Ajarkan Generasi Milenial Khilafah & Jihad

The more you know about the past,

The better you prepare for the future

Theodore Roosevelt

Bagaimana cara mematikan masa depan suatu bangsa? Babat saja akar sejarahnya! Yup, masa depan bangsa manapun salah satunya ditentukan oleh seberapa dalam mereka menyelami masa lalunya. Karena memelihara semangat Bushido, nilai-nilai samurai yakni kesederhanaan, kesetiaan, seni bela diri, dan kehormatan sampai mati, bangsa Jepang pernah tampil sebagai kekuatan militer, kemudian pasca PD II moncer sebagai kekuatan teknologi khususnya otomotif dan elektronik juga ekonomi.

Masa lalu atau yang kita kenal sebagai sejarah mengajarkan banyak hal. Masa lalu yang kelam akan membuat suatu bangsa menghargai perjuangan, kerja keras dan pengorbanan, lalu memeliharanya untuk masa depan mereka. Masa lalu yang gemilang akan membuat suatu bangsa memiliki kebanggaan, kepercayaan diri dan semangat kompetisi yang tinggi dengan bangsa-bangsa lain.

Karenanya suatu tindakan konyol ketika Kementerian Agama karena sentimen keislaman (baca: Islamphobia) bernafsu akan menghapuskan materi tentang jihad dan kekhilafahan dari kurikulum madrasah.

Penghapusan istilah khilafah dan jihad tertuang Surat Edaran B-4339.4/DJ.I/Dt.I.I/PP.00/12/2019. Surat edaran itu ditandatangani oleh Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag, Ahmad Umar pada 4 Desember 2019. Dalam surat edaran itu disebutkan bahwa penghapusan kata khilafah dan jihad dilakukan dalam rangka pencegahan paham radikalisme di madrasah.

Kemenag juga menginstruksikan agar semua mata pelajaran yang mengandung konten khilafah dan jihad harus segera ditarik.

Belakangan, Kemenag melunak. Mereka nyatakan tidak akan menghapus materi tentang dua topik tersebut tapi akan merevisinya. Beginilah kebijakan plintat plintut yang tak punya pijakan ilmiah kuat. Begitu publik hingga PGMI (Persatuan Guru Madrasah Indonesia) sampai DPR mengkritik pedas, kebijakan itu buru-buru direvisi.

Bayangkan, bila dua materi itu jadi dihapuskan, anak-anak milenial dan generasi berikutnya bisa jadi tak paham bila negeri ini pernah diperjuangkan oleh para syuhada. Bisa jadi mereka tahu negeri ini sudah merdeka begitu saja. Tak terbayang oleh mereka kekejaman kaum imperialis Portugis, Belanda, Jepang, Inggris dan pasukan NICA-nya. Dan mereka tak paham bila yang menggerakkan perlawanan Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, dll., adalah karena ruh jihad.

Sekarang saja patut diragukan kalau generasi milenial pernah membaca sejarah nama-nama di atas, apalagi tahu hubungan perjuangan mereka dengan kekhilafahan, juga bagaimana siasat Belanda melumpuhkan Islam dan ruhul jihad di tanah air. Kelihatannya ada orang Islam di tanah air – dan itu jelas para petinggi negeri ini — yang ketakutan kalau generasi muda Indonesia menghayati perlawanan para pahlawan tanah air dengan spirit jihadnya.

Nasihat Presiden Amerika Serikat ke-26, Theodore Roosevelt, patut direnungkan; The more you know about the past, the better you prepare for the future. Pantas bangsa ini tak pernah maju menjadi negara besar; karena tak belajar dari sejarah bahwa bangsa Barat adalah penjajah dan terus bernafsu menjajah. Kemerdekaan dan kemajuan adalah sama; tak bisa didapat dengan menghamba pada bangsa lain, Timur ataupun Barat.

Maka, ajarkanlah terus pada anak-anak kita tentang jihad dan khilafah dengan benar, sesuai tuntunan syariat. Islam dan negeri-negeri Islam dapat dipertahankan karena ada kekuatan Khilafah Islamiyyah yang mengobarkan jihad fi sabilillah.

Pahamkan pada generasi milenial bila khilafah dan jihad bukan ancaman. Bukan seperti gambaran yang divisualisasikan Barat yang penuh tipuan murahan; kejam, bengis, telengas, penyebab kehancuran seperti di Suriah. Justru ketika pasukan Islam menaklukkan tanah Syams di masa Kekhilafahan Umar bin Khaththab ra., negeri itu menjadi makmur dan sejahtera. Masyarakatnya berbondong-bondong memeluk Islam. Kehancuran Syams dimulai saat ketiadaan Khilafah Islamiyyah dan intervensi Barat ke tanah mulia itu.

Mengajarkan anak-anak kita tentang jihad dan khilafah adalah tuntunan salafus saleh. Mereka selalu mengajarkan sejarah peperangan Rasulullah pada anak-anak kaum muslimin. ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib (dikenal dengan nama Zainul ‘Abidin) berkata,

كنا نعلم مغازي النبي صلى الله عليه و سلم وسراياه كما نعلم السورة من القرآن

Dulu kami diajarkan tentang (sejarah) peperangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Al-Qur’an diajarkan kepada kami

Anak-anak yang diajarkan tentang materi jihad dan khilafah akan paham bila masa depan mereka harus bertumpu pada kekuatan Islam, bukan pada PBB apalagi mengemis-ngemis utang pada IMF atau Bank Dunia. Seperti kata Roosevelt, mereka akan punya persiapan untuk masa depan yang lebih baik. Bukan menjadi komprador atau penguasa yang hidup dari belas kasihan negara-negara penjajah.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.