Semua Ada Tempatnya

pengemis“Maksud kita menceritakan keberhasilan bisnis kita kan untuk tasyakkur dan tahadduts bi ni’mah, bukan untuk pamer,” komentar seorang kawan. Ia keberatan ketika saya mengatakan bahwa kita harus berhati-hati menyebutkan berbagai kenikmatan yang Allah limpahkan kepada kita. Apakah itu pencapaian sukses bisnis, punya rumah baru, kendaraan baru (benar-benar beli baru bukan second apalagi third maupun forth), atau punya anak-anak yang sehat dan pintar.Sambil tak lupa ia menyitir firman Allah dalam surat adh-Dhuha, “Adapun terhadap nikmat Rabbmu, hendaklah engkau menyebutnya.”

Perkataan kawan saya benar. Saya juga mendukungnya dan bersyukur bila ia mendapatkan kesuksesan hidup. Semoga menjadi berkah baginya. Imam Hasan bin Ali radliallahu ‘anhuma berkata, “Bila engkau mendapatkan nikmat maka beritahukanlah kepada saudaramu.”

Rasulullah pernah menegur seorang sahabat yang berpenampilan jauh dan bertentangan dengan kenikmatan yang diterimanya. Seperti yang dikisahkan oleh Imam Al-Baihaqi bahwa salah seorang sahabat pernah datang menemui Rasulullah saw. dengan berpakaian lusuh dan kumal serta berpenampilan yang membuat sedih orang yang memandangnya. Melihat keadaan demikian, Rasulullah bertanya, “Apakah kamu memiliki harta?” Sahabat tersebut menjawab, “Ya, Alhamdulillah, Allah melimpahkan harta yang cukup kepadaku.” Maka Rasulullah berpesan, “Perlihatkanlah nikmat Allah tersebut dalam penampilanmu.” (Syu’abul Iman, Al-Baihaqi)

Meski demikian semua ada ketentuannya. Tahadduts bi ni’mat harus dibarengi dengan niat tulus ikhlas mensyukuri nikmat Allah, jauh dari sifat berbangga atau tafakhkhur. Karena tafakhkhur jelas perbuatan dosa sebagaimana Allah sebutkan dalam surat Luqman ayat ke-18,

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak nyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Kedua, para ulama juga mengajarkan kita untuk berhati-hati saat tahadduts bi ni’mat tadi. Manakala dikhawatirkan menimbulkan rasa hasad pada orang yang mendengarnya maka lebih baik seorang muslim menjaga diri. Hal ini tidak termasuk kufur ni’mat.

Selain khawatir ada orang yang jatuh menjadi hasad saat mendengar kenikmatan yang Allah limpahkan pada kita, tahadduts bi ni’mat pun alangkah baiknya dibarengi dengan jiwa empati. Merasakan suasana orang-orang di sekitar kita. Misalnya, apakah pantas kita meluapkan kegembiraan karena baru mendapatkan momongan di hadapan orang yang baru saja kehilangan putra kesayangannya? Atau kita menceritakan keindahan pernikahan kita di hadapan kawan yang baru saja bercerai?

Terakhir saya tutup perbincangan kita kali ini dengan kisah seorang ulama tasauf  bernama Sirri al-Saqothi yang konon ia beristighfar selama tiga puluh tahun karena ucapan alhamdulillah yang keluar dari mulutnya. Ketika orang-orang kebingungan dengan perkataannya, ia menceritakan pengalaman hidupnya.

Sirri berkata,”Saat itu aku memiliki toko di Bagdad, suatu saat aku mendengar berita bahwa pasar baghdad hangus dimakan api, padahal tokoku berada di pasar tersebut. aku bersegera pergi ke sana untuk memastikan apakah tokoku juga terbakar atau tidak? seseorang lalu memberitahuku,’Api tidak sampai menjalar ke tokomu.’ aku pun mengucapkan Alhamdulillah. setelah itu terpikir olehku,’ apakah hanya engkau saja yang berada di dunia ini? Walaupun tokomu tidak terbakar, bukankah toko-toko orang lain banyak yang terbakar. Ucapan “Alhamdulillah”-mu menunjukkan engkau bersyukur bahwa api tidak membakar tokomu. Dengan demikian engkau telah rela toko-toko orang lain terbakar asalkan tokomu tidak terbakar! Lalu akupun berkata pada diriku sendiri lagi,” tidak adakah barang sedikit perasaan sedih atas musibah yang menimpa banyak orang di hatimu, wahai Sirri”. š

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.