Harga Diri

tangan di atasHampir setiap waktu ada saja orang yang datang ke rumah ibu saya untuk meminta bantuan. Ada yang meminjam uang, ada juga yang meminta beras, padahal ibu dan ayah saya bukan orang yang kaya banget, meski untuk makan alhamdulillah selalu ada. Biasanya ibu memberi kepada mereka bantuan ala kadarnya tergantung orangnya dan apa yang ada di rumah.

Ada beberapa orang yang seperti ‘rutin’ datang meminta bantuan ke rumah ibu, karena memang mereka membutuhkan. Tapi dari sekian orang yang datang ada satu bapak yang ibu saya selalu ingat. Setiap datang ia memang berkata akan meminjam uang kepada ibu saya, dan ternyata ia menepati janjinya.Ia selalu mengembalikan uang yang ibu pinjamkan kepadanya meski itu dalam tempo yang lama. Padahal uang yang dipinjam tidak besar-besar amat dan ibu saya pun sudah mengikhlaskannya andai tak kembali.

Mendengar cerita ibu saya tertegun kagum. Ternyata tidak semua orang miskin itu juga miskin harga diri. Banyak di antara mereka yang tetap berjiwa besar dan bersikap iffah, menjaga kehormatan diri. Ketika berjanji mereka ternyata memang menepatinya. Kesulitan hidup tidak mengikis keluhuran pribadi orang-orang seperti itu. Bagi bapak tadi harga diri jauh lebih mahal ketimbang uang beberapa ribu rupiah.

Saya bandingkan dengan para pengemplang dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) yang mencapai triliunan rupiah, mana harga diri mereka? Setelah dana bantuan cair merekapun minggat entah kemana. Padahal mereka dulunya dipandang sebagai orang terhormat, punya kedudukan dan kekayaan.

Saya juga teringat dengan anggota dewan kita yang sering bolos padahal mereka sudah mendapat amanah dari rakyat dan digaji dari uang rakyat. Padahal mereka juga orang-orang yang terhormat, atau setidaknya berusaha untuk terhormat. Tapi dimana kehormatan mereka setelah itu? Lalu bagaimana bisa mereka mendapat kepercayaan lagi dari rakyat? Ironinya sebagian dari mereka juga berasal dari parpol Islam.

Amal sederhana bapak tadi membuat saya percaya bahwa kehormatan itu tidak mesti datang ketika kita sukses secara materi dan dimuliakan banyak orang. Biarpun kita tak punya apa-apa, dan tak ada yang peduli pada apa yang kita kerjakan, kita tetap bisa – dan  harus  bisa – menjadi orang yang terhormat. Menjaga harga diri, tepat janji, serta menjaga ucapan dan perbuatan kita.

“dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi, yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya.”(QS. Al-Mu’minun: 8-11)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.