Khutbah Haji Wada’ Rasulullah saw.; Orasi Ideologis Pengingat Umat

Hanya dalam hitungan hari, jutaan saudara-saudara kita akan menunaikan rukun Islam yang kelima; berhaji. Ibadah yang telah Allah tetapkan bagi siapa saja di antara orang-orang beriman yang telah memiliki kemampuan untuk mengerjakannya. Bagi mereka, tidak patut untuk menolak kewajiban ini. Allah SWT. Berfirman:

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”(QS. Ali Imran [3]: 97).

Rasulullah saw. juga mengingatkan kaum muslimin akan pentingnya ibadah haji bagi mereka yang telah mampu. Sabdanya:

“Barangsiapa yang memiliki bekal perjalanan dan kendaraan tetapi tidak melakukan ibadah haji, maka Allah tidak mempedulikannya apakah ia mati sebagai Yahudi atau Nasrani.”(HR. Hilal Abu Hasyim al-Khurasani)

Sebagai balasan bagi orang-orang yang mengerjakan ibadah haji dengan keikhlasan dan kesungguhan, menjauhkan diri perkataan keji dan kotor serta tidak berbuat maksiyat, maka akan dibersihkan dari segala dosa layaknya manusia yang baru dilahirkan dari rahim ibunya. Nabi saw. bersabda:

“Barangsiapa mengerjakan ibadah haji dan tidak bercampur dengan perbuatan kotor dan fasik, niscaya ia akan kembali seperti pada saat dilahirkan oleh ibunya.”(HR. Bukhari & Muslim).

Kepada mereka yang mendapatkan gelar haji mabrur, Rasulullah saw. juga memberikan kabar gembira akan balasan yang besar dari Allah, yakni surgaNya.

“Umrah kepada umrah menghapuskan dosa yang terdapat di antara keduanya, sedangkan haji yang mabrur tidak ada balasan selain surga.”(HR. Bukhari, Muslim).

Meski demikian, ingatkah para jemaah haji dan segenap kaum muslimin akan makna ibadah haji yang diwajibkan oleh Allah SWT.? Bahwa ia bukan sekedar peribadatan akan tetapi mengandung ajaran ukhuwah Islamiyyah dan penegakkan syariat Islam sebagaimana yang disampaikan Rasulullah saw. dalam khutbah haji wada’-nya empat belas abad silam. Bagian inilah yang justru kini tenggelam dalam hiruk pikuk pelaksanaan ibadah haji.

Momentum Ukhuwah Islamiyyah

Sesungguhnya ibadah haji bukanlah sekedar berziarah ke Baytullah dan beranjangsana ke makam serta kediaman Rasulullah saw. Apalagi untuk kemudian menjadi turis yang memborong belanjaan di pasar. Sayangnya, hal itulah yang kini dirasakan oleh umat selama ini.  Ibadah haji hanyalah wisata ruhiyah dan rutinitas ritual tahunan.

Di sisi lain ibadah haji juga menjadi lahan bisnis yang menggiurkan. Ratusan miliar rupiah bisa dikeruk para pengusaha perjalanan haji dan tentu saja Departemen Agama RI. Menurut catatan  majalah Tempo saat biaya haji baru 20 juta rupiah, omzet pertahunnya bisa mencapai Rp 1,5 triliun! (Tempo, 2/3/1999).

Padahal, dalam sejarah, Rasulullah saw. dan para sahabat menjadikan ibadah haji sebagai perhelatan akbar untuk mengingatkan kaum muslimin akan persatuan umat dalam ikatan ukhuwah Islamiyah yang agung dan penegakkan syariat Islam. Hal ini tercermin dalam khutbah haji wada’ yang Beliau lakukan.

Berdiri di atas Lembah Uranah, Bukit Arafah pada tanggal 9 tahun 10 Hijriyah, Rasulullah saw. menyampaikan pesan yang sarat dengan arti pentingnya terikat dan menegakkan syariat Islam. Di antara petikan khutbahnya disebutkan,

“Hai kaum muslimin, ketahuilah bahwa darah (jiwa) dan Harta benda kalian adalah suci bagi kalian, sesuci hari dan bulan yang suci ini, hingga tiba saat kalian pergi menghadap Allah, dan kalian pasti akan menghadapNya. Pada saat itulah kalian dituntut pertanggungjawaban atas segala yang telah kalian perbuat! Ya Allah… itu telah kusampaikan.”

Beliau juga melanjutkan,

“Hai kaum muslimin, dengarkan dan fahamilah kata-kataku. Kalian pasti mengerti bahwa setiap muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, dan segenap kaum muslimin adalah saudara. Namun tidak seorangpun dari kalian yang dihalalkan mengambil sesuatu milik saudaranya (sesama muslim) kecuali diberikan atas dasar kerelaan hatinya. Jangan sekali-kali kalian berlaku dzalim terhadap diri kalian sendiri!”

Bandingkanlah saat ini, darah kaum muslimin ditumpahkan begitu saja di negeri mereka sendiri. Para penguasa muslim diam saat saudara-saudara mereka di Irak, Afghanistan, Palestina dan Pakistan oleh kaum penjajah di bawah komando AS. Sama sekali tidak ada pembelaan atas jutaan nyawa muslim yang melayang dalam operasi militer brutal terharap warga sipil yang mengatasnamakan war on terror.

Bahkan mereka tidak malu menjadi sekutu pasukan penjajah untuk memburu dan membantai rakyat mereka sendiri yang jelas kaum muslimin, seperti yang dilakukan penguasa boneka Hamid Karzai di Afghanistan, Nouri al-Maliki di Irak, atau Asif Ali Zardari di Pakistan.

Para penguasa muslim yang bergabung dalam Liga Arab, termasuk Kerajaan Saudi Arabia yang mengaku sebagai ‘khadimul haramayn/pelayang tanah suci’ juga lagi-lagi bungkam ketika penguasa Suriah bertindak brutal terhadap rakyat mereka sendiri. Alih-alih memberikan sanksi, para penguasa yang berada di Liga Arab ini justru memberikan tenggat waktu kepada rezim Bashir Assad untuk melakukan gencatan senjata dalam waktu 15 hari. Padahal dalam kerusuhan yang telah berkecamuk sejak Maret militer Suriah telah membunuh 3000 warga sipil, termasuk di dalamnya adalah 187 anak-anak.

Bukankah ini berarti umat telah melupakan seruan ukhuwah Islamiyah yang telah dikumandangkan Rasulullah saw. dalam khutbah haji wada’-nya? Padahal tidak kurang dari 3,5 juta muslim dari segenap penjuru dunia berkumpul di tanah suci. Tapi di manakah letak kesucian darah umat ini yang justru dibiarkan tumpah oleh para penguasa mereka di tangan para penjajah Barat?

Padahal kehormatan, harta dan darah seorang mukmin jauh lebih tinggi nilainya dibandingkan Ka’bah tempat para jemaah haji menunaikan thawaf di sekelilingnya. Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. Bahwa suatu hari Nabi saw. thawaf mengelilingi Ka’bah seraya berkata;

“Betapa baik dan harumnya engkau (Ka’bah). Betapa agungnya dan besarnya kehormatanmu. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sungguh kehormatan seorang mukmin itu jauh lebih agung di sisi Allah daripada kehormatanmu, baik hartanya maupun darahnya.”

Bila penghulu umat ini telah menyatakan demikian, maka bagaimana bisa umat saat ini merasa tenang berthawaf mengelilingi Kabah tapi membiarkan saudara mereka sesama mukmin teraniaya bahkan terbunuh?

Momentum Penegakkan Syariat

Dalam khutbah wada’-nya, Rasulullah saw. mengingatkan pula kaum muslimin akan wajibnya terikat dengan hukum-hukum Allah SWT. Terikatnya kaum muslimin dengan hukum-hukum syara’ dinyatakan oleh Beliau adalah jaminan bahwa umat ini tidak akan tersesat selama-lamanya.

“Hai kaum muslimin, camkan baik-baik apa yang kukatakan. Hal itu telah aku sampaikan! Kutinggalkan bagi kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh padanya. Kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya!”(Sirah Ibnu Hisyam, juz 2, hal. 603).

Nasihat ini amat jelas menyebutkan bahwa bangkit atau terpuruknya nasib umat ditentukan oleh sejauhmana keterikatan mereka kepada hukum-hukum Allah. Terpuruknya nasib umat disebabkan karena mereka melepaskan diri dari hukum-hukum yang terkandung dalam al-Quran dan as-Sunnah.

Sungguh ganjil umat ini, demikian menaati setiap rukun peribadatan haji; rela berkain ihram yang sederhana, menelusuri bukit Shafa dan Marwa untuk ber-sa’i, melempar jumrah, kedinginan saat bermalam di Mina dan berpanas terbakar matahari sepanjang peribadatan haji, hingga akhirnya  melakukan tahallul.

Akan tetapi ketaatan itu sirna saat ibadah haji selesai ditunaikan. Beramai-ramai mencampakkan hukum Allah saat kembali ke tanah air. Campur baur pergaulan pria dan wanita bahkan membiarkan perzinaan merajalela dan menerapkan ekonomi ribawi.

Padahal di antara isi nasihat Rasulullah saw. dalam khutbah wada’ adalah menghapuskan semua praktek ekonomi ribawi. Sabda Beliau saw.:

“Allah telah menetapkan bahwa riba tidak boleh dilakukan lagi, dan riba Al-Abbas bin Abdul Mutthalib sudah tidak berlaku!”

Pantaslah bila kondisi umat saat ini terpuruk dan berada di bibir kesesatan. Bukannya menerapkan aturan Allah, justru mempraktekkan demokrasi dan kapitalisme. Akibatnya perekonomian terpuruk dibelit sistem ribawi, hanya segelintir orang yang menikmati kekayaan sementara banyak orang berada dalam kemiskinan. Menurut data BPS pada Maret 2011 jumlah orang miskin di tanah air mencapai 30,02 juta jiwa atau 12, 49% dari jumlah penduduk Indonesia.

Angka ini pun dikritik karena BPS menggunakan standar pendapatan yang terlalu rendah yaitu warga dikategorikan miskin bila berpendapatan Rp 7000/hari. Padahal di negara lain seperti Vietnam sudah menggunakan standar pendapatan Bank Dunia yaitu Rp 18.000/hari. Bila BPS menggunakan standar Bank Dunia maka jumlah orang miskin di tanah air bisa mencapai angka 42 juta jiwa.

Wahai kaum muslimin! Sadarlah, ibadah haji adalah momentum ukhuwah Islamiyyah dan penegakkan syariat Islam. Bukankah empat belas abad silam Rasulullah saw. telah mengingatkan kita akan kewajiban ini? Apakah kita akan melupakan begitu saja khutbahnya yang telah menggetarkan hati para sahabat di Arafah? Apakah kita rela hidup menderita diakibatkan terlepasnya kita dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya? Ingatlah ketika di penghujung khutbahnya Rasulullah saw. bertanya kepada para sahabat:

“Ya Allah, bukankah aku telah sampaikan?” Dengan bergemuruh di Padang Arafah para sahabat menjawab, “Allahumma na’am (ya)

Lalu Rasulullah saw. meneruskan, “Ya Allah saksikanlah!”

Sadarlah, hanya dengan kembali kepada hukum-hukum Allah kita akan bangkit dari keterpurukan dan terbebas dari kesesatan. Saatnya kita jadikan ibadah haji tahun ini sebagai momentum ukhuwah Islamiyyah dan penegakkan syariat Allah dalam naungan khilafah rasyidah ala minhajin nubuwwah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.