuntut buruh mengerjakan job desk sesuai akad, dan buruh bisa menuntut majikan memberikan upah dan berbagai jaminan yang telah dicantumkan dalam akad.

Bukan. Dalam pernikahan relasi suami-istri tidaklah demikian. Selain hukum syara’ telah mengatur hak dan kewajiban, Allah SWT. juga menetapkan bahwa suami dan istri adalah sepasang sahabat yang harus saling bantu membantu. Karenanya merupakan amal terpuji bila suami membantu merapikan rumah, sesekali memandikan anak, bahkan memasak atau mencuci pakaian. Sebagaimana istri pun akan dipuji oleh Allah Ta’ala ketika ia belajar memaklumi kondisi finansial suaminya, atau bahkan ia ikut membantu nafkah suami dari harta yang ia miliki termasuk dari nafkah hasil pekerjaannya.

Namun di tengah kehidupan yang makin kapitalistik dan sekuleristik, agama dijauhkan dari kehidupan rumah tangga. Relasi antara suami-istri bukan lagi persahabatan tapi mendekati sebuah perusahaan. Ada hitung-hitungan hak dan kewajiban yang ketat. Ditambah lagi kehidupan hedonis ala kapitalisme sering membius keluarga untuk terpengaruh dengannya. Ingin memiliki tempat tinggal di kawasan elit, kendaraan yang mewah, sekolah mahal bagi anak-anak, rekreasi dan kuliner ke tempat-tempat mewah, dsb.

Islam tidak mengharamkan hal itu, bahkan mempersilakan manusia untuk menikmatinya. Namun ada hukum syara’ yang telah menata tatacara pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Apalagi seorang istri berkewajiban untuk taat dan tidak menyusahkan suaminya. Nabi SAW. bersabda:

لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِىَ لاَ تَسْتَغْنِى عَنْهُ

Allah tidak melihat kepada wanita yang tidak bersyukur pada suaminya dan tidak berupaya mengerjakan sendiri tanpa merepotkan suaminya (HR. al-Hakim)

Nabi SAW. juga mengingatkan para istri tentang keadaan neraka yang banyak dihuni kaum perempuan. Ketika hal ini ditanyakan pada Beliau, dijawab:

تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

Kalian banyak melaknat (suami) dan mengingkari (tidak berterima kasih) pada suami. (HR. Bukhari).

Pesan Rasulullah SAW. kepada para wanita amat penting untuk dicamkan. Bahwa di antara kemaksiatan kaum perempuan bukan saja karena mengabaikan shalat, mengabaikan dakwah, tapi karena sikap buruk pada suami, termasuk memaksa suami memberikan nafkah diluar kebutuhan pokok.

Bersabarlah para istri dalam hidup bersama suami. Syukuri apa yang telah Allah karuniakan lewat tangan suami. Keinginan yang tak bisa dipenuhi suami, mintalah pada Allah SWT. Dialah sebaik-baik Pemberi rizki dan Mahatahu rizki yang terbaik bagi hamba-hambaNya. Jadikanlah jannah sebagai tujuan kenikmatan hidup, bukan kemewahan dan keinginan di dunia.

Incoming search terms:

  • Gambar tangan menantang
  • aturan aturan sekunder dlm islam
  • Hukum islam dalam memenuhi kebutuhan primer tersier dan sekunder
  • istri harus bisa mengatur kebutuhan primer dan sekunder
  • kedzholiman suami kepada istri yg tidak pernah dirasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *