Aliran Zinaisme Anak Muda

hand stretching for one of the many old vintage keys hanging on threads

Apa yang saya tulis di sini mungkin bukan suatu hal yang asing di negeri ini, perbuatan zina. Pahit memang melihat perzinaan jadi suatu yang dianggap biasa. Lebih getir lagi melihat muncul gelombang pembelaan terhadap budaya zinaisme ini.

Di tengah seruan waspadai budaya dan ajaran transnasional, seperti tudingan ‘radikalisme’ Islam, perbuatan zina justru semakin dianggap kompatibel dengan perilaku anak bangsa. Padahal sepengetahuan saya, tak ada satupun budaya daerah ataupun agama yang membolehkan perzinaan. Namun, tindak asusila ini malah semakin digemari dan dibela.

Misalnya, akhir-akhir ini di media sosial beberapa kali diangkat seorang selebritas cowok yang menurut pengakuannya sudah meniduri (baca menzinahi!) ratusan wanita. Saya pribadi pernah menonton satu kanal Youtube yang mewawancarai anak muda itu. Dengan santai ia bercerita kebiasaannya tersebut.

Belakangan saya mendapat kabar ada seorang perempuan yang mengaku mengalami rudapaksa atau pelecehan seksual dari sang selebritas. Namun beberapa media massa seperti gerak cepat menurunkan tulisan yang ‘membela’ citra sang seleb. Dituliskanlah kalau ia orang yang baik, rendah hati, dsb. Kesannya, berzina itu oke saja asalkan orang itu baik, jagoan, pintar dan tidak sombong.

Sebelumnya, ada seorang anak muda juga, gamer di satu tim besar di tanah air, yang kedapatan melakukan tindakan asusila di tengah acara live streaming. Sang gamer muda itu sepertinya lupa mematikan mikrofon sehingga suara mereka berdua terdengar beberapa saat secara live, didengar oleh semua peserta. Rekaman itu seketika jadi viral.

Sang gamer muda itu dipecat dari tim, tapi yang mengejutkan adalah reaksi para fans. Di akun medsosnya, sebagian penggemar memberikan dukungan moril pada sang gamer seolah-olah ia baru saja kena tilang gegara naik motor tidak pakai helm di jalan raya. Duh.

Sama juga dengan kasus asusila yang dilakukan seorang vokalis dengan dua orang rekan perempuannya yang videonya viral kemana-mana, publik dan media. Ketiganya memang sempat mendapat hukuman sosial dari publik, namun karena sepertinya mereka bertiga adalah ‘media darling’ dan aset dunia entertainment, beragam pembelaan dan karpet merah tetap digelar media massa dan dunia entertainmen untuk mereka. Karir mereka pun gacor lagi di dunia hiburan.

Bukan hanya itu, beberapa kali publik juga disodori berita penangkapan sejumlah artis dan selebgram yang terlibat jejaring prostitusi. Namun cepat pula berita itu padam, dan mereka tetap saja bisa aktif lagi di panggung hiburan atau di media sosial. Khayalak, khususnya anak muda, juga tidak terlalu memusingkan cacat moral mereka.

Itu jika para pelakunya kaum papan atas, selebritis dan selebgram. Namun di kalangan anak-anak muda kita perzinahan juga makin dianggap biasa. Keperawanan dan keperjakaan bukan lagi standar terhormat untuk anak muda. Prinisp mereka, nggak apa-apa kalau sudah nggak perawan atau nggak perjaka di usia muda, yang penting saat sudah nikah setia.

Beberapa kali saya menjadi pengisi acara bincang-bincang pergaulan dengan sejumlah tokoh, sepanjang itu pula saya tertegun mendengar paparan mereka. Sebagian anak muda kita sudah akrab dengan kissing, petting dan intercourse. Mereka juga sudah tahu bagaimana caranya agar tidak hamil, dimana membeli obat penggugur kandungan, di klinik mana, dsb.

Saatnya negeri ini harus mengakui kalau standar moral bangsa terus merosot. Korupsi dianggap enteng, begitu pula seks pranikah atau perzinaan. Bukan cuma merosot, tapi juga terbalik. Pejabat jujur dimusuhi, anak muda yang menolak seks pranikah disebut sok moralis, sok suci, dan segambreng label negatif.

Mereka yang hobi zina malah bisa tampil pede. Menyebut slogan ‘my body is my right’, seks itu urusan privat (tak bisa diintervensi siapapun – termasuk agama), dan mereka bisa tampil di berbagai kanal media sosial bercerita pengalaman zina mereka; kapan pertama kali hilang kegadisan/keperjakaan, siapa pasangan (zina) yang paling berkesan, dan obrolan apa saja yang terkait urusan zina.

Para pembela budaya ini selalu berdalih kalau seks bebas tidak ada kaitan dengan maju mundur suatu bangsa. Negara-negara liberal yang beri ruang terbuka untuk perzinaan adalah negara-negara maju; AS, bangsa-bangsa Eropa, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dsb. Sementara negara-negara ‘Islam’ macam bangsa Arab atau Indonesia selalu terbelakang. Tidak pernah leading dalam urusan apapun.

Bahwa negara-negara liberal itu adalah negara maju itu fakta, tapi masyarakat liberal dan hedonis macam Barat itu terpapar beragam persoalan kronis juga fakta. Di AS, pada tahun 2018 diperkirakan ada 67,6 juta prevalensi dan 26,2 juta insiden penularan penyakit kelamin di seluruh negeri. Diperkirakan ada 12,6 juta warga usia 14-24 tahun seluruh prevalensi penularan (Sexually Transmitted Infections Among US Women and Men: Prev… : Sexually Transmitted Diseases (lww.com). Ada sekitar 1,1 juta warga AS yang terinfeksi HIV/AIDS.

Seks pranikah juga lahirkan persoalan kehamilan tak diinginkan, aborsi dan kehidupan keluarga single parent. 9 dari 10 aborsi di AS berasal dari kehamilan yang tak diinginkan. Hampir separuh mahasiswi di seluruh komunitas di AS mengalami kehamilan tak diinginkan. Sekitar 55% kehamilan tak diinginkan terjadi pada perempuan di usia 20-an (Facts Behind An Unplanned, Unwanted or Unexpected Pregnancy (mmpregnancy.com)).

Ini bukan persoalan sederhana dan kecil, tapi masalah yang menggerogoti bangsa-bangsa Barat. Kemajuan materi tak ada artinya tanpa kehidupan sosial yang sehat, apalagi ini juga mengancam kesehatan organ reproduksi. Padahal kemunculan generasi masa depan yang sehat dan berkualitas merupakan aset suatu bangsa.

Karenanya, heran ketika banyak pihak justru mengendorse perzinaan. Memberikan panggung pada pelaku-pelaku perzinaan dan menganggapnya biasa saja. Kita bertanya, apa mereka juga siap bila ibu mereka, saudara perempuan mereka, anak perempuan mereka mendapat perlakuan seperti itu? Lalu video mereka beredar di seantero jagat?

Heran juga melihat muslim mencecar hukum nikah muda, tapi mendiamkan provokasi perzinaan di media sosial. Seolah menurut mereka nikah muda itu lebih berbahaya ketimbang perzinaan. Inilah perang pemikiran dan perang peradaban yang dicanangkan Barat terhadap kaum muslimin. Ada isu Islamfobia dan kampanye paham liberalisme di negeri-negeri muslim.

Maka tidak pantas pula umat Islam mendiamkan realita rusak semacam ini. Hanya memikirkan keluarga sendiri, tanpa peduli dengan provokasi asusila terus berkumandang. Saatnya umat Islam juga memberikan opini balasan. Menjelaskan kebatilan fenomena ini dan memberikan gambaran kehidupan Islam yang memberikan perlindungan sosial. Mengingatkan sesama muslim akan ketaatan pada Allah, dan kewajiban meninggalkan perkara yang diharamkan Allah.

Bila kaum muslimin berdiam diri, kerusakan ini pada akhirnya akan masuk ke dalam rumah-rumah mereka. Menikam anak-anak dengan belati beracun yang merusak pemahaman Islam.

Lindungi anak-anak muda kita dengan ajaran Islam. Pahamkan mereka tentang adab pergaulan dengan lawan jenis. Tanamkan rasa malu pada mereka, khususnya pada anak-anak perempuan kita. Jadikan kerudung dan jilbab sebagai pakaian sehari-hari, dan ingatkan mereka agar tidak mengumbar kecantikan pada lawan jenis termasuk di media sosial.

Hancurnya suatu kaum di antaranya karena tidak menjaga relasi pergaulan dengan lawan jenis. Nabi SAW. mengingatkan fitnah yang pertama menyerang kaum Bani Israil datang dari kaum perempuan.

وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بْنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاء

“Berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah karena wanita.”(HR. Muslim)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.