Suami pun Bisa Menangis (2) Tak Ada Keringat Menetes Yang Sia-sia

holding handsKita sering tidak tahu efek pertemanan kita di masa depan terhadap seseorang yang kita cintai. Mungkin hari ini Anda, para istri, merasa bukan sebagai seorang permaisuri di mata suami hanya karena laki-laki yang menemani Anda selama ini amat ‘irit’ dalam memuji. Hal sederhana seperti itu terkadang bisa membuat para istri merasa begitu desperate. Lalu berprasangka seluruh effort dan cinta yang Anda tumpahkan seperti menuangkan air di gurun pasir yang kering. Tak berbekas.

Benarkah demikian?

Sebetulnya tidak. Kaum lelaki biasanya memang sedetil perempuan dalam memperhatikan apa yang dilakukan istri mereka. Banyak suami yang juga tidak trampil mengolah kata-kata dan menghidangkannya sebagai untaian bait romantis bak lirik lagu yang sering disenandungkan Julio Iglesias dalam nada vibrasinya yang seksi. Tapi di dasar lubuk hatinya mereka menyimpan rasa berkata, ‘thanks God I’ve found you’.

Mungkin terkadang mereka juthek di depan para istri. Seperti kurang perhatian atau seperti sudah lupa akan kemesraan di awal pernikahan. Namun, janganlah sikap mereka yang seperti demikian membuat Anda para istri merasa m-e-n-y-e-s-a-l telah menikah dengannya. Lantas mengurangi effort Anda, kaum Hawa, dalam menjaga hati mereka dan merawat kasih sayang dalam rumah tangga.

Percayalah, suatu saat mereka akan menitikkan air mata mengingat satu di antara sekian anugrah Allah yang terbesar dalam hidup mereka; yaitu Anda sebagai istrinya.

Itu yang saya dengar dan saksikan dari sejumlah suami yang bercerita di hadapan saya. Suatu waktu seorang kawan yang masih usianya lebih muda ditinggal berpulang ke rahmatullah oleh istrinya tercinta yang sudah memberinya tiga anak yang lucu-lucu. Ia bercerita dengan lirih, “Kadang-kadang tanpa saya sadari dan bisa saya tahan air mata saya berlinang, kang. Saya merasa dia adalah wanita sempurna untuk saya.”

Air matanya bisa begitu saja menetes saat ia mengendarai motornya melewati tempat-tempat di mana mereka pernah berduaan menghabiskan waktu. Apakah ini air mata kepura-puraan? Tentunya tidak. Tapi air mata hasil jerih payah dan ketulusan seorang istri yang bertahun-tahun mencintainya.

Kali lain saat saya menghadiri majlis talim, kemudian seorang bapak paruh baya yang baru saja dirundung duka karena kematian istrinya membuka acara sekaligus meminta hadirin memanjatkan doa untuk orang yang dikasihinya. Dengan suara terputus-putus dan mata berkaca-kaca ia berbicara di hadapan jamaah,”Saya masih ingat bagaimana saya setiap hari selama tiga tahun terakhir merawat ibu (istrinya –pen), menyuapinya, dan sebagainya.”

Saya hanya bisa terhenyak menyaksikan dua orang lelaki yang sama-sama lunglai karena women’s effect. Selama ini otak pria selalu didominasi pikiran bahwa hanya kekuatan yang dapat menguasai dunia. Tapi mereka akan segera tiba pada suatu momentum bahwa kelembutan seorang wanita dapat meluluhlantakkan arogansi mereka.

Maka, para wanita, kebaikan dan kelembutan yang Anda curahkan setiap hari dengan tulus kepada suami, tak akan sia-sia. Sebenarnya Anda tengah menabung memori indah ke dalam hidup suami Anda. Sehingga lelaki yang setegar apapun tak akan kuasa meneteskan air mata saat mengingat betapa wanita yang kini berada di sisinya ternyata telah mencurahkan kasih sayang yang teramat luar biasa. Bak air sungai yang mengalir perlahan tapi akhirnya mengikis bebatuan keras yang dilewatinya.

Teruslah melayani suami dan taat kepadanya dengan tulus. Kelembutan Anda, para istri, akan menjadi pengikat hati di antara Anda dengan pasangan Anda. Buatlah si dia suatu ketika meneteskan air mata karena limpahan kasih sayang Anda. Momen itu akan terjadi. Insya Allah. Sekarang ataupun nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.