Logika-logika ‘Jongkok’ Melawan Islam Yang Sering Merepotkan Umat (1)

Dakwah adalah medan pertempuran pemikiran (shiro’ al-fikri). Musuh-musuh Islam kerapkali menggunakan logika dan pemikiran beracun untuk melumpuhkan umat Islam. Sama seperti ketika orang-orang Quraisy menyerang Rasululullah saw. juga para nabi serta rasul yang dimuliakan Allah SWT. akan tetapi Allah memang berkenan menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir ingin memadamkannya. Berikut ini sejumlah logika beracun yang sering disebar di masyarakat untuk menolak dakwah penegakkan syariat Islam dan khilafah.

1. Tidak ada kebenaran yang mutlak, semua adalah relatif, termasuk penafsiran agama Logika ini sering digunakan oleh kaum liberal untuk membuat umat Islam meragukan kebenaran agamanya. Jawabannya; bila mereka mempercayai tidak ada kebenaran mutlak, maka pernyataan di atas juga tidak mutlak kebenarannya. Pernyataan ‘tidak ada kebenaran mutlak’ relatif benar hanya untuk mereka yang mengucapkannya. Mereka pasti tidak mau menerima pernyataan ini, karena menurut mereka pernyataan itu adalah mutlak kebenarannya. Itu berarti mereka mengingkari logika pemikiran mereka sendiri. Faktanya selalu ada kebenaran yang mutlak dalam hidup ini. 1 + 1 = 2 adalah kebenaran mutlak, satu buah mangga ditambah satu buah mangga hasilnya ada dua buah mangga. Tidak ada yang meragukan kebenaran itu. Merah adalah warna darah, biru adalah warna langit, dan hijau adalah warna daun, adalah kebenaran yang disepakati oleh semua orang di dunia ini. Bila tidak ada kebenaran mutlak, lalu mengapa manusia membuat undang-undang dan hukum untuk menetapkan kebenaran? Mengapa ada undang-undang untuk menghukum koruptor, pemerkosa, penipu, dsb.? Mengapa pula ada undang-undang untuk menangkapi para dai dengan tuduhan teroris? Bila kebenaran itu tidak mutlak, bukankah berarti manusia juga harus menerima pemikiran dan tindakan para koruptor dan para ‘teroris’ tersebut? Benarlah firman Allah: “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka peringatan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari peringatan itu.”(QS. Al-Mu’minun: 71) Bagi kita, umat Islam, kita mengimani hanya Islam satu-satunya kebenaran dan selainnya adalah batil. Inilah kebenaran mutlak. Meragukan kebenaran Islam sama saja telah membuat cacat akidah seorang muslim. Dan akan membuat pelakunya sengsara di dunia dan akhirat. “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”(QS. Ali Imran: 85)

2. Hukum Islam itu bertentangan dengan prinsip kebebasan karena memaksa manusia untuk menaatinya Pertanyaannya; adakah hukum yang tidak dipaksakan dalam kehidupan manusia? Bukankah kita memakai helm di jalan raya saat naik motor dipaksa oleh peraturan lalulintas? Bukankah kita membayar pajak karena dipaksa oleh undang-undang? Bukankah kaum muslimin di tanah air saat ini membiarkan peredaran minuman keras dan pornografi karena dipaksa oleh undang-undang? Bahwa kita keluar masuk sesama negeri muslim dipaksa membuat visa dan paspor? Tidak ada satupun hukum yang tidak dipaksakan dalam kehidupan manusia. Bukankah lebih baik dipaksa masuk surga daripada sukarela masuk neraka? Allah sebenarnya tidak pernah memaksa manusia untuk mengimaniNya dan menjalankan aturanNya. Allah justru dengan sifat Rahmah-Nya menuntun manusia untuk mengikuti jalan keselamatan, yakni Islam. Memilih selain Islam beresiko menghadapi kesengsaraan hidup dunia dan akhirat. “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”(QS. Asy-Syams: 8-10). Adanya sanksi bagi manusia yang melanggar aturanNya, karena Allah tidak ingin umat manusia terjerembab dalam kehinaan. Subhanallah!

3. Bila tidak setuju dengan demokrasi maka jangan tinggal di negeri ini! Wow galak betul orang yang bicara seperti ini! Seolah-olah ia betul padahal logika itu sebenarnya jongkok. Pemikiran absurd ini sering dilontarkan mereka yang ingin membungkam para dai yang ingin memperjuangkan penegakkan syariat Islam. Pernyataan ini mengandung tekanan bahwa siapapun yang ingin tinggal di negeri kami maka harus tunduk pada peraturan kami! Islam adalah sesuatu yang asing buat negeri kami maka tidak seharusnya hidup di sini! Sampaikanlah pada mereka bahwa ‘Anda hidup dan makan rizki Allah. Dialah yang menghidupkan Anda, mematikan Anda dan kelak kepada Allah jualah Anda akan kembali. Maka bila Anda tidak ingin menerima hukum Allah maka jangan makan rizki dari Allah dan jangan tinggal di bumi Allah! Carilah bumi lain dan carilah Tuhan lain selain Allah!’ Bukankah Allah sudah berfirman: “Mengapa kamu mengingakari Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?”(QS. Al-Baqarah: 28). (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.