Mungkin Miyabi Lebih Berbahaya Daripada Obama

Makin lama saya makin geli dengan bangsa ini. Di antaranya karena sebentar lagi pemerintah dan sebagian rakyat negeri ini bakal membentangkan spanduk WELCOME MR. OBAMA. Pertengahan bulan ini si anak Menteng yang ngakunya penggemar bakso dan nasi goreng ini bakal berkunjung ke Bali, menghadiri hajatan East Asian Summit.

Obama datang, pengurus negeri ini kelimpungan. Keamanan diperketat dan pimpinan polisi dunia pun menghiasi beragam berita di media massa, cetak dan elektronik. Semua jadi serba lebay dan kampungan. Misalnya diberitakan kalau Obama mengirit semua akomodasi perjalanan sampai ke gelas kopi pun dihemat. Tapi pernahkah media menghitung atau mendapat rincian pengeluaran perjalanan dinas presiden AS itu? Berapa avtur yang habis dipakai untuk rombongan pesawat kepresidenan dan pesawat logistik AS yang akan bolak-balik 40 kali ke Bali? Berapa nilai logistik yang dibawa rombongan Obama jika dihitung dalam dolar atau mungkin rupiah?

Lebaynya bangsa ini kentara habis saat kedatangan pertama kali ke Indonesia. Saat jamuan makan malam Obama bilang, “Nasi goreng, bakso, sate, semuanya enak,” semua pejabat dan hadirin tersenuyum lebar. Bangga makanan mereka disukai sang Presiden adikuasa

Kejadian serupa terjadi di kampus megah bernama Universitas Indonesia. Berapa kali hadirin memberikan applause setiap kali Mr. President ini nyeletuk dalam bahasa Indonesia. “Pulang kampung, nih,” celetuknya. Tepuk tangan pun bergemuruh. Bangga, ternyata presiden dari negara besar ini bisa berbahasa Indonesia.

Padahal bukan hanya Obama yang bisa berbahasa Indonesia, bule-bule mangkal di Jalan Jaksa Jakarta Pusat juga jago berbahasa Indoensia, bule-bule yang suka jalan-jalan di Kebun Raya juga banyak yang mahir berbahasa Indonesia. Tapi nggak ada yang tepuk tangan kalau mereka bilang, “sayaa mau beli toge ghoreeng…”. Sueer, nggak ada yang tepuk tangan.

Maka saya berani bilang, itu bukan kebanggaan, tapi datang dari jiwa inferior bangsa yang keok ditandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Maka secuil celetukan Obama membuat hidung sebagian orang di negeri ini kembang kempis.

Padahal tepuk tangan dan kembang kempisnya para pengagum Obama itu nggak datang otomatis. Gedung Putih sudah merancang dan memainkan social media di Indonesia agar orang-orang Indonesia mendukung dan kagum pada anak Menteng ini. Untuk itu mereka menghabiskan dana 100 ribu US dolar untuk memainkan social media di Indonesia. Uang sebanyak kira-kira 900 juta rupiah itu dipakai untuk menyebar pengaruh mulai dari blog, facebook sampai twitter. Mereka juga bekerja sama dengan stasiun tivi nasional untuk meningkatkan citra Obama sebelum kedatangannya ke Indonesia kala itu. Artinya, orang-orang Indonesia sudah ‘dikadalin’ oleh Gedung Putih.

Meski tidak seheboh dulu, tapi masih banyak orang yang terkagum-kagum pada Obama. Padahal, Obama dan pemerintahannya sedang babak belur. Utang dalam negeri AS mencapai 14,3 triliun dollar AS. Utang itu sudah setara dengan 100 persen dari produksi domestik bruto (PDB) AS selama setahun. PDB setara dengan pendapatan. Ini artinya, jika AS ingin melunasi utang itu dalam setahun, maka AS harus mati suri selama setahun. Ini baru bisa bikin utang lunas.

Itulah yang menjadi membuat Obama ‘harus’ datang ke East Asia Summit. Obama dan negaranya takut kalau Cina makin kuat di Asia Tenggara, khususnya kalau sampai menguasai kawasan Laut Cina Selatan. Kawasan yang strategis sebagai jalur perlintasan kapal perdagangan dan militer. Sedangkan kandungan gas dan minyak bumi di Kepulauan Spratly itu 10 kali lebih besar dibandingkan cadangan minyak milik AS.

Obama juga punya kepentingan ke Indonesia karena Cina sudah berani mendekati pemerintah RI untuk menjalin kerjasama militer. Padahal selama ini AS terus memposisikan diri sebagai satu-satunya mitra militer bagi Indonesia.

Sayang, kenapa tidak banyak orang yang merasa AS demikian arogan dan berbahaya bagi negeri ini, khususnya bagi umat Islam? Kenapa hanya segelintir orang Islam yang merasa berkewajiban menolak kedatangan agressor dan imperialis seperti Obama dan AS-nya?

Sebagian malah menyerukan pentingnya memuliakan tamu. Karena Obama adalah tamu ya harus dihormati dan dimuliakan.

Kalau begitu, saya bertanya, kenapa dulu banyak orang termasuk ormas Islam yang menolak kedatangan Miyabi? Bukankah dia juga tamu? Mengapa ada diskriminasi untuk Miyabi dan rekan-rekan seprofesinya? Mengapa Miyabi dihinakan sedangkan Obama dimuliakan?

Bila alasannya karena Miyabi penyebar kerusakan moral, bintang pornografi, perempuan mesum, sundal, pelacur, dan segudang sumpah serapah lainnya, apa kita tidak sadar bahwa dosa Osama dan negaranya lebih besar dibandingkan kebejatan Miyabi yang sudah jadi bintang film bokep sejak usia belasan tahun?

Miyabi ‘hanya’ mengkampanyekan perzinaan, tapi dia tidak melakukannya dengan saudara-saudara kita sesama muslim. Sedangkan Obama dengan tentaranya sudah menyembelih hampir jutaan saudara-saudara kita sesama muslim di berbagai negara seperti Afghanistan, Pakistan, Irak, dsb.

 

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.”(HR. Tirmidzi).

 

Miyabi dan Obama memang sama-sama menciptakan teror, tapi teror Obama lebih kejam. Teror Obama menciptakan kematian, sedangkan ‘teror’ Miyabi menciptakan kehamilan.

Kalau dulu banyak orang dengan gagah berani menolak kedatangan Miyabi, seharusnya juga mereka lebih berani lagi menolak kehadiran Obama. Bahaya yang ditimbulkan Obama lebih besar dibandingkan yang diciptakan Miyabi.

Tapi kalau sampai sekarang hanya segelintir orang yang terpanggil untuk menghadang Obama, mungkin karena lebih banyak orang menganggap Miyabi lebih bahaya dari Obama. Kalau itu yang terjadi, berarti kepekaan dan kesadaran kita baru sebatas paha dan dada Miyabi, bintang film porno asal Jepang itu. Kasihan.

Incoming search terms:

  • miyabi lebih bahaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *