Kapan Minoritas Belajar Toleransi?

dukung jilbab bali2Ada ironi besar di negeri ini. Umat muslim selaku warga mayoritas justru tak bebas menjalankan ajaran agama mereka. Berkali-kali kita mendapatkan kabar saudara kita seiman kesulitan menjalankan peribadatan semisal larangan shalat Jumat di jam kerja atau larangan pemakaian busana muslimah – walau hanya sekedar kerudung – di kantor atau di sekolah. Hingga sekarang polwan pun tak diizinkan menjalankan kewajiban menutup aurat di kepolisian.

Mayoritas yang terdiskriminasi dan tertindas itu nyata di mana-mana. Banyak perkantoran yang tidak menyediakan tempat shalat yang layak bagi karyawannya yang muslim, meski di kantor itu jumlah karyawan muslimnya mayoritas. Pernah di sebuah kantor perusahaan besar dan ternama saya shalat berjamaah bersama beberapa karyawan di suatu ruang kecil yang dinamakan “mushola”. Ruangan bekas gudang itu tak lebih dari ukuran 2×3 m. Saking kecilnya kami shalat jamaah bergantian karena paling hanya bisa diikuti empat hingga lima orang saja. Padahal karyawan beragama Islam dominan di kantor tersebut. Ruangan itu pun menjadi mushola setelah diperjuangkan cukup lama.

Sekarang di jejaring sosial muncul kembali kabar diskriminasi terhadap umat muslim di propinsi Bali. Setelah sebelumnya ada kebijakan yang melarang siswi berkerudung di sekolah, kini sebuah swalayan besar juga melarang karyawatinya berkerudung. Bukan hanya itu sekelompok orang yang mengaku beragama Hindu juga mendesak agar bank-bank syariah juga tak eksis lagi di pulau tersebut.

Alasan mereka yang membuat kebijakan diskriminatif dan intoleran tersebut juga selalu mengada-ada. Gerakan anti jilbab dan menolak bank syariat itu dilandasi pemikiran sempit untuk melindungi kearifan lokal. Mereka mengulang lagu lama bahwa syariat Islam itu tidak berasal dari nilai-nilai asli Nusantara.

Orang yang berpendapat seperti itu lupa, bahwa tidak ada satupun agama asli Indonesia. Semua agama resmi yang diakui oleh negara ini berasal dari luar Nusantara, termasuk agama Hindu. Bila kita membaca wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Hindu_di_Nusantara) jelas terlihat bahwa agama inipun datang dari luar Indonesia. Agama asli penduduk Nusantara pada masa itu adalah animisme dan dinamisme. Lalu bagaimana bisa ada orang menuduh syariat Islam adalah satu-satunya ajaran yang bukan asli dari budaya Nusantara. Kalau mereka mau jujur, harusnya larangan itu berlaku untuk semua agama, termasuk Hindu.

Kalau mereka beralasan bahwa di muslim di sana minoritas sehingga harus tunduk pada mayoritas, maka inilah paham intoleransi yang fasis. Inilah ketidakadilan paham toleransi yang berkembang di tanah air selama ini. Ajaran toleransi selalu dipaksakan kepada kita, kaum muslimin yang mayoritas, tapi tak pernah diajarkan kepada kelompok minoritas. Rumusnya hanya dua; 1. Muslim wajib toleran pada umat lain, 2. Umat lain tidak wajib toleran pada kaum muslimin.

Bila ada non-muslim yang merasa hak ibadahnya terhalangi seolah sah untuk menuntut, dan wajib didengarkan dan dituruti oleh pemerintah dan umat Islam. Tapi tidak berlaku untuk kaum muslimin. Kasus gereja Yasmin di Bogor, misalnya cepat direspon oleh banyak kalangan. Media massa nasional pun berebut memberitakannya. Bahkan yang ironi, tokoh-tokoh nasional yang beragama Islam pun merasa wajib turun tangan membela hak minoritas.

Tapi banyak muslim yang tak berdaya dan tak didengarkan aspirasinya saat hak-haknya teraniaya. Padahal banyak karyawan muslim yang sekedar menunaikan kewajiban shalat pun kesulitan; jam kerja padat dan tak ada tempat layak untuk shalat. Di hari raya agama lain, banyak karyawan muslim juga dipaksa mengenakan atribut agama-agama milik bosnya. Publik juga dibuat tutup mata bahwa banyak karyawati, polwan, pramugari atau siswi yang hingga kini dilarang berkerudung apalagi berjilbab.

Keadaan ini sudah terjadi semenjak berpuluh tahun. Kemudahan berjilbab baru dirasakan umat Islam pada penghujung tahun 80-an. Itupun masih terus dipandang dengan penuh kecurigaan. Label syariat juga masih terus dianggap ekstrem kanan sejak lama. Ironi, padahal mayoritas pendiri bangsa ini adalah para alim ulama yang bergerak memerdekakan bangsa dengan semangat keislaman. Seolah tak ada rasa terima kasih kepada umat Islam.

Bahkan seandainya bukan karena sikap toleran dari umat Islam, tak mungkin berkembang rumah-rumah ibadah agama lain, sekolah agama lain, dan bisnis serta pemerintahan di tangan umat beragama lain. Itu semua terjadi karena kemurahan hati umat Islam. Pertanyaannya adalah; kapan mereka mau belajar toleran pada umat Islam?

Maka umat harus sadar bahwa sudah terjadi permainan politik dan opini oleh media untuk memperdaya umat Islam. Media massa berada di tangan orang-orang sekuler yang tak pernah mau berpihak pada kepentingan umat Islam. Banyak kalangan merasa gerah dengan menggeliatnya semangat cinta syariat di tanah air. Apalagi dengan maraknya dakwah yang menyerukan penegakkan syariat Islam dan khilafah. Allah SWT. ingatkan hal ini dalam firmanNya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (QS. Ali Imran: 118)

Sementara itu kalangan non-muslim masih termakan opini propaganda monsterisasi ajaran Islam. Bahwa syariat Islam itu mengancam dan momok bagi kalangan di luar Islam. Kondisi ini diperparah dengan praktek-praktek syariat Islam yang menyalahi syariat itu sendiri. Seolah ada grand design untuk menciptakan monsterisasi akan ajaran Islam.

Dalam kondisi sekarang ini dibutuhkan keberanian dan ukhuwah Islamiyyah untuk menghadapi tindakan diskriminatif terhadap umat. Hilangkan perbedaan kelompok untuk membela kepentingan umat dan ajaran Islam. Jejaring sosial bisa dimanfaatkan untuk meniupkan opini besar akan tindakan diskriminatif ini.

Di sisi lain perjuangan untuk menegakkan syariat Islam dan khilafah Islamiyyah harus terus digulirkan hingga tegak keduanya. Karena hanya dengan tegaknya ajaran Islam dalam naungan khilafah, ajaran Islam sebagai rahmat akan disaksikan oleh dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.