Apa Ganjar Tak Tahu Pornografi Itu Merusak?

Seberapa pentingkah seorang pejabat sekelas gubernur mempromosikan pornografi di tengah anak-anak SMA? Menceritakan dirinya penggemar pornografi dan mengapresiasi siswa yang hobi nonton film porno? Terutama di tengah kecemasan orang tua, para pendidik, tokoh agama, Komnas Perempuan dan Komnas Anak akan kejahatan seksual pada anak dan remaja? Bukankah itu sama saja menghancurkan harapan orang tua.

Adalah pernyataan Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, di kanal Youtube Deddy Corbuzier bicara kebiasaannya nonton film porno. Ganjar juga bercerita kalau ia pernah memberi hadiah pada seorang siswa yang dinilainya ‘jujur’ karena mengaku pernah nonton film porno. Siswa itu diganjar laptop oleh Ganjar dengan alasan dia jujur dan punya jiwa leadership. Yang buat miris, kejadian itu dilakukan saat penyuluhan anti radikalisme dan penghayatan nilai-nilai Pancasila. Ambyar.

Di kanal yang kemudian viral itu Ganjar merasa tidak salah menjadi penikmat pornografi. “Salah saya dimana? Wong saya suka kok, saya sudah dewasa dan sudah punya istri.”

Pro-kontra sudah pasti dipanen dari video itu. Dalam budaya liberalisme yang memanjakan hedonisme, moralitas itu nisbi. Tak ada yang fix. Kita bisa bilang itu amoral, tapi orang lain justru muja muji dan malah menuduh kita munafik. Dan, Indonesia ini negara liberal. Walau para pejabat kita bilang ini negara Pancasila, para kyai berfatwa Indonesia sudah final, Islami, wajah asli bumi pertiwi itu liberalisme.

Level pergaulan bebas anak muda di tanah air sudah memprihatinkan. Sebagian dari mereka tidak risih dengan berpelukan, pegangan tangan, kissing, petting hingga lakukan intercourse/berzina. Sejumlah seleb yang ngetop di kalangan anak muda malah cerita di media massa atau akun medsos mereka kalau ia sudah hamil sebelum menikah. Tak ada kegaduhan di sana. Bukankah itu tanda negara ini liberal?

Liberalisme itu bukan jalan keselamatan, tapi berlubang dan membuat orang yang berjalan di atasnya terjungkal-jungkal. Silakan baca atau tonton berita kasus kriminal pasca hubungan di luar nikah; bayi yang dibuang di tempat sampah, pacar yang dibunuh cowoknya karena hamil, aborsi, sampai bunuh diri. Misalnya, yang baru terjadi pekan ini, mahasiswa UIN (kampus Islam ya ini) membunuh kekasihnya karena hamil akibat hubungan terlarang di antara mereka. Tak mau tanggung jawab, ya bunuh saja. Mulut si perempuan dibekap lalu digorok. The end.

Apa trigger perzinaan juga kekerasan seksual? Pornografi salah satunya. Konten pornografi itu stimulan kuat terhadap libido seksual seseorang, terutama kaum pria. Semakin sering melahap konten pornografi, gedoran pada libido seksual makin kencang. Bukan sekali dua kali kan, kita membaca anak ingusan lakukan pemerkosaan karena terpengaruh film porno. Atau bapak bejat yang cabuli anak tiri atau bahkan anak kandung karena didrive pornografi.

Rasanya kalau mister gubernur rajin baca berita seperti itu harusnya sih takkan enteng saja bilang, “Saya sudah dewasa, sudah punya istri.” Karena pernyataan macam begitu seperti tutup mata atas dampak pornografi pada siklus sosial masyarakat.

Ada baiknya para pejabat negeri ini yang doyan pornografi lalu ingin mempublish-nya pada publik membaca dulu riset para pakar soal ini. Dr. Mark Kastelman menyebut daya rusak pornografi lebih dahsyat ketimbang narkoba. Bila narkoba hanya merusak tiga bagian otak, pornografi merusak lima bagian otak terutama pada pre frontal cortex. Saking dahsyatnya, Kastelman menyebut narkoba sebagai visual crack coccaine.

Sementara itu para peneliti dari Mark Planck Institute for Human Development menyebutkan lelaki yang sudah kecanduan pornografi cenderung menjadi bodoh. Itu terjadi karena striatum pada otak mereka menjadi lamban. Sementara striatum itu berperan sebagai koordinator berbagai aspek kognisi, perencanaan motorik, tindakan, pengambilan keputusan, motivasi, penguatan, penghargaan dan persepsi. Semua itu ambyar karena pornografi. Nah, mau Pak, masyarakat Indonesia menjadi bodoh dan kecanduan pornografi?

Apakah Ganjar juga tidak tahu bahwa industri pornografi itu sebagian besar dibangun oleh jaringan mafia memanfaatkan human trafficking, menculik dan memaksa gadis-gadis muda untuk diterjunkan ke industri pornografi. Dipaksa syuting berjam-jam, tanpa (maaf) alat kontrasepsi untuk melindungi mereka dari penyakit kelamin dan kehamilan, dan dibayar murah. Belum lagi pornografi anak yang jelas-jelas mengeksploitasi anak-anak dan merusak masa depan mereka. Apa itu yang bapak sukai?

Jadi pernyataan Ganjar itu terkesan menyepelekan efek pornografi pada manusia Indonesia, terutama generasi muda. Apakah pejabat-pejabat kita pernah membaca data kalau 68 persen siswa SD di Indonesia aktif mengakses situs porno? 97 persen siswa SMA kita sudah akses sistus porno? Pemblokiran situs-situs porno oleh Kemkominfo sudah dijebol oleh bocah-bocah SD dengan aplikasi VPN.

Apakah Ganjar dan juga pejabat yang setipe dengannya, paham bahwa pornografi bukan saja pintu gerbang menuju seks bebas tapi juga penyimpangan perilaku seksual? Kekerasan seksual, seks ramai-ramai, tukar menukar pasangan, LGBT dan ujungnya adalah penyebaran penyakit kelamin.

Sebagai orang yang sering terlibat dalam pengayaan moral dan keagamaan keluarga, membina kaum muda, saya prihatin betul dengan sikap pejabat seperti ini.

Jadi kalau ada remaja diapresiasi setelah lahap konten pornografi – dengan alasan jujur dan leadership kuat – saya nggak paham dimana letak jujurnya dan leadershipnya. Bukankah berarti sebelumnya anak itu tidak jujur pada orangtuanya dan gurunya kalau ia suka pornografi? Dimana leadershipnya pula? Apakah tidak jadi bahaya kalau punya pemimpin yang nyandu pornografi nanti bakal berujung pelecehan seksual pada bawahannya? Ingat, kan Pak, skandal Bill Clinton-Monica Lewinski yang melegenda?

Lebih tepat, dan lebih berpahala, kalau kita perangi pornografi. Kita lindungi keluarga kita dan generasi muda dari konten yang merusak moral, agama, bahkan otak masyarakat. Bukan malah mengendorse, meremehkan bahayanya, apalagi mengapresiasi remaja yang mengaku penggemar pornografi. Kalau memang masih mencandu, maka segera tobat dan berobat. Insya Allah banyak psikiater dan ustadz yang siap mengobati para pejabat seperti itu.

Terakhir, karena ada remaja diberi hadiah setelah pengakuan nonton film porno dalam acara deradikalisasi dan penguatan nilai-nilai Pancasila, saya jadi penasaran; senang nonton porno itu termasuk penghayatan sila ke berapa dan apakah itu tanda sikap anti radikalisme?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.