Futur Karena Dakwah Fardiyah?

Bisakah kita berdakwah tanpa support jamaah? Mampukah kita berdiri di atas panggung dakwah tanpa kolektivitas jamaah? Bisakah seorang diri kita membangun peradaban tanpa keikutsertaan jiwa dan raga kita dalam sebuah kutlah dakwah?

Sulit rasanya menjawab ‘ya’ untuk pertanyaan di atas. Tabiat manusia itu lemah, mudah tergelincir, membutuhkan ilmu, dan membutuhkan link pertemanan. Untuk membangun sebuah rumah yang besar saja tak bisa seorang diri, apalagi membangun peradaban. Maka, sungguh kita membutuhkan kawan dan pembimbing dalam mengarungi medan dakwah ini.

Sehebat apapun seseorang, tak ada yang bisa mengalahkan kekuatan kolektivitas. Kebersamaan merupakan salah satu syarat perjuangan mencapai kemenangan. Dalam dunia bisnis hampir tak ada satu perusahaan yang tak menjalin kemitraan. Dalam dunia politik dan militer, negara-negara imperialis menjalin persekongkolan satu dengan lain untuk mencabik-cabik umat dan mencegah kebangkitan Islam.

Dalam dunia dakwah? Apalagi. Kebersamaan, keberjamaahan, kesatuan, unity atau apalah namanya adalah syarat untuk menggapai pertolongan Allah SWT. Penghulu umat ini, Rasulullah SAW. mewasiatkan akan kebaikan hidup berjamaah:

« اثْنَانِ خَيْرٌ مِنْ وَاحِدٍ وَثُلاَثٌ خَيْرٌ مِنِ اثْنَيْنِ وَأَرْبَعَةٌ خَيْرٌ مِنْ ثَلاَثَةٍ فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَنْ يَجْمَعَ أُمَّتِى إِلاَّ عَلَى هُدًى »

Dua orang lebih baik dari seorang, tiga orang lebih baik dari dua orang, dan empat orang lebih baik dari tiga orang. Tetaplah kamu dalam jamaah. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mempersatukan umatku kecuali dalam petunjuk (hidayah). (HR. Ahmad)

Mari renungkan, ketika Allah memberikan kecerdasan dalam berdakwah, membuat fasih lisan kita menyampaikan kalimatullah, darimanakah semua itu ditempa? Hasil kecerdasan sendirikah, atau karena terasah dalam liqo-liqo yang dibantu oleh para guru yang mukhlis? Kita semua tahu jawabannya; itu karena jamaah, karena ada kawan dan para guru yang tulus hati membina hingga Allah mudahkan pemahaman kita.

Darimana pula Anda mendapatkan jaringan dakwah yang begitu luas hingga seantero negeri, bahkan mancanegara? Semua berawal dari pertemanan kita dalam jamaah. Satu dua atau tiga kawan memberi Anda panggung untuk menyampaikan kalimatullah karena mereka mempercayai Anda lebih fasih dan lebih pandai dari mereka. Maka mereka amanahkan panggung demi panggung dakwah agar dakwah ini berkembang lewat diri Anda sebagai bagian dari jamaah. Bukankah ini the power of relationship?

Sampai kemudian dunia mengenal Anda sebagai seorang juru dakwah yang handal. Kalimat-kalimat Anda cerdas dan berisi, menggelora dan membuat umat merasa terpuaskan, hingga Anda pun seolah menjadi ikon dakwah baru di antara para juru dakwah yang lain.

Namun disitulah sebenarnya perangkap dipasang. Ketika syaitan tak bisa menghentikan dakwah seorang hamba, mereka akan berusaha memisahkan seorang juru dakwah dari jamaahnya. Maka waspadailah penyakit hati juru dakwah yang bisa membuat seseorang terlepas dari jamaahnya. Tak jarang dan tak sedikit pengemban dakwah yang lepas dari orbit dakwah berjamaah karena hilang kesadaran berjamaah. Tanpa disadari satu persatu ikatan jamaah mereka lepaskan, sampai akhirnya muncul satu pemikiran; tak butuh lagi dakwah berjamaah.

Ada beberapa penyakit hati yang bisa membuat seorang juru dakwah tergelincir di jalan dakwah. Lepas kendali dan lepas dari orbit dakwah berjamaah.

  1. Meremehkan Amal Jama’i

Karena keasyikan dakwah secara pribadi, tak jarang seorang hamba meremehkan amal jama’i; liqo, kontak, dan segenap agenda dakwah berjamaah. Jarang hadir dalam agenda bersama bahkan mulai melanggar komitmen dakwah berjamaah. Inilah simpul awal yang terlepas dari kehidupan dakwah berjamaah, ketika seorang pengemban dakwah mulai meremehkan kedisplinan hidup berjamaah meski dengan alasan berdakwah (pribadi). Untuk ini mereka punya alasan yang seperti benar; saya juga berdakwah! Ironi.

  1. Sibuk Dengan Citra Diri

Dunia milenial menciptakan gaya hidup baru bagi manusia; brand mark! Sedihnya tak jarang mereka yang terlibat dalam dakwah juga ikut berlomba membangun brand image. Ingin menunjukkan dirinya adalah sosok penting, bahkan sampai menampilkan hal-hal yang sebenarnya tak penting ke hadapan umat. Ia merasa umat harus tahu ketika ia minum kopi, makan bersama siapa, atau bahkan ketika ia bernafas dan memejamkan mata. Semua demi brand image.

Marilah kita renungkan bahwa yang harus kita muliakan dan agungkan adalah agama dan pribadi Nabi kita Muhammad SAW., bukan diri kita, keluarga kita atau bahkan orangtua kita. Sesungguhnya kemuliaan adalah milik Allah dan Ia akan berikan pada siapa saja yang Ia kehendaki:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (TQS. Ali Imran: 26)

  1. Penyakit bahaya kelas

Alamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Takattul Hizbiy menyebutkan salah satu bahaya yang bisa menimpa sebuah kutlah/jamaah dakwah adalah bahaya kelas, yaitu ketika sebuah jamaah merasa lebih hebat dan ingin dilayani umat. Bila pernyataan beliau kita jadikan pisau bedah dalam kehidupan pribadi para dai, hal inipun bisa terjadi. Seorang juru dakwah bisa lupa diri hingga merasa lebih tinggi derajatnya, lebih penting dibandingkan kawan-kawannya, bahkan merasa lebih unggul dibandingkan jamaahnya. Penyakit hati ini menyebabkan ia meremehkan segala keterikatan dengan jamaah, meremehkan nasihat dan teguran dari kawan-kawannya yang berada dalam jamaah. Ia merasa lebih penting berdiri di panggung dakwah di tempat lain, ketimbang duduk dalam agenda dakwah bersama. Bahkan ia merasa umat lebih memuliakan dia ketimbang jamaahnya. Hingga akhirnya ia marah pada saat jamaah mengingatkan dan menegurnya. Padahal semua dilakukan oleh jamaah karena rasa cinta dan sayang padanya.

  1. Tak merasa bersalah

Adalah nasihat klasik yang disampaikan para alim ulama, bila hati telah ternoda dosa lalu tak dimintai ampunan, lama kelamaan hati akan membeku. Ia tak tersentuh lagi dengan nasihat dan peringatan. Siapapun bisa mengalami hal itu termasuk para juru dakwah yang telah bergeser orbit dakwahnya dari dakwah jamaah menuju keasyikan dakwah pribadi. Berbagai pengabaian amanah dan agenda dakwah dalam berjamaah tak lagi menjadi perhatiannya. Bahkan ketidakdisplinannya dalam kehidupan berjamaah sudah dianggap biasa, ironinya ia sendiri marah ketika ada orang tidak menepati akad dengannya. Imam Ibnu Qayyim al-Jauzi dalam kitabnya Al-Jawabul Kafi menuliskan bahwa suatu dosa biasanya akan menuntut dosa yang lain dan akan menuntut eskalasi atau peningkatan. Waliyyadzu billah.

  1. Mencari kesalahan jamaah

Level lebih jauh dari bergesernya seorang dai dari orbit dakwah adalah ia mulai banyak mengeluhkan kondisi jamaah, seolah mencari pembenaran bahwa ia memang layak meninggalkan jamaah. Para sahabat pecinta dakwah, sedari awal kita harus sudah menyadari bahwa jamaah dakwah diisi oleh manusia biasa, yang tak luput dari kekurangan dan kehilafan. Dimanapun kita berada, selalu akan bertemu sosok-sosok yang penuh dosa dan khilaf. Namun itu bukan alasan kita menyalahkan jamaah lalu berpaling dari mereka, kecuali bila mereka sepakat melakukan kemungkaran. Bukankah bila rumah kita kurang layak maka tugas kita adalah ikut membenahinya, bukan malah meninggalkannya apalagi membumihanguskannya?

Ikhwah fillah, tulisan ini adalah pengingat bagi al-faqir pribadi dan ikhwan semua karena dorongan rasa cinta pada Allah. Luangkan waktu sejenak untuk merenung bahwa panggung demi panggung dakwah yang telah dibangun semua adalah karunia Allah yang dilimpahkan melalui perjuangan kawan-kawan dalam jamaah. Ada jasa guru-guru kita, ada jasa kitab-kitab yang telah dikaji bertahun-tahun. Saatnya menurunkan ego diri, membuang bahaya kelas, merendahkan hati dan menyemai lagi keikhlasan untuk menggelar tikar lalu duduk bersama kawan-kawan dalam jamaah. Karena rumah kita adalah jamaah dakwah, kita berasal dari sana dan kita pun ingin berkumpul bersama orang-orang saleh dalam jamaah kita.

Percayalah, andaipun kaki melangkah tuk pergi berlalu dan tak kembali, rumah itu takkan runtuh karena di dalamnya masih banyak orang-orang yang jauh lebih ikhlas, lebih bagus dalam beramal dibandingkan diri kita. Malah bisa jadi akan datang penghuni-penghuni baru yang lebih bersih dibandingkan hati dan tangan kita ini. Sesungguhnya kitalah yang membutuhkan jamaah. Mari kembali rapatkan hati dan barisan dalam rumah ini untuk memenangkan agama Allah bersama-sama.

إِنَّ الشَّيْطَانَ ذِئْبُ الْإِنْسَانِ كَذِئْبِ الْغَنَمِ يَأْخُذُ الشَّاذَّةَ وَالْقَاصِيَةَ وَالنَّاحِيَةَ وَإِيَّاكُمْ وَالشِّعَابَ وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَالْعَامَّةِ

“Sesungguhnya setan adalah serigala terhadap manusia seperti serigala menerkam kambing yang terasing, menjauh dan menyisih. Maka janganlah kalian menempuh jalan sendiri dan hendaklah kalian berjama’ah dan berkumpul dengan orang banyak.” (H.R. Ahmad)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.