Reuni, Kenangan dan Masa Depan

Seperti sudah menjadi suratan hidup, kebanyakan manusia memang senang dengan reuni. Ada bagian dari kehidupan kita yang kembali berdenyut saat berkumpul dengan kawan-kawan lama. Saat mengenang serpihan-serpihan dari masa lalu kita ada bagian dari otak dan hati kita yang bicara soal masa lalu dengan penuh letupan. Entah soal tempat nongkrong, grup band favorit, lagu kenangan, guru yang killer, sampai asmara yang kandas atau berlanjut ke pelaminan.

Itu juga yang terjadi saat beberapa kawan mengajak saya kumpul di Kebon Raya untuk melakukan reuni akhir Oktober kemarin. Celetukan dan candaan jadi menu utama di acara kumpul-kumpul di lapangan rumput yang beberapa kali diguyur gerimis di Kota Hujan, Bogor. The boys are back in town, teriak Bon Jovi beberapa tahun silam saat saya SMP.

Tapi ijinkanlah saya untuk bicara serius soal reuni. Yakni soal looking glass itself. Memandang diri sendiri dari perjalanan waktu. Berkumpul dengan kawan lama justru mengingatkan saya pribadi kalau saya sudah tua. OMG, saya sudah menjalani lebih dari separuh umur Rasulullah saw. yang 62 tahun lebih. Rambut saya sebagian sudah memutih, sebagian kawan saya juga demikian. “Sudah meninggalkan dunia hitam,” tutur rekan saya suatu ketika. Rambut putih atau uban yang disebut dalam surat ar-Rum sebagai pertanda masuknya kita di fase akhir kehidupan.

 

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”(QS. Ar-Rum: 54)

 

Maka reuni bisa jadi sesuatu yang menyiratkan kecemasan, bahwa waktu adalah mahluk fana. Ia bakal menemui ending-nya suatu ketika. Dan saat jarum jam kehidupan telah berputar ia tak bisa diputar ke belakang. Kita harus terus berjalan dengan membawa kenangan masa lalu. Dan orang yang terbaik adalah yang tidak hidup dalam kenangan, tapi menatap ke depan dengan tujuan memperbaiki diri.

Meski tidak semua orang mau melakukan itu, karena sebagian orang merasa dirinya sudah on the right track dalam jalur hidupnya, tapi kita harus mampu melakukan perubahan dalam diri. Sebagaimana pesan ahli ilmu, “Orang yang terbaik adalah yang hari ini lebih baik dari hari kemarin.”

Untuk menjadi orang terbaik dari kenangan masa lalu bukanlah meratapi masa lalu. Karena kucuran air mata tak akan mengubah apapun dalam kenangan hidup kita. Pepatah Cina mengatakan, “Bahkan kaisar sekalipun tak akan mampu membeli waktu yang telah berlalu.”

Pengalaman hidup yang telah menjadi kenangan bisa menjadi guru terbaik dalam kehidupan kita. Bahwa kesalahan dalam hidup tak ada di bangku kuliah, tak bisa diajarkan oleh dosen yang paling cerdas sekalipun. Tapi kehidupan itulah yang mengajarkannya pada kita, dan kita menjalaninya untuk bisa mengambil hikmahnya sepenuh yang bisa kita raup. Bahwa seorang mukmin tidak boleh dua kali dipatuk ular di lubang yang sama.

Dalam reuni yang pernah saya hadiri, di manapun, selalu hadir senyum kecut sebagian orang saat menemukan masa lalu mereka. Ada yang malu karena pernah berbuat salah pada kawan dan belum sempat meminta maaf, ada yang menjadi gagap karena bertemu cinta lamanya yang kandas, dsb. Andai kita jujur saat melakukan reuni, maka kita sebenarnya tengah menapak tilasi lorong waktu meski sepintas. Kadang kelam, kadang benderang. Kadang manis, kadang sepahit jadam. Seperti kata iklan, life is never flat.

Bisa dipahami bila ada sebagian orang  yang enggan hadir dalam sebuah acara bernama reuni. Di antaranya karena mereka cemas kenyamanan hidup mereka akan tersayat saat berkumpul dalam sebuah kenangan lama. “Saya takut cinta lama saya terangkat kembali, dan lupa bahwa saya sudah dikaruniai pasangan yang setia selama ini,” ungkap sebuah suara. Ia pernah jatuh cinta pada seorang dara manis meski akhirnya keduanya menjalani kehidupan rumah tangga masing-masing.

Semua memang berpulang pada niatan masing-masing. Bisa menjadi enerji positif, bisa negatif. Tetapi secara pribadi, bagi saya, reuni mengingatkan saya bahwa sekarang saya tengah berada di sebuah kapal yang mulai menua yang suatu saat akan karam dalam samudera kehidupan. Dalam muatan kapal itu ada inbox berisi masa lalu yang sebagian berharga untuk saya buka, dan sebagian lagi saya rasa tidak perlu dibuka lagi semata karena kekhawatiran saya menjadi insan yang tak mampu bersyukur.

Reuni akan menjadi bagian dari asahan permata kehidupan kita saat diniatkan sebagai cermin membangun kesadaran diri dan perbaikan diri. Bukan sekedar berisi hasrat untuk berkangen-kangenan, apalagi  — nau’zubillah min dzalik – untuk mengungkit

Maka, di penghujung tulisan ini, saya memanjatkan doa untuk semua kawan-kawan lama saya, apakah yang pernah memberikan kebaikan yang belum sempat saya balas, ataupun yang pernah mengalami gesekan dalam kehidupan ini. Kepada mereka yang pernah saya ungkapkan perasaan cinta sebagai sahabat, ataupun kepada mereka yang saya merasa malu untuk mengungkapkannya semata karena kelemahan saya sebagai manusia. Saya mendoakan dengan tulus agar kalian mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat dalam perjalanan hidup masing-masing. Karena tujuan hidup kita adalah jelas, menemukan kebahagiaan hakiki, yakni meraih ridlo Allah SWT.

 

اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنِِ قُلُوبِنَا وَ أَصْلِح ذَاتَ بَيْنِنَا وَ اهْدِنَا السُّبلاَ السَّلاَم وَ نَجِّنَا مِنَّا الظُّلُومَاتِ اِلَي النُّورِ

 

“Ya Allah persatukanlah hati kami dan perbaikilah segala urusan di antara kami, tunjukkilah kami ke jalan-jalan keselamatan, dan selamatkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya.”

NB: Jazakumullah khairan jaza untuk kawan-kawan Chastrive 35 yang sudah mengundang saya untuk hadir dalam acara reuni kemarin. Dan tanpa mengurangi rasa hormat saya, belum tentu saya bisa hadir terus dalam acara reuni angkatan kita. Barakallah fikum.

Incoming search terms:

  • reuni sekolah kita kadang kadang kembali masa lalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *