Rasa Malu Untuk Anak Perempuan Kita

smile girl shyRamainya kasus pencabulan anak oleh kaum pedofil pastinya membuat banyak orang tua kian mencemaskan anak-anak perempuan mereka. Kejadian demi kejadian hampir setiap minggu bermunculan dan diberitakan. Seperti tak ada rasa aman bagi anak-anak jaman sekarang.

Tahun ini saja KPAI menyatakan Indonesia sudah berada dalam situasi darurat nasional kejahatan terhadap anak. Saking tingginya angka kekerasan seksual terhadap anak. KPAI menjelaskan, berdasarkan data dan laporan yang diterima dalam dalam empat tahun terakhir (2010 hingga 2014) sebanyak 21.689.797 kasus tersebut terjadi di 34 provinsi dan 179 kabupaten/kota.

Apa respon orang tua untuk melindungi anak-anak perempuan mereka? Sebagian orang tua mengajarkan underwear rules pada anak-anak mereka. Misalnya meminta anak perempuannya agar tidak membiarkan siapapun menyentuhnya apalagi organ intim mereka, dsb.

Underwear rules sebenarnya berasal dari masyarakat Barat. Dan kita tahu, bahwa masyarakat Barat — juga negara-negara yang mengekor budaya liberal mereka – sedang sakit parah. Kejahatan pada anak termasuk pornografi anak demikian tinggi. Anak menjadi sasaran empuk pelaku kejahatan seksual. Maka untuk melindungi anak-anak mereka dibuatlah underwear rules.

Sebenarnya ada yang lebih penting yang harus diajarkan setiap orang tua pada anak-anak perempuan mereka, baik yang belum beranjak baligh ataupun yang telah puber, yaitu pentingnya rasa malu. Hal yang sederhana ini sepertinya kurang diperhatikan oleh orang tua dalam pendidikan anak.

Terlihat dari banyak anak perempuan yang tidak sungkan memakai pakaian minim dan terbuka. Bukan saja di kalangan remaja tapi juga anak-anak. Di mall, di jalanan atau di sekitar perumahan kita bisa melihat banyak anak perempuan usia dini maupun SD misalnya memakai tanktop, celana pendek, baju ketat, dsb. Tentu saja mereka memakai itu atas persetujuan dan bantuan orang tua mereka.

Di kalangan remaja putri rasa malu semakin pudar. Bisa kita lihat banyak remaja putri memakai pakaian terbuka, atau berboncengan dengan lawan jenis, bermesraan di muka umum, dsb. Padahal perilaku semacam itu menjadi celah kejahatan seksual pada anak-anak perempuan dan remaja putri.

Mengapa ini terjadi?

Negara tentu berperan dalam mencegah kejahatan, juga harus menghukum keras pelaku sesuai hukum pidana Islam. Tetapi peran orang tua sungguh tidaklah kecil. Sayangnya, ada kesan orang tua menyepelekan berharganya rasa malu pada anak perempuan. Ada juga yang berpikiran bahwa hal itu akan tumbuh secara alamiah, tanpa perlu pengajaran khusus. Malah ada juga yang menganggap rasa malu itu negatif karena menghambat perkembangan sosial anak.

Padahal rasa malu dalam hal tertentu adalah mental positif yang dapat mencegah orang takut melakukan perbuatan dosa, atau memancing terjadinya perbuatan dosa. Ada seseorang yang mengadukan saudaranya kepada Rasulullah saw. bahwa ia orang yang pemalu. Nabi saw. lalu bersabda, “Biarkanlah ia, karena sesungguhnya rasa malu itu bagian dari iman.”(HR. Bukhari).

Ya, ayah bunda jangan lupa, malu adalah bagian dari iman, maka tanamkanlah kepada anak-anak kita. Ia memang bagian dari fitrah manusia, namun peran ayah bundalah untuk menguatkan dan menempatkannya pada hal yang benar.

Mulailah menanamkan rasa malu sesuai Islam pada buah hati kita. Baik kepada anak lelaki terlebih lagi pada anak perempuan. Seperti kata ulama, “Malu itu baik bila dimiliki seorang lelaki, tapi lebih baik lagi bila dimiliki seorang wanita.”

Sudahkah ayah bunda mengajarkan malu yang benar dan sesuai Islam pada anak-anak kita? Renungkanlah!

Ketika ayah bunda membiarkan anak kehilangan rasa malu,

lama kelamaan akan muncul tabiat negatif pada anak,

ia akan kehilangan sopan santun,

tidak segan berbaur dengan lawan jenis,

tak sungkan menampakkan auratnya di hadapan umum,

tak risih kulitnya bersentuhan dan disentuh lawan jenis,

berikutnya bukan tidak mungkin ia tak sungkan mendekati zina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.