Merindukan Khilafah Yang Ramah dan Penuh Ukhuwah

ukhuwahTulisan ini saya buat di tengah gemuruhnya trending topic negara Islam. Gemuruh itu bergema hingga ke pergaulan dan pastinya ke jejaring sosial. Lazimnya sebuah hal yang baru pro dan kontra pun bermunculan. Belum lagi orang-orang sekuler, fasik dan munafik yang ikut-ikutan mencela para aktifis Islam. “Baguslah, biar pasukan berjenggot itu segera angkat kaki dari Indonesia” begitu harapan mereka.
Saya tak ambil pusing dengan omongan mereka yang sekuler, karena pikiran mereka memang tidak lurus.

Di kalangan aktifis dakwah, setiap kubu memiliki pandangan tersendiri. Saya juga (insya Allah) demikian. Apalagi ini masalah yang besar. Meminjam omongan seorang kawan saya, “ini bukan cuma masalah batal wudhu!” Ya, kalau persoalan buang angin itu membatalkan wudhu atau tidak, efeknya hanya kepada perorangan. Tapi urusan negara itu menyangkut keumatan. Seluruh dunia. Karenanya tidak gampang untuk kemudian mengatakan “iya” ataupun “tidak”. Semua serba berhati-hati.

Hanya saja yang membuat saya ngeri adalah bagaimana cara saudara-saudara saya yang seiman menanggapi perbedaan pendapat tersebut. Seolah perbedaan pendapat jadi “penghalal” cacian, celaan dan sumpah serapah kepada saudara seiman. Saya paham bahwa apa yang akhi/ukhti bela adalah sesuatu yang sangat besar nilainya, tapi apakah kemudian itu menjadi legitimasi untuk bertindak kasar pada saudara seiman? Maaf, bukan bermaksud mengajari tapi saya teringat dengan pesan Nabi saw.:

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
Setiap muslim atas muslim adalah haram; darahnya, hartanya dan kehormatannya (HR. Muslim)

Sungguh sulit bagi saya untuk percaya membaca berbagai postingan saudara saya yang ada di barisan perjuangan agama ini tega mencaci maki saudaranya yang seiman, hanya karena perbedaan pendapat. Terkadang saya merenung; bagaimana bisa mengkaji Islam dan mendakwahkannya bisa membuat fitrah manusia yang lembut berubah menjadi kasar dan pemarah? Bukankah para ulama mujtahid yang mukhlis saat pendapatnya diserang mereka membalasnya dengan elegan dan penuh keilmuan? Bukan mencaci maki para pengkritiknya?

Selentingan saya mendengar bahwa ada saudara seiman yang berani mengkafirkan muslim yang tidak mendukung perjuangannya. Karenanya darahnya menjadi halal untuk ditumpahkan. Seorang kawan memposting tulisan seorang pejuang dakwah yang menuliskan pendapat ulama salaf tentang keutamaan memerangi muslim yang murtad ketimbang memerangi orang kafir asli. Subhanallah!
Ada juga yang menyamakan kami dengan kaum murtad yang menolak membayar zakat di masa kekhilafahan Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Sehingga memang benar murtad dan layak diperangi. Duh, benarkah seperti itu qiyas-nya?

Saya selalu berpikir negara Islam itu mencintai umat manusia, giat melakukan ri’ayah, istiqomah dengan syariat sehingga menjadi magnet bagi orang-orang yang belum mengetahuinya. Persis seperti apa yang Allah firmankan dalam QS. an-Nashr.
Lalu bagaimana masyarakat awam yang hanya tahu soal beras dan tarif listrik bisa jatuh cinta, bila gambaran yang mereka dapat negara Islam dan para pengikutnya itu biasa mencaci maki, mengumbar sumpah serapah, apalagi bila benar gampang mengkafirkan sesama muslim apalagi bila sering menumpahkan darah.

Saya tetap percaya bukan seperti itu gambaran negara Islam. Khilafah Islamiyyah yang saya dan kawan-kawan rindukan bukan hanya penuh ketegasan tapi juga pengayoman kepada seluruh insan. Para punggawanya ramah dan bersahaja lagi penuh ukhuwah. Bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan muslim lain meski berbeda pendapat dengan mereka. Saya masih percaya dan masih menunggu serta masih berjuang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *