Kapak dan Kerja

workMana yang lebih penting; memberi kail atau umpan? Rasulullah saw. mengajarkan kita untuk memberikan keduanya.

Imam Ahmad & Tirmidzi mengeluarkan hadits yang mengisahkan bahwa ada seorang pria Anshor yang mendatangi Nabi saw. karena kesulitan ekonomi. Nabi saw. lalu bertanya kepadanya, “Apakah ada sesuatu (yang bisa engkau jual) di rumahmu?” Pria itu menjawab, “Ada…”

Nabi berkata lagi, “Datanglah kepadaku dengan dua barang itu.” Lalu ia mendatangi Rasulullah saw. sembari membawa dua barang dari rumahnya. Kemudian Nabi saw. mengambil keduanya dan berkata kepada khalayak, “Siapa yang mau membeli dua barang ini?” Seseorang lalu menjawab, “Aku mengambilnya dengan harga 2 dirham!”

Serah terima lalu terjadi dan Rasulullah saw. menyerahkan uang dua dirham hasil penjualan tadi kepada lelaki Anshor tadi sambil berkata, “Belikanlah sesuatu dengan satu dirham dan berikanlah kepada keluargamu, dan belikanlah kapak dengan satu dirham lalu datanglah kepadaku!”

Laki-laki itu kemudian mendatangi Rasulullah saw. dengan membawa kapak. Nabi saw. memegang kapak itu erat-erat dan berkata, “Pergi dan carilah kayu bakar lalu juallah, dan janganlah aku melihatmu dalam waktu 15 hari.”

Orang tersebut kemudian melakukan apa yang diminta Nabi saw. sampai kemudian ia datang lagi dan sudah membawa uang sebanyak 10 dirham hasil penjualan kayu bakar.

Para pembaca yang dirahmati Allah, apa yang dilakukan Nabi saw. dalam kisah tadi memberikan sejumlah pelajaran berharga, yakni:

  1. Islam mendorong seorang muslim untuk struggle mencari nafkah. Pria anshor yang mendatangi Nabi saw. diperintahkan untuk menjual barang yang dia punya sebagai nafkah keluarga dan modal usaha yaitu membeli kapak.
  2. Rasulullah saw. mengajak sesama muslim untuk saling menolong dengan cara menawarkan barang milik orang Anshor itu untuk dilelang.
  3. Islam menjauhkan sifat meminta-minta dari seorang muslim. Pria Anshor tadi Nabi perintahkan untuk menjual barang miliknya menggambarkan bahwa bila kita masih bisa berikhtiar maka teruslah berusaha. Andai tak ada modal maka aset yang ada bisa dijadikan sebagai modal dengan cara menjualnya baik sebagai nafkah ataupun modal usaha. Itu lebih baik daripada mengemis. Dengan cara ini kemuliaan seorang muslim tetap terjaga sehingga orang lain akan tetap memberikan respek kepadanya.

Terakhir, negara memang punya tanggung jawab menjamin kehidupan rakyatnya termasuk memberikan lapangan pekerjaan. Solusi yang diberikan Nabi saw. amat luar biasa. Beliau menjaga kemuliaan pria anshor tadi dengan menyuruhnya menjual aset yang dia punya untuk nafkah keluarga dan modal usaha. Ini jauh lebih istimewa daripada sekedar memberinya uang.

Masyarakat yang ditimpa kemiskinan punya dua kebutuhan; kebutuhan pokok dan modal usaha. Dua kebutuhan itu yang kemudian dipenuhi oleh negara. Hanya memberikan kebutuhan pokok tidak memecahkan masalah. Lihat saja program BLT yangseperti menyiramkan air ke padang yang gersang. Nyaris tak berbekas. Karena rakyat juga butuh ketrampilan dan modal usaha.

Sebaliknya, hanya memberikan modal usaha tapi tidak memperhatikan kebutuhan hidup rakyat juga mustahil jadi solusi. Modal itu ujung-ujungnya akan habis jadi ‘modal’ di dapur. Logika ‘kail lebih baik ketimbang umpan’ tidak selalu tepat. Baik kebutuhan pokok maupun modal usaha harus sama-sama dipenuhi.

Jadi, Islam memberikan solusi yang spesial. Menjamin kebutuhan hidup warga sambil membangun mental wirausaha dan cinta bekerja. Amazing!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.