Umat Harus Punya Agenda Pasti; Jangan Berharap Pada Pemenang Krisis Teluk

 

pexels-hikaique-171944_11zon

 

Perlawanan Iran pada AS-Israel bisa membangun euforia umat. Namun umat harus punya agenda pasti dan syar’i untuk membangun dunia Islam. Sebab semua penguasa dunia Islam adalah bagian dari cengkraman Barat terhadap kaum muslimin.

 

Sudah hampir dua bulan konflik Iran vs AS-Israel berlangsung sejak akhir Februari Teheran digempur militer gabungan AS-Israel. Tapi tanda-tanda perang ini akan selesai belum terlihat. Kedua belah pihak masih mengklaim sama-sama digdaya di medan pertempuran. Trump sesumbar kalau Iran sudah ditaklukan dan perang akan berakhir. Namun militer Iran menangkis klaim tersebut. Iran menyodorkan loyonya pertahanan militer Israel yang ditopang AS, dan rontoknya sejumlah jet tempur mahal milik AS oleh rudal ’murah’ mereka.

 

AS Itu Rapuh

Dunia memang belum melihat sinyal kuat perang ini akan usai. Namun publik melihat kejayaan militer Amerika Serikat hanyalah mitos yang dipamerkan di film-film Hollywood macam Rambo-nya Silvester Stallone atau The Extraction-nya Chris Hemsworth. Namun semua tak lebih kampanye kosong militer AS. Militer Amerika Serikat dalam sejarahnya berkali-kali tumbang di medan perang; Vietnam, Somalia, dan kini dibuat malu oleh militer Iran.

AS juga dibuat mati kutu menghadapi serangan geopolitik Iran dengan menutup Selat Hormuz. Ada 670 kapal terjebak di sana. Selat Hormuz menjadi vital untuk pasokan minyak bumi global, termasuk AS. Badan Informasi Energi AS, sekitar 20 persen konsumsi minyak global mengalir melalui selat tersebut. Badan tersebut bahkan menyebut Selat Hormuz sebagai titik sempit transit minyak terpenting di dunia.

Penutupan Selat Hormuz bukan saja menghambat pasokan minyak yang sebesar 20 juta barel perhari, tapi juga akan membuat harga minyak melonjak tajam di seluruh dunia. Bahkan negara-negara yang tidak mengimpor minyak bumi dari Teluk juga akan ikut terdampak.

Meski impor minyak bumi dari negara-negara Teluk ke Amerika Serikat semakin menurun, namun penutupan Selat Hormuz tetap mempengaruhi harga BBM di dalam negeri. Menurut sejumlah data sekitar 8,9% dari total impor minyak AS berasal dari Teluk. Secara volume: sekitar ±660 ribu barel per hari atau sekitar ±3% saja dari total konsumsi energi AS.

Akan tetapi krisis Teluk membuat warga AS geram karena merasakan kenaikan harga BBM. Mengutip data Asosiasi Otomotif Amerika (AAA) yang dilansir AFP menunjukkan bahwa harga rata-rata bensin reguler di AS telah tembus 4,00 dolar AS per galon atau setara 3 liter, meningkat sekitar 35 persen sejak konflik dimulai.

Presiden Trump juga makin kehilangan legitimasinya di dalam negeri. Demo 9 juta warga AS menentang Trump jadi sinyal kemarahan sebagian warga AS. Sejumlah anggota Kongres dan Senat juga ramai-ramai mengecam manuver politik dan militer Trump kepada Iran.

Trump juga terancam kehilangan dukungan dari kalangan militer. Sebabnya, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, mengambil kebijakan memecat 6 jenderal, termasuk Kepala Staf Angkatan Darat AS Randy George di tengah eskalasi konflik dengan Iran.

Amerika Serikat dalam konflik ini juga ditinggalkan sekutu Eropanya, termasuk NATO. PM Prancis Macron sudah menyerukan dunia mandiri tanpa AS. Ia juga mengusulkan terbentuknya jalan ketiga. “Dengan agenda seperti itu, yang dianut oleh Korea Selatan, Prancis, dan negara-negara Eropa lainnya, Kanada, Jepang, India, Brasil, Australia, kita mulai memiliki semacam jalan ketiga (yang independen dari AS),” katanya.

Menlu AS Marco Rubio menyatakan posisi AS semakin sulit dalam menghadapi Iran akibat penolakan NATO. Ia mempertanyakan nilai strategis NATO bagi AS jika dukungan logistik, seperti akses pangkalan, justru dihambat saat dibutuhkan.

Semua kondisi tersebut menunjukkan AS makin terpuruk dan sendirian dalam krisis Teluk menghadapi Iran. Harapan AS kini adalah dari sekutu mereka di Teluk seperti Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Namun negara-negara itu pun meski tidak menyukai Iran namun mereka makin menunjukkan keengganan terlibat terlalu jauh mendukung AS dan Iran. Apalagi di dalam negerinya gejolak penentangan terhadap kehadiran pasukan dan pangkalan militer AS semakin keras.

 

Bangun Agenda Sesuai Syariat

Secara umum umat Muslim merasa euforia dengan perlawanan Iran terhadap AS-Israel. Ghirah pembelaan pada Gaza sebagian tersalurkan pada serangan demi serangan Teheran ke Tel Aviv dan sejumlah fasilitas militer serta bisnis milik AS.

Namun bisakah Iran dijadikan harapan umat sebagai pembela dan pelindung, termasuk selamatkan nasib Palestina? Umat harus memahami bahwa meski Iran negeri dengan mayoritas muslim dan bagian penting dari sejarah Islam, namun hari ini mereka tidak bisa pantas merepresentasikan wajah umat Muslim. Sebagaimana Saudi meski mengklain sebagai pelayan dua tanah suci tapi tidak layak mewakili kepemimpinan umat yang riil.

Iran adalah sudah sejak lama berperan sebagai negeri satelit Barat; Inggris dan Amerika Serikat. Berkali-kali Amerika Serikat memanfaatkan koneksi dengan Iran untuk kepentingan politik mereka seperti di Irak dan Afghanistan. Iran menyokong AS dengan membantu Aliansi Utara untuk melawan Taliban di Afghanistan.

Milisi dukungan Iran juga berkolaborasi dengan pasukan Amerika Serikat di Irak pasca jatuhnya Saddam. Iran ingin mengambil peran di Irak dalam pemerintahan. Beberapa pejabat Iran, termasuk Mahmoud Ahmadinejad, Muhammad Khatami, dan Mohsen Rezaee, pernah menyebutkan kerja sama Iran dengan Amerika Serikat di Irak.

Maka kegembiraan umat pada perlawanan Iran haruslah seperti dukungan Abu Bakar ash-Shiddiq ra pada Romawi dalam konflik besar Romawi-Persia. Bukan berarti Romawi merepresentasikan perlawanan kaum muslimin terhadap Persia. Tapi dukungan Abu Bakar itu karena melihat Romawi punya kemiripan dengan kaum muslimin. Penduduknya sama-sama pemeluk agama samawi.

Namun berharap pada Iran, sama saja seperti berharap pada Saudi, Qatar, UEA, termasuk Turki. Kalau bukan negara satelit Barat yang imperialis, lebih parah lagi mereka menjadi negara pengikutnya.

Krisis Teluk kali ini juga akan berhenti pada deal antara Iran dengan AS-Israel. Bukan pada mengeliminasi pendudukan zionis di Palestina, tapi agar AS-Israel lebih mengakomodir kepentingan nasional Iran di Teluk. Yang paling ditekankan oleh Iran adalah penghentian sanksi ekonomi oleh AS dan PBB terhadap mereka. Iran menderita sanksi ekonomi bertahun-tahun akibat dituding tidak patuh terhadap larangan pengembangan senjata nuklir.

Tuntutan pencabutan sanksi ekonomi ini sudah disampaikan oleh Penasihat militer senior, Mohsen Rezaei dari Pemimpin Tertinggi Iran, Motjaba Khamenei. Ia menegaskan Iran tidak akan menghentikan pertempuran sebelum tuntutannya dipenuhi. Selain itu ada kemungkinan Iran juga akan menekan AS dan PBB untuk memberi izin pengembangan teknologi nuklir. Iran juga akan meyakinkan kedua pihak itu bahwa pengembangan nuklir adalah untuk tujuan damai, bukan untuk kepentingan militer.

Karenanya umat harus sadar bahwa mustahil berharap para pemimpin dunia Islam, termasuk Iran, melakukan aksi untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Para pemimpin itu tetap melandaskan politik – juga militer – negaranya untuk kepentingan nasionalisme mereka sendiri.

Umat harus berdiri di atas kaki sendiri dengan landasan akidah Islam. Perjuangan membebaskan umat dari cengkraman asing adalah karena perintah Allah Swt. Agar umat tidak dikendalikan dan dijadikan obyek eksploitasi kaum penjajah dan antek-anteknya, yaitu para pemimpin dunia Islam. Allah Swt berfirman:

وَلَن يَجْعَلَ ٱللَّهُ لِلْكَٰفِرِينَ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman. (TQS. An-Nisa [4]: 141)

Selanjutnya umat harus menyadari bahwa mereka harus membangun kekuatan yang dapat menyaingi bahkan melampaui negara-negara besar dan negara-negara adidaya hari ini di dunia. Inipun perintah Allah Swt juga kalkulasi politik yang amat mungkin. Tanpa kekuatan seimbang maka selamanya umat akan dicengkram dan diperbudak.

Kekuatan itu bukan dalam format nation-state yang justru lemah dan mudah dikendalikan Barat. Selain secara syariat juga diharamkan agama. Tapi umat harus mulai bekerja keras menegakkan Khilafah Islamiyyah yang akan menerapkan ideologi Islam. Khilafah ini yang akan menjadi pelindung umat sekaligus mengungguli negara-negara besar ataupun adidaya di dunia.

Maka umat harus berpikir out of the box dan sesuai syariat. Rasulullah Saw membangun kekuatan Islam bukan dengan membatasi kekuasaan Islam di Madinah. Tapi beliau melakukan berbagai futuhat hingga akhirnya menguasai Jazirah Arab. Dilanjutkan oleh para khalifah yang akhirnya meluaskan Islam hingga hampir 2/3 bagian dunia.

Inilah sunnah Rasulullah yang justru dilupakan bahkan coba ditenggelamkan para komprador Barat, termasuk oleh kaum alim. Mereka memanipulasi umat agar tidak menegakkan Khilafah karena ingin melanggengkan ideologi batil yang dikembangkan Barat. Mereka tahu Khilafah adalah bagian dari sunnah Nabi yang agung, namun mereka juga tahu eksisnya Khilafah akan mengancam posisi mereka dan majikan mereka, yakni para penguasa boneka Barat.

Inilah ujian yang dihadapi oleh para da’i yang ingin melihat kebangkitan dan kejayaan Islam. Konsisten dan bersabar dalam perjuangan. Tidak terpedaya dengan bujuk rayu manusia, dan tidak tertipu dengan seruan-seruan yang menentang kewajiban penegakkan Khilafah. Semoga para pejuang ini mendapatkan apa yang dijanjikan Rasulullah Saw, yaitu untuk mereka yang terus menghidupkan sunnah yang sebenarnya di tengah kerusakan umat.

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.