Ujian Dakwah Pasca Kampus; Tumbang Setelah Pernikahan (Bagian-2)

 

Salah satu ujian sekaligus tantangan para pemuda di jalan dakwah adalah ketika memasuki kehidupan baru; pernikahan. Pernikahan bisa menjadi penguat ibadah, amal saleh, dan dakwah, namun juga bisa penyebab seorang muslim/muslimah tumbang di jalan dakwah

Harapannya setelah menikah maka ibadah, amal saleh dan dakwah semakin semangat. Ternyata tidak semua aktivisi dakwah yang semua menyala di kampus, malah padam begitu masuk the world of marriage. Futur. Malah luntur. Ada juga yang tidak peduli lagi dengan urusan dakwah.

Jangankan memikirkan bagaimana merekrut kader, badan sudah mager untuk urusan dakwah. Lebih parah lagi, ada juga yang tidak peduli lagi urusan halal dan haram. Bahkan ibadah pun pelan-pelan tak lagi bergairah.

Ada beberapa sebab pernikahan justru jadi faktor yang membuat aktivis dakwah tumbang. Di antaranya:

1. Sejak awal nikah tidak serius membangun komitmen dakwah bersama pasangan

Ada aktivis dakwah yang tidak berpikir bila nikah itu harus senantiasa sejalan bahkan bisa berkontribusi untuk dakwah. Saat menikah tidak lagi berpikir dengan siapa akan berumah tangga dan tidak juga membangun komitmen dakwah dengan calon pasangan. Fokusnya ya hanya menikah.

Ini bisa terjadi dengan alasan karena ingin segera menikah, apalagi mengingat usia makin bertambah, atau semata karena sudah merasa cocok dengan calon pasangan, takut pernikahan batal di tengah jalan bila komitmen dakwah ditambahkan sebelum pernikahan. Padahal nikah bisa bertambah-tambah berkahnya kalau jadi ladang dakwah. Bukankah itu yang dicari dalam setiap rumah tangga?

Komitmen dakwah juga bisa dilakukan dengan pasangan yang belum paham kewajiban berdakwah. Ingat kan kisah Ummu Sulaim ra.? Wanita yang cerdas dan berani menjadikan keislaman dan perjuangan sebagai komitmen pernikahan saat Abu Thalhah datang melamar. Abu Thalhah pun akhirnya menerima komitmen berislam yang ditawarkan Ummu Sulaim ra.

Jangan overthinking kalau komitmen dakwah yang ditawarkan akan jadi ganjalan menuju pernikahan. Bismillah. Allah Maha Penolong dan Pemberi Jalan.

2. Tidak terbuka pada pasangan soal komitmen dakwah. Entah karena khawatir gagal mendapatkan pasangan, komitmen dakwah ini tidak disampaikan pada calon pasangan. Ada yang beralasan hal ini gampang disampaikan setelah menikah. Ada pula yang takut pernikahan akan gagal, terutama untuk akhwat.

Penting untuk terbuka pada pasangan, terutama bila mendapatkan calon pasangan yang bukan aktivis dakwah, untuk menyampaikan komitmen dakwah pasca berumah tangga. Minta pengertian, dukungan bahkan ajakan untuk bersama menata dakwah dalam keluarga.

Ketika tidak terbuka soal komitmen maka pasangan bisa jadi muncul kesalahpahaman dan kecurigaan. Jadi, penting untuk sampaikan di awal ta’aruf atau fase khitbah untuk menegaskan pada pasangan bahwa Anda punya cita-cita menjadikan keluarga ini selalu dalam perjuangan.

3. Tidak menata manajemen waktu dan pentingnya aktivitas dakwah. Begitu menikah kesibukan pastinya bertambah. Untuk muslimah, selain mengurus rumah, juga nanti anak, mesti luangkan waktu kumpul dengan keluarga besar. Buat yang ikhwan juga tidak cermat atur prioritas antara kegiatan keluarga, kerjaan, dan dakwah. Ada orang-orang yang sengaja menempatkan dakwah di porsi bukan utama. Kalau sudah begini tinggal menunggu waktu pelakunya akan menghilang dari peredaran dakwah.

Apa penyebabnya? Bisa jadi walau bertahun-tahun ikut dalam kegiatan dakwah tapi belum tumbuh kesadaran kalau dakwah itu wajib dan perlu. Mungkin pelakunya ikut aktif karena senang berorganisasi tapi tidak mau memikul beban berkelanjutan dan merasa tidak perlu memikirkan dalam-dalam persoalan agama dan keumatan. Berislam itu biasa sajalah. Nah, momen terpental dari orbit dakwah itu biasanya terjadi saat lulus atau begitu menikah.

Obatnya adalah pahami lagi tujuan hidup di dunia, tujuan berkeluarga, dan memahami rida Allah Swt. adalah kebahagiaan terbesar untuk seorang muslim/muslimah. Rida itu tidak bisa dicapai dengan meninggalkan perintah Allah. Apalagi kewajiban ini berkaitan dengan terlaksananya perintah-perintah Allah yang lainnya dan punya efek besar untuk umat.

4. Tidak saling mengingatkan tentang penting dan mulianya berdakwah. Kesibukan dalam kehidupan baru memang menguras tenaga dan pikiran. Inilah fase ujian dalam pernikahan; sadar lalu bangkit atau hanyut. Saling mengingatkan adalah salah satu kunci untuk sadar dan bangkit. Istri dan suami harus kompak dan saling menjaga ritme keluarga, nafkah, ibadah dan dakwah.

 Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (TQS. Al-’Ashr [103]: 1-3)

Solusi untuk semua persoalan itu adalah para pengemban dakwah harus selalu ingat-ingat lagi pesan Allah, siapa menolong agama Allah bakal ditolong Allah. Kata Nabi, jagalah agama Allah, maka Allah akan menjagamu. Dalam hadis qudsi Allah senantiasa bersama hambaNya yang selalu dekat denganNya:

Siapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai melebihi apa yang sudah Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia bertindak, dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan memberikannya, dan jika dia berlindung kepada-Ku, sungguh Aku akan melindunginya. (HR. Bukhari).

 

Maukah Anda ditolong Allah Swt?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.