5 Tips Agar Anak Tak Membenci Dakwah

ayah-dan-anakDi sebuah grup WhatsApp seorang kawan bercerita ada pasangan suami istri aktifis dakwah yang sedang mengalami persoalan dengan anaknya. Alih-alih mengikuti jejak ayah bundanya, sang anak malah membenci aktifitas mereka.

Beberapa tahun silam, seorang kawan dekat memperingatkan saya tentang hasil temuan sebuah riset kecil-kecilan di sebuah sekolah Islam. Rata-rata orang tua para siswa adalah dai dan daiyyah. Tapi saat ditanya ihwal aktifitas dakwah kedua orang tuanya cukup banyak anak yang menyatakan tidak suka.

Prihatin? Pasti. Orang tua mana yang tidak masygul ketika melihat penentangan dakwah dari anak mereka. Harapan setiap orang tua — apalagi para pengemban dakwah – adalah ingin anak mereka saleh-salehah. Bahkan lebih dari itu; jadi pengemban dakwah.

Tapi jangan dulu salahkan anak ketika mereka menjadi benci pada aktifitas orang tua mereka. Inilah saatnya ayah dan bunda melakukan introspeksi diri.Bagaimanapun juga pasti ada yang melatarbelakangi sejumlah anak tidak menyukai amal mulia orang tuanya.

Hal yang sudah pasti harus direnungi adalah apakah ayah dan bunda sudah menunaikan hak sang buah hati? Jangan sampai kesibukan berdakwah membuat hak-hak anak terabaikan, apalagi menjadi kurang kasih sayang. Nabi saw. pernah mengingatkan Abdullah bin Umar ra. saat ia terlihat kuyu dan kelelahan karena sibuk beribadah. “Sesungguhnya ada hak untuk matamu, untuk dirimu sendiri dan untuk keluargamu,” tausiyah Nabi saw. dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim.

Hadits di atas mengingatkan kita bahwa semua kewajiban harus terlaksana sebaik-baiknya. Bukan saja aktifitas dakwah, tapi juga kewajiban menunaikan hak anak dalam keluarga. Baik oleh ayah maupun oleh bundanya. Kita terkadang lupa bahwa anak juga aset umat, mad’u yang kelak akan tumbuh sebagai pilar-pilar dakwah.

Mohon maaf, terkadang ada kesan heroik pada diri seorang dai dan daiyyah ketika bisa ‘melepaskan’ hak-hak anak. Ketika anak sakit atau menghadapi ujian, adalah momen yang penting bagi ayah apalagi bundanya untuk bisa mendampingi mereka. Khususnya bagi anak yang belum beranjak dewasa, curahan kasih sayang masih lebih banyak dibutuhkan sebelum penanaman pemahaman.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi orang tua dalam kesibukan dan kemuliaan aktifitas dakwah, agar anak tidak membenci apa yang dikerjakan Anda berdua:

  1. Ajak si buah hati dalam aktifitas dakwah. Memang merepotkan bila ayah atau bunda menyertakan anak dalam kegiatan dakwah. Apalagi bila putra-putri Anda lebih dari satu. Tapi itulah heroik-nya amal Anda berdua. Sering saya melihat dalam aktifitas masiroh seorang bunda membawa lebih dari dua orang anak. Insya Allah amal ayah bunda akan tercatat sebagai jerih payah pendidikan anak di jalan Allah. Jangan lupa jadikan safari dakwah ini sebagai ‘piknik’ yang menyenangkan bukan menegangkan.
  2. Dampingi mereka disaat penting. Sempatkan beberapa kali dalam seminggu mengantar mereka berangkat ke sekolah atau menjemput mereka pulang. Temani saat sakit atau di kala ujian. Kasih sayang jauh lebih bermakna ketimbang menanamkan informasi pentingnya dakwah pada mereka. Bukankah ini termasuk jenis ri’ayah dan mutaba’ah kepada mad’u dakwah?
  3. Adillah pada mereka. Anak-anak adalah anak-anak, bukan orang dewasa. Kita bisa menunda atau membatalkan rencana kunjungan ke rumah nenek atau jalan-jalan ke taman bacaan tanpa perasaan menyesal, tapi tidak untuk anak. Ketika haknya diabaikan ia merasa diabaikan. Jadi bersikap adillah pada mereka. Tunaikan hak mereka. Anda tidak akan berdosa di mata Allah dengan hanya sekedar mengajak mereka makan bakso, pergi ke taman bermain, atau silaturahmi ke rumah famili.
  4. Jangan beri amanah di luar kemampuan mereka. Seorang remaja putri pernah mengeluhkan bundanya yang sering membebani dia untuk mengurus adik-adiknya dan merawat rumah jika sang bunda pergi berdakwah. Ya, bagi orang dewasa terasa wajar jika pergi lalu menitipkan sejumlah pekerjaan rumah kepada orang lain. Tapi tidak untuk anak-anak. Ada batas kemampuan pada mereka. Jadi, bijaklah ayah bunda saat memberikan amanah pada si sulung soal urusan rumah.
  5. Tanamkan pemahaman sesuai kadar pikiran mereka. Dalam masa pertumbuhan, kemampuan anak juga berkembang. Mulailah menanamkan arti penting berdakwah kepada mereka sesuai kapasitas berpikir mereka. Bila poin 1-4 berjalan dengan baik, insya Allah proses penanaman pemahaman ini akan mudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *