Biarlah Hanya Allah Yang Mahatinggi

“Pak masih ingat saya?” tanya seorang anak muda di satu toko di Bogor, tepatnya kawasan Jembatan Merah, Merdeka. Saya tertegun. Coba mengingat-ingat siapa pemuda ini.

“Saya dulu mahasiswa bapak. Masih ngajar, Pak?” ia coba bantu saya. Tapi sebegitu keras saya berusaha mengingat, saya gagal. Bisa saja saya beralasan kalau mahasiswa yang pernah saya ajar itu kan banyak. Datang silih berganti setiap tahun.

Namun saya tak tega. Wajahnya berharap agar saya mengingat dia. Akhirnya yang bisa saya lakukan adalah memberinya senyum dan menanyakan kabarnya. Dia pun menjawab tapi kelihatan agak kecewa saya tidak menyebut namanya. Astaghfirullah.

Kali lain ada seorang ibu di satu kota di luar Jawa yang juga mengajukan pertanyaan sama, “Ingat saya, Pak Iwan?” Aduh, maafkan saya, bu. Saya benar-benar blank. Saya hanya  bisa tersenyum dan menanyakan kabarnya dan mendoakannya. Padahal sang ibu sudah bercerita kalau dulu pernah tinggal di Bogor, pernah bersama satu pengajian.

Karenanya pernah anak lelaki saya mencandai saya, “Ayah nggak tahu kan siapa dia?” Itu dia katakan ketika ada seorang bapak yang tersenyum dan mengajak saya berjabat tangan, dan menyebut nama saya, “Eh, kang Iwan.” Saya balas senyuman dan jabatannya, meski saya lupa siapa dia. Mendengar candaan si sulung, saya hanya bisa senyum-senyum tak tahu mau jawab apa.

Terus terang bukan pengalaman menyenangkan bila bertemu orang yang berusaha mengingatkan saya tentang dia, tapi saya gagal menyebut namanya, atau bahkan mengingat dimana dan kapan pernah bertemu. Bagi saya itu memalukan. Karena saya pun mungkin akan punya perasaan sama, ketika mencoba menyapa seseorang tapi yang bersangkutan tak mengenali saya, apalagi tidak mengacuhkan saya. Wow.

Dan itu pernah saya alami. Suatu hari saya bertemu seseorang yang sebenarnya sudah saya kenal bertahun-tahun, namun kemudian jarang bertemu. Saya dengar dia sukses dalam karirnya. Ketika bertemu tak ada ucapan salam, jabatan tangan, bahkan senyuman. Saya heran. Ada apa ini? Apakah saya punya utang yang belum dibayarkan? Namun saya dengar beliau memang selama ini demikian, kecuali pada orang-orang yang punya kedudukan, terhormat, berjasa padanya, barulah dia akrab bahkan tak sungkan mengirimkan bantuan uang, gift, dsb.

Ah, masa, kita harus demikian? Merasa tak pantas ramah pada semua orang? Terutama pada mereka yang melarat? Islam yang saya pahami tidak demikian.

Saya buat tulisan ini sebagai pengingat bagi saya dan sahabat semua, untuk mewaspadai bisikan syetan untuk membuat kita lupa daratan, dan menjadi orang yang tinggi hati, al-kibr. Di antara tanda al-kibr yang disebutkan Nabi adalah merendahkan orang lain, termasuk melupakan orang lain. Enggan menyapa, mengucapkan salam, melepaskan senyum bersahabat, mengulurkan jabatan tangan, dan saling ziarah.

Karenanya maafkan saya kawan-kawan, bapak-ibu semua, saya sedang berusaha mengingat-ingat lagi siapa saja orang yang pernah saya temui, pernah berkawan dengan saya, pernah belajar bersama apalagi pernah menjadi guru bagi saya.

Jangan sungkan untuk menyapa, mengucapkan salam dan ulurkan jabatan pada saya bila berjumpa. Insya Allah saya akan menyambut dengan hangat, baik saya berhasil mengingat Anda ataupun tidak. Karena, saya juga sedang belajar untuk menjadi teman yang baik, yang hangat bagi Anda, bukan karena sok akrab, tapi karena semata ikuti tuntunan Nabi.

Bukan hal yang sulit untuk tersenyum, mengucapkan salam, berjabat tangan pada sesama muslim. Bahkan amat mudah. Walau saya tahu ada juga orang yang enggan melakukan itu pada semua orang. Ada orang yang lebih memilih mulutnya terkunci, salam tak terucap dan tangan tak terulur untuk menjabat. Tapi, bagi kita, umat Muslim, biarlah hanya Allah yang Mahatinggi. Hanya dia yang berhak sombong, meski kita tahu Allah juga Maha Pengasih dan Penyayang. Masak sih, kita merasa lebih berhak tinggi dan sombong dari Allah? Na’udzubillahi min dzalik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.