Millenials, Ngajilah Dengan Fun Tapi Bukan Untuk HAVING FUN

Selain gadget, medsos, K-Pop tren di kalangan milenial adalah pengajian. Silakan lihat agenda-agenda pengajian di mesjid, ataupun di hotel, di aula, dipadati kelompok umur yang dikenal dengan nama generasi Y ini. Kasual, wangi, muda, duduk berdempet-dempetan di mesjid. Pemandangan yang saya rasa 15 tahun lalu susah ditengok.

Kalangan pengguna utama media sosial ini juga tak jarang meramaikan konten medsos mereka dengan dakwah, shalawat, meme Islami, baik sharing dari ustadz kondang sampai buat konten sendiri. Luar biasa.

Fenomena ini tak lepas dari kejelian sejumlah dai-dai muda macam ustadz Hanan at-Taki dengan jamaah Shift, ustadz Felix Siauw dengan YukNgaji, ustadz Fatih Karim dengan CintaQuran, dan beragam komunitas pengajian lain yang cermat membidik anak muda sebagai obyek dakwah. Para dai kreatif ini kemudian berkolaborasi dengan berbagai pihak termasuk para artis hijrah, untuk mengeksplor segmen dakwah kawula muda. Lewat agenda online maupun offline yang kreatif bisa menciduk banyak anak-anak muda, terutama segmen menengah ke atas, membuat ngaji jadi gaya hidup baru.

Generasi milenials tidak lagi minder ngaji karena menjadi keren dan gaya. Ngaji bukan lagi di mesjid, tapi di hotel berbintang, di kafe, atau di mall. Ngaji juga jadi tidak monoton, duduk, diam mendengarkan ustadz, tapi ngaji jadi asyik karena dibuat kreatif, dialog santai, lengkap dengan tampilan animasi dan presentasi dibanjiri anak-anak muda.

Sebagian narasumber juga masih muda. Tampilan dan gaya bahasa mereka juga memilenial. Ustadz Hanan at-Taki misalnya tampil dengan balutan kaos, celana jins, dan topi kupluk ala penyanyi reggae. Tidak mesti koko, gamis, sorban dan peci. Mereka juga gape ngomong film, K-POP, isu lingkungan, dsb. Meski berbayar, millenials ini tetap rela hadir untuk bisa melihat dan menyimak tausiyah dari dai-dai kondang yang nge-hit di mata kaum milenial.

Materi kajian yang dibawakan umumnya bertema motivasi, gaya hidup juga ehm, cinta dan nikah. Tema terakhir itu yang menduduki posisi top di kalangan millenials.

Tema yang memillenials, publikasi yang diviralkan lewat medsos, ustadz yang ngehit lagi bergaya anak muda, lokasi pengajian yang sejuk dan nyaman, ditambah tampilan visual film dan presentasi yang memanjakan mata, adalah kunci pemikat anak-anak muda memadati pengajian.

Panitia atau ustadz pengajian mana saja yang mau memikat anak muda membanjiri pengajian, maka harus memegang elemen-elemen pemikat tersebut. Karena anak muda milenial ingin pengajian menjadi fun untuk disimak.

Itulah elemen sukses pengajian kaum milenials. Namun itu juga yang jadi problem lanjutan, yaitu ketika elemen-elemen itu dikurangi, selera pengajian mereka jadi turun. Misalnya ketika narasumber bukan public figure, minat ikut pengajian mulai berkurang. Atau begitu tema pengajian dinaikkan ke persoalan muamalah, hukum pidana, politik dan pemerintahan, maka pesertanya langsung drop. Kaum milenials masih merasa itu bukan dunia mereka.

Persoalan ini yang akhirnya membuat sejumlah ustadz juga lembaga pengajian tetap menyajikan tema-tema level millenials. Merawat ‘selera pasar’ masih jadi pertimbangan.

Dilematis memang, namun bukan berarti tanpa solusi dan keputusan. Para dai dan lembaga kajian tetap harus berpegang pada prinsip pengajian adalah melayani agama Allah, bukan melayani jamaah. Selera audiens mesti diperhatikan tapi para dai harus mendrive arah kajian: pengkaderan dan perubahan umat menuju kehidupan Islam.

Karakter millenials bukan sesuatu yang wajib dipertahankan, melainkan obyek yang harus dibentuk sesuai tuntunan Islam. Misalnya, pengajian tidak mesti di ruang nyaman kafe, hotel atau mesjid megah, tapi juga harus bisa di musola-musola kecil, atau di teras rumah.

Narasumber kajian juga bisa berwujud bapak-bapak bersarung, pecian, dan tidak paham KPOP. Tema yang dibahas juga bisa politik, ekonomi, dan dakwah. Karena Islam memang agama sempurna, bukan hanya bahas masalah akhlak apalagi cinta dan pernikahan.

Untuk kalian, gaes, generasi milenial, kita yang tua-tua paham kalau kalian menginginkan pengajian itu fun. Kalian merasa senang bila dunia kalian didengarkan, diperhatikan, dan diakui. Tapi, kalian pun harus belajar untuk paham kalau tholabul ilmi itu kewajiban. Suka atau tidak suka dengan suasana kajian, ilmu tetap wajib untuk dipelajari.

Fun saat belajar Islam yang hakiki adalah ketika kalian belajar agama. Apapun temanya dan siapa narasumbernya. Fun itu datang bukan karena ustadznya pandai melucu, di ruang nyaman ber-AC, entertainment, dan lokasinya instagramable. No. Pengajian itu fun karena kamu merasa sedang berada di taman surga, berkumpul dengan orang-orang saleh, dan meniti jalan perjuangan Islam. Jadi, biar pun pengajian itu berlokasi di musola yang sederhana, beralaskan tikar, dan segelas air mineral, tetaplah fun.

Fun saat ngaji adalah ketika kamu semakin paham bila Islam itu ajaran paripurna. Komplit. Mulai soal najis sampai bisnis dan politis. Islam itu lebih luas dari dunia K-POP atau urusan cinta dan perjodohan. Di sanalah engkau harus merasa fun karena bisa lebih dalam lagi mengenal Islam.

Duduk manislah di atas tikar atau karpet sederhana untuk menyimak materi demi materi kajian dari narasumber yang juga bersahaja. Mungkin ustadz yang duduk di depanmu tidaklah terkenal di media sosial, atau mungkin sama sekali tidak punya akun instagram, tapi kerennya dia adalah karena mau mengajarkan ilmu agama dan menularkan perjuangan Islam padamu secara cuma-cuma.

Ketika perasaan malas untuk datang ke pengajian yang sederhana mulai menyergap, munculkan perasaan fun seperti di atas. Lalu ubahlah cara pandang kita tentang pengajian, kalau pengajian itu harus fun tapi bukan untuk having fun. Dengan begitu dirimu akan tampil sebagai pembelajar sejati yang siap menerima ilmu agama dari siapa saja dan dimana saja. Karena majlis ilmu bukanlah panggung entertainment, tapi medan perjuangan menuju surgaNya.

Untuk panitia dan para asatidz yang membina kaum milenial ini, mulailah melakukan bridging. Mencari cara untuk mengantarkan generasi Y ini menuju kajian intensif dan perjuangan. Harus ada fase dimana mereka harus diajak serius dalam perjuangan. Karena tugas para dai adalah melayani agama Allah, bukan menerima request jamaah. Alam pikiran umat yang harus diubah, bukan malah menurunkan level kualitas dakwah. Semoga Allah memudahkan semua langkah dakwah bersama ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.