Kamar Kakak

kakak“Kakak, kamarnya dirapikan dong! Ih berantakan banget sih, kamar kakak nih,” omelan seperti itu cukup sering keluar dari mulut saya, seorang ayah, untuk anak kami yang nomor dua, Rifqiy. Hari itu saya ngedumel karena kamarnya yang berantakan. Dan always seperti itu. Handuk tergeletak di lantai, baju seragam kemarin tidak disimpan di tempat cucian, dan hmm…kasurnya terasa ngeres karena debu. Maka saya sering menegurnya.

Pemilik kamarnya sih biasa saja, meski terlihat ekspresi kesal karena mungkin sering saya tegur. Dongkol terlihat dari bahasa tubuhnya saat Kakak – panggilan kesayangan kami – ia mengangkat handuk ke tempat jemuran.

Entah kenapa saya lebih sering menegur atau tepatnya memarahi putra kami yang nomor dua. Ada saja yang membuat saya kesal. Shalat subuh sering tidak tepat waktu, mainan berantakan, atau piring bekas makanannya yang tidak segera ia cuci.

Sampai suatu ketika saya dan istri makan siang terjadilah dialog yang menyentak batin saya. “Yah, beda ya antara anak pertama kita dengan adiknya. Aa – sebutan putra pertama kami – baru minta kamar sendiri setelah kelas lima, sebelum itu Aa belum minta kamar terpisah. Keliatannya Kakak belum siap punya kamar sendiri, “ ujar istri saya.

Saya tertegun. Ya, saya baru ingat kalau anak pertama yang mengusulkan kamar terpisah waktu itu setelah ia naik kelas lima SD. Sebelum itu ia belum minta kamar sendiri. Artinya, ia memang sudah minta privasi dan siap dengan konsekuensi punya kamar sendiri. Wajar bila kemudian kamar putra kami yang pertama lebih rapih dibandingkan adiknya yang baru kelas 3 SD.

Itu juga yang membuat Rifqiy sering tertidur pulas di depan tivi atau di kamar kami. Bahkan terkadang ia minta saya menemaninya tidur. Ia memang belum nyaman tidur di kamarnya sendiri. Apalagi kamar mereka ada di lantai atas. Mungkin ada perasaan tidak nyaman terpisah cukup jauh dari kamar orang tuanya.

Saya jadi tersadarkan bahwa memisahkan kamar tidur seperti perintah Rasulullah saw., saat anak berumur sembilan tahun bukan berarti menghilangkan perasaan comfortable & secure pada anak. Meski sudah harus dipisah, tapi orang tua jangan sampai menghilangkan dua hal itu, karena mereka memang tetap masih anak-anak. Belum baligh.

Menyerahkan tanggung jawab pemeliharaan kamar secara penuh pada anak juga suatu hal yang tidak sepenuhnya bisa dibenarkan. Ada hal-hal dimana kami sebagai orang tua memang masih harus turun tangan, seperti merapikan sprei, merapikan buku- buku pelajaran, atau mengontrol kalau-kalau ada pakaian kotor tercecer di kamar anak-anak.

Ternyata saya salah. Seharusnya saya tidak menyerahkan tanggung jawab pengurusan kamar sepenuhnya pada kakak. Ia baru sembilan tahun. Ia memang sudah harus belajar bertanggung jawab, tetapi bukan berarti mendudukkannya sebagai orang dewasa, atau sama dengan kakaknya yang menjelang SMP. Saya harus lebih sabar dan membantunya menjadi anak yang bertanggung jawab.

Ah, kakak, semoga kamu memaafkan kesalahan ayah dan kelak tumbuh sebagai orang yang bertanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.