MENUJU LOSS ADAB NATION

adabPernahkah Anda ditabrak kendaraan di jalan raya, lalu dibentak oleh penabrak padahal Anda di jalur yang benar, sedangkan pelaku melawan arus lalu lintas? Saya pernah mengalaminya, ibu saya juga pernah. Saya juga pernah melihat sebuah mobil mengklakson dengan keras serombongan ibu dan anak-anak yang tengah menyeberang. Pemilik mobil nampaknya tidak senang dengan rombongan penyeberang yang menurutnya bergerak lamban.

Ada yang aneh telah terjadi di negeri ini. Penduduknya seperti banyak kehilangan kesabaran dan kesopanan. Jalan raya sudah seperti hukum rimba. Motor bersliweran, belok tanpa menyalakan lampu sign (baca: sen), terburu-buru, tidak menghormati penyeberang jalan. Mereka juga tidak peduli dengan lampu lalu lintas. Di Bogor, di beberapa titik seperti depan plaza Ekalokasari, di pertigaan Empang, dan di Pasir Kuda, pengendara motor, angkot dan mobil pribadi, sudah pasang kuda-kuda di tengah jalan saat lampu masih merah melewati batas perhentian, bahkan sebagian cuek tetap melaju.

Di jalan raya juga kita melihat pengendara kendaraan bermotor asyik mengangkat ponsel bahkan membaca dan mengirim sms sambil menyetir motor atau mobil mereka. Luar biasa!

Ketidakdisplinan ini hampir terlihat di segala lini. Antrian tiket, antrian sembako, antrian zakat, kongres PSSI, pilkada, hingga rapat di gedung DPR. Maka saya tersenyum kecut saat melihat tenangnya warga Jepang korban tsunami mengantri jatah bantuan dari pemerintah mereka. Tidak ada teriakan, menyelak antrian, apalagi sampai mendorong dan menginjak orang lain. Di sini? Wow, langka.

Rasa malu juga sudah menjadi bagian yang dilupakan sebagian orang. Mereka yang tidak disiplin justru melakukannya seperti dengan kebanggaan. Para penyerobot lampu merah, penumpang di atap kereta, atau penonton sepakbola yang rusuh, sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi rasa malu atau bersalah ketika disorot kamera televisi atau disaksikan warga.

Hal sama juga nampak pada wajah dan bahasa tubuh para koruptor di negeri ini. Mereka tetap datang ke persidangan dengan trendy, tidak ada perasaan gentar, bahkan masih bisa balik menyerang aparat hukum dan media yang memberitakan kasus mereka.

Keadaan ini seolah menguatkan hasil survei sebuah majalah Reader’s Diggesttentang tes kesopanan (courtesy test) berbagai bangsa di dunia. Survei yang dilakukan sekitar 5 tahun silam itu menempatkan penduduk Jakarta di peringkat ke-28 dari 35 negara yang disurvei. Majalah itu melakukan 3 macam tes untuk mengukur kesopanan; pertama, tes apakah orang akan menahan pintu untuk orang lain yang berdiri di belakangnya. Kedua apakah seorang penjual akan mengucapkan terima kasih setiap kali seseorang membeli barang dagangannya. Ketiga apakah seseorang akan membantu orang lain bila orang lain itu menjatuhkan map berisi kertas-kertas di jalanan yang sibuk.

Benarkah ramah tamah dan sopan santun negeri ini tinggal kenangan?

Apa Yang Terjadi?

Ada orang yang berteori bahwa kondisi sosial-ekonomi yang sulit menjadi penyebabnya. Dalam kondisi kesulitan ekonomi orang memang bisa menjadi lepas kontrol. Tapi asumsi itu tidak benar. Di Indonesia watak cepat marah, tidak beretika, dan kurang berempati juga ditunjukkan warga yang berpendidikan dengan status sosial tinggi. Tes kesopanan yang dilakukan beberapa tahun silam itu justru dilakukan di kawasan perkantoran elit di Jakarta. Kita juga sering mendengar berita arogansi yang ditunjukkah pengendara kendaraan mewah dan motor gede kepada sesama pemakai jalan raya. Masih ingat kasus rombongan moge yang menerobos jalan tol jagorawi beberapa tahun silam?

Jadi persoalannya bukan kemiskinan, tapi karakter bangsa ini yang mengalami krisis. Pembangunan hanya menciptakan kemajuan fisik tapi miskin etika, dan pendidikan hanya menjadi hafalan tapi bukan menciptakan kepribadian. Wajar saja setiap kali ujian nasional selalu diwarnai dengan kecurangan karena memang fokus pendidikan adalah nilai akademik dan bukan membangun mental positif.

Krisis etika ini juga terjadi di semua lapisan masyarakat; masyarakat akar rumput, kelas menengah, pejabat, aparat penegak hukum, dsb. Bermunculanlah pejabat dan wakil rakyat yang gemar menyelewengkan kekuasaan, dan tidak berempati pada rakyat. Sementara di lapisan bawah rasa kebersamaan, saling menghormati dan menghargai makin pudar.

Bila keadaan ini berkelanjutan, maka lama kelamaan hukum rimba yang akan berkuasa. Karena binatang tidak mengenal etika, maka siapa yang kuat dia akan berkuasa. Siapa yang punya kekuasaan dan punya uang bisa membeli dan menguasai siapa saja dan apa saja. Indikasi ini sudah terlihat jelas di tengah kita bagaimana hukum dan aparat bisa diperjualbelikan.

Krisis etika adalah hasil nyata sekulerisme. Ketika Islam dimarjinalkan, hanya mengisi ruang-ruang ibadah dan aktifitas ritual, ia telah kehilangan enerjinya. Islam tidak akan memberikan pengaruh apapun dalam kehidupan masyarakat. Para ulama dan kyai yang terperangkap dalam pusaran sekulerisme ini hanya menjadi ‘kitaban mutaharikan – buku-buku yang berjalan’. Memiliki kelengkapan tsaqofah Islamiyah tapi tidak mampu menggerakkan umat.

Oleh karena itu krisis etika bukan persoalan ringan, tapi menentukan masa depan bangsa ini. Karena etika juga akan mempengaruhi sistem hukum yang berlaku. Solusinya pun tidak bisa dilakukan hanya dengan pemberian punish & reward.  Terbukti renumerisasi yang diberikan tidak menghentikan tindak korupsi di tubuh pemerintahan.

Yang harus dilakukan adalah mengembalikan Islam sebagai ideologi; keyakinan dan tata aturan yang lahir dari keyakinan tersebut. Seorang muslim beretika karena memang ia meyakininya sebagai sebuah way of life, bukan kepura-puraan atau mencari keuntungan sosial ataupun materi dari perbuatan baiknya. Sekarang, tidak sedikit orang yang bersopan santun karena mengharapkan dukungan saat pemilu, atau pengusaha yang berbuat baik karena ingin perusahaannya dikenal baik dan produknya laris dibeli masyarakat.

Bila ini tidak dilakukan, maka kehancuran bangsa ini tinggal menunggu waktu. Seperti kata hikmah; “Sesungguhnya bangsa itu jaya selama mereka masih mempunyai akhlak yang mulia. Apabila akhlak (yang baik) telah hilang, maka hancurlah bangsa itu.”?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.