Apakah Anda Hanya Akan Mengulanginya, Pak Presiden?

jokowi menlu as2Hari pelantikan Anda sebagai kepala negeri ini sudah berlalu satu hari. Anda dan kelompok Anda merayakannya sebagai kemenangan bangsa, meski sebenarnya selisih suara Anda dengan kompetitor Anda itu hanya setitik. Jumlah orang yang tidak mendukung Anda itu tak bisa dipandang kecil: 62 juta! Belum lagi yang tak memilih Anda seperti saya. Tapi sudahlah, Anda dan kelompok Anda sudah mengklaim ini kemenangan bangsa. Dalam dunia politik klaim-mengklaim itu dianggap jamak.
Pak Presiden, di hari pelantikan Anda lebih dari seratus ribu orang bersuka cita di pusat kota Jakarta. Makanan gratis disebarkan, panggung hiburan ditegakkan, Anda dan pasangan Anda dielu-elukan bak pahlawan walaupun Anda juga tahu bahwa sebenarnya Anda baru saja akan memulai. Belum melakukan apa-apa. Tapi Anda tahu, mengapa Anda begitu dielu-elukan? Karena pemilih Anda, begitu berharap Anda adalah Ratu Adil. Bisa mengangkat kesejahteraan mereka dari keterpurukan yang mencekik. Menciptakan rasa aman, keadilan dan ketentraman. Hal-hal mendasar tapi sekarang sudah menjadi barang mewah untuk sebagian orang.
Pak, harusnya saat rakyat bergembira, makan gratis, dihibur oleh banyak artis, Anda umumkan bahwa nanti BBM akan naik bersama dengan kenaikan otomatis tarif listrik, juga gas LPG, tarif tol, dll. Bila Anda pemimpin yang jujur sampaikan itu pada mereka. Misalnya Anda bisa katakan, “Saudara-saudara, tanpa bermaksud mengurangi kegembiraan hari ini, saya akan umumkan bahwa nanti BBM akan saya naikkan premium akan menjadi 9000 rupiah perliter, listrik juga tetap akan naik secara otomatis, LPG pun akan dinaikkan, dsb. Maka sekarang bergembiralah dulu. Selamat menikmati!”jokowi-monas_20141019_133527
Ya, di pundak Anda, orang begitu menaruh harapan. Sebagaimana majalah Time menulis di cover depannya dengan foto wajah Anda ngejeblak memenuhinya; A New Hope. Walaupun itu membuat saya mengerenyitkan dahi mengapa majalah Time juga menjadikan Anda sebagai tumpuan harapan. Berharap apa majalah Time kepada Anda? Tapi ya sudahlah, itu urusan mereka.
Pak Presiden, Anda dianggap membawa style kepemimpinan yang baru. Sederhana, blusukan ke jalan, ramah menyapa orang, dan kesan berbicara yang tidak tinggi hati. Setidaknya itu kesan yang publik tangkap sewaktu Anda menjadi gubernur DKI Jakarta. Karena gaya seperti itu terus terang tidak lazim diperagakan elit pejabat di negeri ini. Meskipun sebenarnya Anda bukan orang pertama yang bergaya seperti itu, tapi entah mengapa hanya Anda yang begitu dipublish di media massa. Anda adalah the media darling.
Walaupun saya percaya, Anda juga tahu bahwa menyelesaikan masalah bangsa tidak bisa hanya dengan blusukan dan tutur kata yang ramah. Butuh kerja keras dan kerja cerdas untuk selesaikan masalah bangsa yang bertumpuk-tumpuk. Sayangnya itu yang belum disaksikan banyak orang di DKI Jakarta. Jabatan yang begitu sebentar Anda tinggalkan padahal prestasi belum menjulang. Kabarnya penyerapan APBD DKI Jakarta di masa jabatan Anda begitu minim, ya? Masuk bulan September baru 30 persen? Mengapa? Banyak orang menjadi harap-harap cemas melihat kenyataan ini. Jangan-jangan ini karena program yang tak jelas sehingga minim anggaran yang bisa diserap dari yang sudah dianggarkan. Bagaimana juga kabar Kartu Jakarta Sehat? Juga Kartu Pelajar Pintar? Kok belum tak terdengar lagi gaungnya?
Pak presiden, pernahkah Anda membaca buku Catatan Hitam 5 Presiden Indonesia karya Rafick Ishaq? Saya bergidig membacanya. Dari semua profil presiden negeri ini semua meninggalkan catatan hitam. Hutang yang berlipat, jerat liberalisme di semua sektor strategis, perusahaan asing menjarah kekayaan negeri ini, para koruptor yang lolos dari jerat hukum. Sungguh, tak ada presiden yang meninggalkan jejak melegakan di negeri ini.catatan hitam presidenl
Bahkan ketika Ketua Parpol Anda Megawati menjabat presiden, berbagai sektor strategis negeri ini dijual murah. Gas alam kita pun dijual murah bingits ke Tiongkok. Saking murahnya, seolah-olah rakyat kita mensubsidi harga gas untuk rakyat Tiongkok. Kemurahan hati atau kepandiran pemikiran?
Pak Presiden, saya ingin urun rembug kepada Anda, kerusakan negeri ini bukanlah semata karena profil atau figur para pemimpinnya. Mereka orang-orang yang bermutu, smart dan reputasi baik. Maka negeri ini butuh lebih dari sekedar figur yang baik dan cerdas, tapi butuh sistem kehidupan yang baik. Tak ada artinya seorang driver sehandal bak Schumacher (sayang dia sudah lumpuh) bila harus mengendarai mobil rongsokan; karburatornya bocor, accu-nya soak, remnya blong, suspensinya sudah kreyot-kreyot dan ban-nya sudah amat tipis, cc-nya pun rendah.thumb_320_50ec0f4738f56_50ec0f473ddaa
Negeri ini membutuhkan sistem kehidupan yang baik dan itu tidak pernah ada dalam demokrasi-kapitalisme-liberalisme. Semua presiden yang berkuasa sudah menjalankan sistem itu dan terbukti gagal total. Negeri ini stuck dalam keterpurukan. Moralnya pun berantakan. Bagaimana bisa banyak pejabat negara dari berbagai parpol masuk bui karena korupsi? Maka, demokrasi-kapitalisme-liberalisme adalah biang keterpurukan negeri ini.
Sekarang terserah Anda, apakah Anda benar-benar pemimpin yang akan membawa perubahan besar atau sekedar melanjutkan dan mengulangi sistem yang diwariskan oleh para presiden sebelumnya. Kalau sekedar mengulangi, maka harapan itu seperti menggantang asap. Maaf kalau saya begitu pesimis, tapi itulah pelajaran dari Catatan Hitam 5 Presiden Indonesia. Semua presiden mengulangi kesalahan yang sama berulang-ulang. Too bad!
Meski begitu saya juga harus katakan bahwa Anda beruntung menjadi presiden di Indonesia, bukan di Korea Selatan. Tradisi hukum di negeri kita membuat semua mantan presiden untouchables. Pak Harto dengan warisan kerajaan bisnis dan hutang luar negerinya, Pak Habibie yang sudah melepas Timor Leste, Ibu Mega yang sudah menjual aset-aset negara, tak ada yang tersentuh hukum. Semua aman. Itu mungkin karena negeri kita berlaku falsafah Jawa; mikul duwur mendem jero. Padahal menurut saya hukum adalah hukum.
Jadi, Anda tak perlu khawatir sekalipun membuat kebijakan yang keliru, salah apalagi malah membuat rakyat makin susah, Anda aman. Tak seperti nasib beberapa mantan presiden Korea Selatan seperti Chun Do Hwan yang masuk bui karena korupsi, atau setragis Roh Moo-Hyun yang akhirnya bunuh diri karena skandal korupsi. Untuk hal ini saya harus katakan Anda memang beruntung.
Terakhir, Pak Presiden, Anda pasti hafal bahwa keledai saja tak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali. Tunjukkan kita bukan bangsa keledai. Kita manusia-manusia cerdas yang mulia. Maka campakkanlah sistem yang rusak itu, mari bergenggaman tangan menuju jalan Ilahi, jalan Islam. Bersama menegakkan syariat Islam dalam naungan khilafah. Ini adalah perintah Allah. Pencipta saya dan Anda, yang kita yakin janjiNya tak akan pernah salah. Ada keberkahan dan kemuliaan di ujung jalan syariat dan khilafah. Pasti.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raf: 96).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.