akan kuguncang dunia
Anak muda, hari ini adalah hari Soempah Pemoeda. Tahukah apakah Soempah Pemoeda? Hari dimana 86 tahun lalu para pemuda dari berbagai ‘kabilah’ di negeri ini menyatakan sumpah setia untuk bersatu. Bersatu dalam ikatan nasionalisme.
Engkau lupa? Tak terkesan?
Haruskah kuceritakan kepahlawanan Sentot Ali Basyah?
Atau Supriyadi?
Tak kenal keduanya?
Kau menyangka Supriyadi adalah nama tukang bakso colok yang lewat depan rumahmu setiap sore?
Bukan salahmu bila anak-anak seusiamu tak kenal lagi sejarah negeri ini. Bukan salahmu bila ada kawanmu menatap foto HOS Tjokroaminoto dengan terheran-heran lalu cekikikan, “Kok, kumisnya mirip tukang sate?”
Bukan, bukan. Itu bukan salahmu. Kamilah yang bersalah.
Anak muda, harus kukatakan dengan jujur banyak di antaramu tak hafal sejarah negeri ini. Pada tanggal ini di masa itu, anak muda seusiamu menenteng senjata di jalanan, bergerilya di hutan, atau berorasi politik di lapangan. Merekalah yang ‘menculik’ Soekarno dan memaksanya untuk memproklamirkan negeri ini. Tanpa orang-orang seusiamu, apa jadinyalah negeri ini.
Engkau lupa sejarahmu sendiri?
Itu bukan salahmu.
Kamilah, generasi tua yang bersalah. Maafkan kami.
Kamilah yang membuat kacang lupa pada kulitnya.
Kamilah yang membuat kalian tak kenal lagi siapa para pendiri negeri ini, dan apa yang membuat semangat juang mereka meledak-ledak saat itu.
Kami hanya kenalkan kamu pada nasionalisme, tapi tidak kepada agama. Kami merasa malu mengatakan kalau Islam adalah bara yang menyalakan perjuangan di negeri ini.
Kenapa kami malu? Karena kami merasa Islam itu sudah usang dan terlalu banyak larangan. Tidak cocok untuk kehidupan yang kami bilang modern.
Karena kami ingin menerapkan demokrasi, maka agama harus kami kebiri. Agama dan suara mayoritas tak bisa selaras. Meski kamu tahu itu salah, tapi kami merasa negeri ini harus demokratis dengan segala resikonya.
Maafkan kami, anak muda jika engkau menjadi seperti ini sekarang.
Kemerdekaan kami anggap sebagai saat memuaskan syahwat kekuasaan dan kebudayaan. Politik jadi panglima untuk memainkan ambisi jiwa megalomania. Pendidikan kami pinggirkan karena tak menghasilkan uang instan, agama kami kurung di rumah ibadah karena banyak larangan. Maafkan kami.
Lalu kami buka keran peradaban dengan lebar agar apa saja masuk dengan kencang ke negeri ini. Sampah-sampah peradaban Barat seperti liberalisme, kapitalisme dan induknya sekulerisme kami investasikan untuk masa depan.
Ketelanjangan kami anggap sebagai seni kebudayaan, korupsi adalah gaya hidup, perzinaan kami pandang sebagai obyek wisata dan pelepas kepenatan dalam pekerjaan mengurusi negeri ini.
Islam?
Maaf, kami hanya pakai saat pernikahan, mengurus kematian atau untuk pesta khitanan.
Anak muda, maafkan kami.
Kami ajak engkau untuk mencintai negeri ini. Kami bilang negeri ini harga mati.
Sebenarnya kamilah yang menggadaikan kekayaan negeri ini kepada londo-londo yang mau bayar mahal untuk semuanya.
Karena sebenarnya kami tak sungguh-sungguh membicarakan negeri ini harga mati. Sebenarnya kami takut mati, mati miskin, mati kelaparan, mati tak punya deposito.
Jadi, anak muda.
Berkat usaha kami kelak engkau akan lihat warga pribumi negeri ini menjadi budak di negeri sendiri. Membeli hasil bumi sendiri dari para londo itu. Kelak engkau akan merasa bukan sebagai pribumi, tapi penyewa di tanah air sendiri.
Anak muda, maafkan kami.
Kami buat engkau percaya bahwa negeri ini tidak pernah berhutang budi kepada Islam, juga kepada para alim ulamanya. Meski sebenarnya tertulis jelas di pembukaan UUD kita “Atas berkat rahmat Allah…”
Kami telah berhasil mencuci otakmu, anak muda. Sehingga engkau sekarang menjadi begitu phobi pada Islam. Kami berhasil membuat engkau percaya jilbab adalah pakaian Arab, tak cocok untuk budaya Indonesia.
Maka,
Di penghujung hayat kami, doakan kami agar husnul khotimah. Doakan agar dosa-dosa kami diampuni Allah karena kami sebenarnya juga tak mau masuk neraka. Kami ingin surga, surga yang sebenarnya. Yang dulu kami sangka dunia adalah surga, tapi ternyata ia begitu cepat berlalu.
Anak muda, maafkan kami.
Sekali lagi, maaf.


Leave a Reply