Tragedi Rohingya & Pelajaran Empati Untuk Anak-Anak Kita

 

Ingin tahu banyak kondisi sosial masyarakat? Lihatlah dunia media sosial, kita akan dapat gambaran cukup seberapa tinggi atau rendah jiwa sosial publik. Dan hari ini di medsos siapa saja yang jernih pikirannya akan mengelus dada karena ribuan status yang bersliweran menunjukkan negeri ini miskin jiwa sosial yang luhur.

Dalam menyikapi tragedi warga Rohingya di Myanmar, berbagai ujaran yang menyiratkan miskinnya empati bertebaran di medsos. Mulai dari yang halus sampai yang sarkastis. Ada yang mencoba menyalahkan warga muslim Rohingya, ada juga yang menyebut itu bukan genosida atas nama agama, ada juga yang menyebut muslim yang marah pada rezim Myanmar sebagai orang ‘sumbu pendek’ atau ‘kepala korek api’. Gambaran untuk muslim yang gampang marah.

Reaksi pejabat di negeri ini atas genosida warga Muslim Rohingya juga menunjukkan tipisnya empati. Menkopolhukam Wiranto misalnya berkomentar “Peristiwa Rohingya tak perlu diributkan di dalam negeri” atau misalnya, “Tak usah menjelekkan bangsa sendiri pakai isu Rohingya”. Ujaran-ujaran semacam itu keluar setelah banyaknya status dari netizen dalam negeri yang meminta pemerintah RI yang notabene negeri muslim untuk bertindak lebih, bukan sekedar mengecam. Sebagian status netizen juga mengkritisi – dalam bahasa agama namanya amar maruf nahi munkar – rezim Jokowi yang dinilai lamban.

Komentar lain yang tidak sinkron dengan tragedi Rohingya juga datang dari Kapolri. Ia mengatakan, “Ada yang ‘menggoreng’ isu Rohingya untuk menyerang Presiden Jokowi.” Pernyataan itu dalam pandangan saya selain tidak tepat, juga menunjukkan isi hati pejabat yang tidak memahami tingginya empati dan tingginya ikatan emosional muslim di tanah air pada saudara mereka di Rohingya. Sebagai rakyat, wajar bila mereka menuntut pemerintahnya melakukan tindakan nyata guna menghentikan aksi genosida tersebut. Apakah ketika seorang anak yang kesal pada ayahnya yang mengelak dari kewajiban menafkahinya, bisa dibilang menjatuhkan kewibawaan sang ayah? Bukankah justru ayahnya sendiri yang menjatuhkan wibawanya sendiri?

Dalam dunia psikologi rendah atau miskinnya empati dinamakan Empathy Deficit Disorder (EDD). Douglas LaBier Ph.D. dalam tulisannya di situs psichologytoday.com, mengatakan bahwa pada otak manusia ada area dimana melibatkan emosi dan fisik yang akan memberikan sensasi ketika seseorang melihat penderitaan orang lain. Gampangnya, kita akan merasakan penderitan atau emosi orang lain saat melihatnya. Ketika melihat seorang anak meratapi ibunya yang meninggal, atau seorang kakek renta yang terseok-seok memanggul dagangannya yang tak kunjung laku, harusnya membuat orang yang melihatnya terbawa emosi. Sama seperti ketika melihat seorang ibu yang gembira melihat kelahiran anaknya, atau seorang anak riang karena jadi juara kelas, semestinya person yang melihatnya ikut terbawa senang.

Tapi mengapa foto-foto, berita, cuplikan rekaman derita muslim Rohingya ternyata tidak bisa menggerakkan emosi sebagian orang? Malah muncul reaksi berkebalikan; bukannya marah atau ikut merasa pilu, tapi justru menuduh yang bukan-bukan?

Douglas LaBier Ph.D. menyebutkan empati itu adalah sesuatu yang harus dibangun. Awalnya empati adalah karakter dasar manusia, seperti pada bayi yang bisa ikut tertawa atau menangis melihat ekspresi orang tuanya. Namun pada tahap selanjutnya perlu upaya untuk membangun empati. Orang yang tak pernah membangun kedalaman dan keluhuran level empatinya, maka semakin sulit untuk peka pada keadaan orang lain. Ia akan menjadi sosok antisosial, keras kepala dan keras hati. Hatinya tak gampang tergerak ketika melihat derita orang lain di hadapannya.

Empati juga bisa dibangun secara selektif. Ketika seseorang atau suatu bangsa menempatkan orang lain atau bangsa lain sebagai musuh, maka sinyal empati pada otak mereka sudah di-off-kan. Para diktator seperti Hitler, Mussolini, Lenin, misalnya, sudah mematikan empati mereka pada korban-korban yang mereka musnahkan. Dalam otak mereka, para korban itu adalah penghalang revolusi, musuh nyata, maka patut dimusnahkan.

Jadi orang-orang dan pejabat yang berkomentar negatif pada tragedi Rohingya, atau Suriah, atau Palestina, mereka melakukan empati-selektif. Bagi pelaku empati-selektif itu, para korban berbagai tragedi – meski dijagal hidup-hidup, dibakar, diperkosa, mati tenggelam di samudera – hanya mengusik sedikit rasa empati. Sebabnya, mereka bukan ‘kelompok orang’ yang patut diberi empati.

Reaksi yang berbeda muncul ketika yang menjadi korban adalah kelompok yang menurut tingkat selektifitas mereka, patut diberikan empati, seperti kaum LGBT atau hewan. Itu terjadi karena mereka sudah membuat filter dalam diri mana yang patut diberikan empati dan mana yang tidak.

Lalu apa yang salah?

Yang salah adalah pemahaman yang mereka pakai untuk menakar empati. Benar, empati itu tabiat dasar manusia. Perwujudan dari naluri pertahanan diri juga kasih sayang. Namun pemahaman demi pemahaman yang masuk dalam diri suatu masyarakat atau seseorang yang pada akhirnya akan menentukan tingkat empati dan bentuk empati. Ketika yang masuk adalah pemahaman anti-Islam dengan landasan sekulerisme, maka sifat kemanusiaan mereka akan terkikis. Muncullah Empathy Deficit Disorder. Jangan heran ada orang yang bisa menjual kegadisan anak perempuannya untuk memperkaya diri. Atau menjual agama dan negaranya untuk kepentingan diri dan kelompok. Dalam masyarakat yang sudah menganut falsafah sekulerisme, gangguan EDD itu akan terus meningkat.

Kita bisa lihat banyak kebijakan pemerintah hari ini yang minim empati. Kebijakan pembangunan yang tidak memperlakukan rakyat sebagai manusia, tapi sebatas angka dalam hitungan statistik. Untuk penataan kota, maka pemukiman warga digusur lalu direlokasi ke rusunawa. Padahal penggusuran itu bukan saja menghilangkan tempat tinggal yang sudah jadi hak milik mereka, tapi juga akses ekonomi dan sosial. Lalu ketika mereka mengalami kesulitan ekonomi tinggal di rusunawa, dan kesulitan juga membayar uang sewa, mereka juga dipaksa keluar. Bukankah ini kebijakan yang amat miskin empati?

Demikian pula dalam tragedi Rohingya, para pemimpin dunia – khususnya dunia Islam – sudah miskin empati, atau mempraktekkan empati-selektif. Saat empat orang redaksi Charlie Hebdo yang menghina Nabi Muhammad terbunuh oleh muslim yang marah, hampir semua pemimpin dunia turun ke Paris melakukan rally. Tapi ketika muslim Suriah, Uighur, Palestina, dan Rohingya dibantai – padahal jumlahnya ribuan –, tak ada satupun yang turun.

Begitu pula para pemimpin muslim tak ada yang menunjukkan empati nyata selain beraksi lewat retorika. Terus menerus melakukan diplomasi atau bantuan donasi, tapi tak mencegah aksi genosida.

Karenanya, jangan gagal dan salah membina empati diri dan anak-anak kita. Jangan sampai anak-anak kita tumbuh sebagai kelompok manusia yang miskin empati, atau punya empati-selektif yang kacau. Nangis ketika Raisa-Hamish Daud menikah, tapi tak peduli saudara seimannya dibantai di Myanmar. Inilah yang disebut al-Qur’an sebagai hati yang lebih keras dari batu. Hati yang mati. Kering dari kasih sayang dan hidayah.

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan (TQS. al-Baqarah: 74)

Mulailah dengan menanamkan kecintaan pada Allah, pada RasulNya dan umat Islam. Ajarkan apa arti ukhuwah Islamiyyah, sayang pada sesama termasuk bukan muslim dan juga aneka hewan. Buat mereka jadi anak-anak yang mudah meneteskan air mata melihat derita saudaranya. Agar batin mereka kaya dengan rahmat Allah SWT.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *