
Ahmed, a Rohingya refugee man cries as he holds his 40-day-old son, who died as a boat capsized in the shore of Shah Porir Dwip while crossing Bangladesh-Myanmar border, in Teknaf, Bangladesh. Reuters
Tidak ada pengungsi terbesar sepanjang sejarah melebihi umat Muslim. Pengungsi Ukraina diperkirakan mencapai 8 juta jiwa selama konflik bersenjata dengan Rusia. Sementara jumlah pengungsi Suriah sudah mencapai 6,5 juta jiwa, tambah pengungsi Gaza yang mencapai 1,9 juta jiwa, lalu 1,5 juta warga Yaman, dan tambah lagi pengungsi Rohingya yang diestimasikan mencapai 700 jiwa.
Tidak semua pengungsi beruntung. Ada yang diterima di negara lain, ada yang terkatung-katung di perjalanan terutama di samudera, ada yang dipaksa kembali ke negara asalnya, ada yang meninggal sebelum mencapai daerah tujuan. Ironinya, sebagian muslim menjadi pengungsi di negerinya sendiri seperti di Yaman juga Palestina
Belakangan isu pengungsi Rohingya menjadi salah satu sentral pembicaraan di media sosial. Marak akun di media sosial yang berisi kecaman dan penolakan terhadap warga Rohingya. Beragam alasan dikemukakan; soal perilaku mereka yang dianggap tidak punya adab, membuat masalah di kawasan penampungan, sampai menyamakan mereka dengan kaum zionis Yahudi yang akan merebut wilayah penampungan menjadi negara mereka. Tidak sedikit akun-akun dengan follower besar, termasuk akun dengan identitas muslim menyuarakan penolakan terhadap kedatangan pengungsi Rohingnya.
Ada beberapa sebab mengapa muncul suara-suara penolakan menampung Muslim Rohingya. Pertama, tindakan gebyah uyah/menggeneralisir tindakan satu atau beberapa orang terhadap semua orang Rohingya. Sikap dan tindakan ini berbahaya dan membuat kita menjadi sempit dalam berpikir.
Bukankah hal yang biasa terjadi dalam lingkungan tinggal ada tetangga kita yang berasal dari suku A, misalnya, kemudian membuat masalah di kawasan, tapi kita tidak mengusir semua orang yang satu suku dengannya hanya karena ulah satu atau beberapa orang dari mereka? Bukankah kita malah tetap berusaha menjaga keutuhan dan kebersamaan.
Saat ada seseorang dari suku yang berbeda melakukan perbuatan negatif maka yang muncul dalam pikiran kita bahwa itu adalah oknum, bukan karakter semua orang dari suku tersebut. Memang, ada karakter khas pada sebagian suku daerah atau bangsa, tapi dengan akal dan nurani – apalagi keimanan kita sebagai muslim – kita memilih untuk mentolerir hal itu selama bukan kemaksiatan.
Apalagi bila kita mengingat nasib Muslim Rohingya yang puluhan tahun mengalami penindasan, dimiskinkan, dan dibuat terbelakang, adalah hal yang mestinya dimaklumi bila kemudian terbentuk sebagian karakter yang menurut kita itu tidak patut. Mereka tidak punya kesempatan membangun karakter yang positif, karena sibuk untuk survive. Pikirkan juga mereka bukan saja kehilangan sumber ekonomi dan tempat tinggal, tapi juga kehilangan sanak keluarga yang dibantai junta militer Budha. Pasti mereka mengalami depresi yang berat.
Seharusnya yang diselesaikan adalah kekejaman junta militer terhadap warga Rohingya. Bukan menyalahkan warga Rohingya yang menjadi korban tindakan sadis pemerintah Myanmar. Aneh, bila malah warga yang sudah jadi korban malah disalah-salahkan.
Kedua, kekhawatiran opini penolakan terhadap pengungsi asal Rohingya itu datang sebagai pengalihan terhadap sejumlah isu penting, misalnya terhadap krisis di Palestina. Sejumlah akun yang menyuarakan penolakan itu menyamakan para pengungsi dengan kaum zionis yang bisa merebut lahan pengungsian. Ini jelas penyesatan opini bahkan memutarbalikan fakta kalau sesungguhnya muslim Rohingya yang mengungsi adalah korban junta militer yang pro Zionis Yahudi.
Bisa juga provokasi terhadap kedatangan warga Rohingnya itu untuk melawan penolakan dan kritik terhadap banjirnya TKA asal Tiongkok yang dikeluhkan banyak warga pribumi, juga banyak pihak. Dimana TKA itu banyak yang mengambil pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan tenaga kerja lokal, juga fakta kesenjangan gaji antara pekerja pribumi dengan para TKA dengan level pekerjaan yang setara. Isu negatif tentang perilaku warga Rohingya yang muslim jadi sentral untuk menutupi persoalan TKA asal Tiongkok.
Penolakan dan kritik terhadap banjirnya TKA asal Tiongkok ke tanah air bukan didasari pada xenofobia, tapi pada tidak didapatnya keadilan ekonomi. Mengapa negara malah memprioritaskan TKA ketimbang tenaga kerja lokal, padahal itu bisa meningkatkan taraf hidup mereka?
Ketiga, umat Muslim patut waspada munculnya kelompok yang mengusung paham ultranasionalisme yang memunculkan sikap xenofobia yakni kebencian pada warga asing, dan chauvinisme alias merendahkan bangsa lain. Dua sikap ini adalah bagian dari nasionalisme level lebih tinggi lagi. Bukan sekedar cinta dan bangga tanah air, tapi juga merendahkan dan membenci orang asing.
Di sejumlah negara, nasionalisme telah melahirkan sikap-sikap tersebut. Penduduk Korea Selatan dikenal mengidap xenofobia, terutama di kalangan generasi tuanya. Mereka lebih menyukai warga Eropa ketimbang warga Asia seperti dari Tiongkok atau lainnya. Atau, penduduk AS masih banyak yang menganut xenofobia terhadap warga asal Meksiko atau Asia.
Disayangkan, ada sebagian muslim yang ikut terprovokasi isu penolakan pengungsi Rohingya. Bisa jadi karena mereka tidak melihat hal itu secara holistik alias menyeluruh. Juga belum memahami perintah menolong sesama muslim yang diperintahkan Nabi Saw:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ
Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutupi seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya. (HR. Muslim)
Persoalan pengungsi Rohingya, juga pengungsi-pengungsi muslim lain di seluruh dunia, yang hari ini menjadi pengungsi terbesar di dunia. Bahkan ada muslim yang menjadi pengungsi di negaranya sendiri seperti warga Palestina, Suriah, dsb. Semua penyebabnya adalah ketiadaan perisai umat yang melindungi mereka, yakni Khilafah yang menyatukan umat.
Hari ini para pengungsi dihadapkan pada tapal batas rill dan imajiner antar negeri muslim. Hanya karena berbeda suku bangsa, mereka tidak pantas memasuki wilayah saudaranya. Bahkan dianggap pembawa sial dan masalah bagi saudaranya sendiri. Inilah penyakit nasionalisme yang berkembang menjadi ultranasionalis lalu chauvinis dan xenofobia.
Sementara itu Islam telah lama mengubur dalam-dalam sekat perbedaan suku bangsa, termasuk paham nasionalisme. Itu diawali dari penyatuan kaum Muhajirin dan Anshar, lalu berlanjut peleburan kaum muslimin di berbagai negeri. Semua negeri muslim adalah sama, dan setiap muslim punya hak untuk bepergian dan tinggal di negeri muslim manapun. Itulah kaum muslimin dalam naungan Khilafah.
Bahkan, sejarah mencatat bagaimana Khilafah Utsmaniyyah di era Sultan Bayazid II menampung para pengungsi Yahudi dari Spanyol. Ketika kaum Yahudi berada dalam ancaman inkuisisi kerajaan Kristen Spanyol, mereka mencari suaka ke Khilafah Abbasiyah. Umat butuh Khilafah untuk melindungi muslim di seluruh dunia.

Leave a Reply