
Industri hiburan di dunia Barat memang rawan eksploitasi seksual. Para pelaku umumnya adalah mereka yang punya kedudukan penting di dunia entertainment. Menentukan karir seorang artis atau calon artis. Mereka menjebak para korban dengan menjanjikan karir dan penghasilan yang bagus untuk kemudian dijadikan budak seksual.
Selama berpekan-pekan industri hiburan khususnya musik di Amerika Serikat diguncang skandal kejahatan seksual yang melibatkan rapper dan produser musik papan atas, Sean Combs aka P Diddy. Musisi peraih tiga grammy award dan produser yang melejitkan sejumlah penyanyi terkenal seperti Usher, The Notorius B.I.G, Marie J Blige, dijerat sejumlah dakwaan berat; kepemilikan narkoba, perdagangan seksual, dan kekerasan seksual.
Sebelumnya, pemilik label rekaman Bad Boy Records ini lolos berkali-kali dari tuduhan tindakan kekerasan seksual dan narkoba. Namun kali ini puluhan bahkan ratusan korban mengajukan tuntutan. Semuanya nyaris sama; pemaksaan pemakaian narkoba, kekerasan seksual, penganiayaan dan prostitusi.
Sebelum kasus P Diddy mencuat, industri hiburan di Amerika Serikat juga dikejutkan dengan prostitusi perempuan di bawah umur yang melibatkan sejumlah nama selebriti papan atas, politisi dan akademisi terkemuka, hingga keluarga kerajaan Inggris.
Adalah Jeffrey Epstein, pengusaha kaya raya, miliarder, merangkap mucikari yang memperdagangkan remaja dan model di bawah umur kepada klien-kliennya yang rata-rata publik figur terkenal. Dalam kasus Epstein dikaitkan dengan sejumlah nama seperti pesulap David Copperfield, Michael Jackson, Bruce Willis, Leonardo DiCaprio, mantan presiden AS Bill Gates dan Donald Trump, Profesor Hukum Harvard Alan Dershowitz yang terkenal di bidang hukum pidana AS, Pangeran Andrew dari Kerajaan Inggris, sampai fisikawan Stephen Hawking.
Ada lagi nama Harvey Weinstein yang kini mendekam di penjara karena dilaporkan ratusan perempuan yang mengaku menjadi korban kekerasan seksualnya. Weinstein bukanlah nama sembarangan. Dia pendiri studio film raksasa Miramax. Film-film terkenal seperti Pulp Fiction, Clerks, The Crying Game, dan Sex, Lies, and Videotape. Dia juga mendapatkan penghargaan Academy Award menjadi produser film Shakespeare in Love.
Karenanya, bagi banyak orang Harvey bak dewa. Dia bisa meroketkan karir keartisan seseorang dalam sekejap, atau menghancurkannya. Karena kekuasaan itulah dia seperti bebas mengeksploitasi bintang film perempuan, terutama di awal karir mereka. Nama-nama terkenal seperti Angeline Jolie, Rose McGowan, Gwyneth Paltrow adalah deretan artis papan atas yang pernah menjadi korban pelecehan seksual Weinstein.
Dunia Kaum Pedofil
Industri hiburan di dunia Barat memang rawan eksploitasi seksual. Para pelaku umumnya adalah mereka yang punya kedudukan penting di dunia entertainment. Menentukan karir seorang artis atau calon artis. Mereka menjebak para korban dengan menjanjikan karir dan penghasilan yang bagus untuk kemudian dijadikan budak seksual.
Selain prostitusi, Hollywood yang riuh dengan hiburan dan popularitas, bertahun-tahun menjadi sarang kaum pedofil. Hal ini diakui Elijah Wood, aktor pemeran Frodo dalam trilogi film Lord of The Ring. Ia mengaku beruntung dilindungi ibunya dari para pemangsa aktor-aktor cilik yang ingin mendapat peran di dunia film. Sementara banyak anak-anak dibawa orang tuanya ke dunia hiburan untuk menjadi bintang terkenal, ironisnya justru dimangsa kaum predator seksual.
Platform film Netflix pernah menayangkan serial dokumenter berjudul Jimmy Savile: A British Horror Story. Film ini menceritakan sisi gelap presenter televisi Inggris terkenal bernama Jimmy Saville. Ia pernah dianggap sebagai tokoh pertelevisian yang dihormati dengan pujian dari berbagai platform di seluruh bangsa karena keeksentrikan dan kedermawannya. Bertemu berbagai tokoh dunia seperti PM Margaret Thatcher dan keluarga Pangeran Charles. Bahkan Kerajaan Inggris memberikan gelar bangsawan untuk Saville.
Setelah kematiannya pada 29 Oktober 2011 lalu, terungkap kalau Jimmy Saville bukan hanya seorang predator seksual, tetapi juga pelaku kejahatan seksual yang ganas di Inggris. Lelaki ini bertahun-tahun sukses menipu pemirsa. Diperkirakan ada seribuan korban kejahatan seksual Saville dengan jumlah paling besar adalah anak-anak.
Hal yang mencemaskan adalah belum terungkap siapa yang selama ini membantu dan melindungi Saville. Tidak mungkin presenter ini sendirian melakukan banyak kejahatan seksual lalu berhasil membungkam para korbannya. Pasti ada kekuatan besar yang melindunginya.
Rusaknya Peradaban Barat
Fakta-fakta bejat yang terungkap diduga baru permukaannya belaka. Masih banyak kasus-kasus kejahatan seksual, pedofil dan narkoba di lingkaran dunia hiburan di Barat, khususnya Hollywood. Semua dengan pola yang sama; relasi kuasa, uang, ketenaran, dan circle yang melibatkan sosok kuat yang nyaris tidak tersentuh.
Puff Diddy, Weinstein, Jefrrey Einstein atau Jimmy Saville adalah nama-nama besar dan punya relasi dengan orang-orang kuat yang melindungi mereka. Saville yang bertahun-tahun mengisi satu acara di BBC Inggris seperti mendapat privilege. Orang yang mengusiknya justru disingkirkan. Begitupula Weinstein. Ketika aktris Rose McGowan berusaha melaporkannya, ia malah mengintimidasi manajer sang aktris yang diduga jadi penyebab sang manajer melakukan bunuh diri.
Alasan kuat mengapa para predator yang bejat itu seolah mendapatkan proteksi adalah karena mereka ibarat ayam petelur emas yang membagikan keuntungan jutaan dolar bagi para pemodal dan petinggi di dunia hiburan. Maka meskipun para pengusaha dan petinggi itu tahu kebejatannya, mereka tetap dipertahankan. With all cost.
Lebih parah lagi, di antara predator yang berhasil masuk ke dalam lingkaran tokoh-tokoh terkemuka, memanfaatkan situasi ini untuk menjebak para tokoh tersebut. Epstein misalnya, diduga kuat memiliki rekaman seksual sejumlah relasinya yang terdiri dari para selebriti papan atas, politisi, akademisi hingga keluarga kerajaan. Hal ini menjadi tameng baja yang tebal agar ia tidak tersentuh hukum.
Fenomena ini adalah bagian dari rusaknya peradaban Barat yang melahirkan liberalisme. Dengan asas sekulerisme, dimana agama tidak lagi dipedulikan, lahirlah kebebasan yang dijamin dengan kekuatan hukum dan politik demokrasi. Jadi kebejatan moral itu bukan hanya bersifat individual, tapi sudah berupa perbudakan seksual dan pedofilia besar-besaran.
Bagaimana di Indonesia? Beberapa tahun silam seorang pimpinan redaksi tabloid hiburan bercerita di salah satu tivi swasta, kalau ia pernah didatangi seorang ibu yang membawa anak gadisnya. Sang ibu menyerahkan total sang anak pada produser asalkan dimasukkan dalam dunia entertainmen. Ternyata, bukan saja ada orang yang jadi korban disana, tapi ada juga yang dikorbankan atau mau juga dikorbankan demi tumbal dunia hiburan.
Sementara itu, banyak orang yang tidak tahu bahaya dibalik gemerlapnya industri hiburan, menatap dengan penuh takjub dan ingin mendapatkan bagian di sana. Padahal, di dalamnya banyak orang yang sebenarnya berdarah-darah karena dieksploitasi tenaganya dan juga kehormatannya.
Jadi, butuh bukti apalagi untuk melihat kerusakan sistem demokrasi dan peradaban Barat? Kurang bukti apalagi kalau hanya Islam yang memberikan perlindungan terhadap kehormatan, terutama pada kaum perempuan. Selain memberikan pencegahan, Islam juga punya perangkat hukum untuk menghukum semua pelaku kejahatan. Secara adil dan tegas.

Leave a Reply