Sarjana, Saudagar dan Negarawan

negara korporasiPilihan Presiden Jokowi dalam menentukan sosok menteri di kabinetnya mengundang perhatian. Salah satu yang mengundang kontroversi adalah Susi Pudjiastuti Menteri Kelautan dan Perikanan. Pengusaha sukses, tidak tamat SMP, merokok, bertato terakhir kabarnya suka wine. Jagat perpolitikan dan rakyat Indonesia sebagian tercengang. Kok bisa orang tak tamat SMP jadi menteri?

Belum lagi saat diwawancara wartawan, di Istana Negara, di hadapan kamera, Bu Menteri dengan santainya menghisap rokok. Kontan jagat dunia media sosial meledak. Menteri kok merokok? Tak urung Aa Gym urun rembug memberikan komentar.

Tapi saya tak akan memberikan ulasan soal rokok. Meski saya tak merokok, dan melarang anak-anak saya merokok, dan saya benci menghirup asap dari para perokok, tapi saya pahami hukum rokok dalam agama memang khilafiyah. Sebagian mengharamkan, sebagian memakruhkan, malah ada yang memubahkannya. Ini area khilafiyah yang tak akan saya ulas.

Topik yang menarik adalah soal sarjana atau tidak sarjana. Ini jadi salah satu bahasan cukup hangat. Para Jokowers (sebutan untuk pendukung Presiden Jokowi) pastilah mati-matian membelanya. Ketika Pak Muslim Muin dari ITB yang pakar kelautan mengkritik pilihan sang Presiden, ratusan cercaan langsung mendarat kepada Profesor Musa. Pak Profesor disebut omong doang, tidak seperti Bu Susi yang terbukti sudah berhasil punya perusahaan mentereng. Termasuk perusahaan penerbangan beliaulah yang dicarter Pak Jokowi selama kampanye kepresidenan kemarin.

Harus diakui, kita, bangsa Indonesia, dalam pandangan hemat saya memang terlalu memuja status sosial dan pendidikan. Coba saja, sejak jaman saya sekolah dulu ada semacam gap antara ‘anak IPA’ dengan ‘anak IPS’, apalagi ‘anak bahasa’. Anak IPA itu semacam kelas bangsawan di jajaran anak-anak SMA.

Gap macam ini berkelanjutan di bangku kuliah. Ada kesan mentereng kalau jadi anak MIPA, Teknik, apalagi kalau kuliah di beberapa kampus negeri beken. Padahal, seperti ditulis Paul Ormerod dalam bukunya The Death of Economics, saat masuk dunia kerja anak-anak sosial itu biasanya menduduki jabatan lebih tinggi dan pastinya gaji yang lebih tinggi lagi. Ini yang bikin sebagian anak-anak eksak akhirnya ambil kuliah lanjutan mengambil ilmu-ilmu sosial, khususnya bisnis dan manajemen agar bisa menyalip anak-anak sosial.

Saya katakan, buang jauh-jauh anggapan status sosial dan pendidikan adalah segalanya. Bos Microsoft Bill Gates drop out dari Harvard, Jan Koum pendiri WhatsApp juga memilih drop out dari kampus. Gelar bukanlah garansi seseorang bakal sukses di dunia kerja. Ayah kawan saya pedagang mie ayam sukses di Bogor juga bukan sarjana, tapi lebih kaya dari tetangga-tetangganya yang sarjana.

Jadi kalau Bu Susi jadi menteri dengan modal tak tamat SMP, jangan dulu berisik. Toh, ia punya bukti sukses sebagai pengusaha penerbangan dan perikanan. Cukup kalau begitu? Nanti dulu.

Modal yang amat sangat dibutuhkan dalam setiap pekerjaan bukan gelar, tapi kapabilitas. Kemampuan. Soal kapabilitas ini amat menentukan berhasil atau tidaknya seseorang menjalankan tugasnya. Bu Susi berhasil menjalankan perannya sebagai pengusaha perikanan dan penerbangan, bagaimana sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan? Wallahualam, karena jabatan menteri membutuhkan skill yang beda dengan skill bisnis. Menjadi pejabat negara bukan cuma bicara cash flow perusahaan, tapi juga pelayanan publik, memberdayakan nelayan kita yang miskin-miskin, kebijakan politik, termasuk menangani pengurasan ikan di laut Indonesia oleh kapal-kapal asing.

Menjadi pejabat juga membutuhkan attitude negarawan. Itu mungkin yang dikomentari banyak orang soal habit merokok sang ibu menteri. Apalagi ditonton jutaan orang. Walaupun menteri yang merokok mungkin juga ada selain beliau.

Kalau bicara gelar, maka Khulafa ar-Rasyidin juga bukan sarjana. Abu Bakar dan Utsman bin Affan radliallahu ‘anhuma juga saudagar. Sama-sama pengusaha. Tapi keduanya memang punya kecakapan sebagai negarawan di atas rata-rata. Kecerdasan dan keberanian mereka pun di atas rata-rata. Tidak salah bila Rasulullah saw. banyak memuji keduanya.

Modal yang justru teramat penting, bahkan lebih penting dari sekedar gelar adalah ideologi para pejabat negara. Mau cuma tamatan SMP atau doktor sekalipun tapi berideologi Barat, kapitalisme dan neoliberal, maka bangsa ini akan terus dan makin terpuruk. Banyak orang pintar menjadi pejabat negara tapi bukannya menyelamatkan malah menggadaikan aset-aset bangsa.

Ideologi kapitalisme-neoliberalisme ini akan makin mengerikan bila pejabat yang bersangkutan lebih bermental bisnis ketimbang public service. Amerika Serikat adalah contoh negara yang pemerintahannya dikendalikan para pejabat yang pengusaha. George Bush, Condoleza Rice, Al Gore adalah sebagian kecil nama-nama pejabat pemerintahan AS yang merangkap sebagai pengusaha besar. Celakanya kapitalisme tak ‘mengharamkan’ bercampur aduknya kepentingan bisnis dan politik. Kebijakan-kebijakan luar negeri AS pun sarat dengan kepentingan pengusaha. Invasi ke Irak misalnya dibarengi dengan kebijakan renovasinya yang sebagian besar kontraktornya adalah pejabat-pejabat AS.

Publik tinggal melihat saja, apakah Kabinet Kerja ini bisa berpihak pada rakyat atau justru kepada kaum kapitalis. Apalagi sebagian dari jajaran menterinya adalah pengusaha kakap. Malah ada juga yang terlibat skandal keuangan yakni Rini Soemarmo, tapi dipercaya juga menjadi menteri. Maka kita lihat apakah tradisi ‘negara korporasi’ seperti yang sudah dilakukan semua presiden Indonesia akan terulang lagi, atau tidak.

Maka, ideologi inilah yang paling penting dalam sebuah negara. Kecakapan hanyalah tools untuk menjalankan ideologi. Sayangnya, hari ini negeri Indonesia masih belum mau ucapkan ‘talak tiga’ kepada kapitalisme. Seperih apapun derita rakyat akibat kebijakan neoliberalisme di tanah air, para pejabat dan parpol di negeri ini masih setia dengan kapitalisme. Pemerintah negeri ini belum percaya dengan kebenaran syariat Islam. Maka, bukan maksud hati menghakimi Kabinet Kerja yang baru akan bekerja, tapi realita kapitalisme tetaplah sama. Kita akan selalu berada dalam vicious circle. Lingkaran setan penderitaan ala kapitalisme.

Tapi membandingkan Abu Bakar ash-Shiddiq dengan Bu Susi jelas tidak adil. Bak langit dengan bumi. Abu Bakar punya segala-galanya, terutama keislamannya. Maaf ya, Bu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *