Merindukan Pemimpin Ramah Keluarga

M

Situs psikologi populer berbasis di AS, verywellmind.com, pernah menuliskan data statistik ‘horor’ kondisi remaja di sana;

In The Next 24 Hours in the United States:

  • 1,439 teens will attempt suicide.
  • 2,795 teenage girls will become pregnant.
  • 15,006 teens will use drugs for the first time.
  • 3,506 teens will run away.
  • 2 teens will be murdered.

(https://www.verywellmind.com/what-is-happening-to-our-children-2606269)

Amerika Serikat adalah dreamland. Banyak orang bermimpi disana terhampar garansi kemakmuran dan lingkungan yang ramah keluarga. Faktanya tidak begitu. Statistik memperlihatkan AS tidak ramah remaja, juga keluarga. Situs usatoday.com merilis data bila 40%-50% pasangan di AS bercerai. Angka yang amat tinggi.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita harus jujur mengakui dari tahun ke tahun kondisi sosial remaja dan keluarga kian kritis. Tahun 2014 KPAI menyatakan Indonesia darurat bully termasuk cyberbully. Tingkat perceraian juga meningkat setiap tahun. Kemenag mencatat di tahun 2016 saja ada kurang lebih 350 ribu kasus perceraian di seluruh negeri. Dari 2 juta pasangan yang menikah, 15%-20%-nya mengalami perceraian atau 40 perceraian dalam setiap jam di Indonesia.

Padahal, keluarga adalah salah satu pilar negara. Kesehatan mental keluarga berdampak pada semua lini kehidupan; bidang ekonomi, sosial, militer hingga pemerintahan. Kita bisa bayangkan bagaimana para pejabat atau militer bisa bekerja profesional bila mereka sedang alami krisis rumah tangga? Bagaimana bisa melayani rakyat dengan baik bila rumah mereka kering dari cinta dan harmonisasi?

Keluarga bermasalah berpotensi memunculkan generasi muda yang rapuh mentalnya dan antisosial. Ibu yang tak acuh pada anak kecuali soal uang jajan dan dandanan, dan para ayah yang tak paham tupoksi ayah, akan mencetak anak-anak muda yang tak jelas karakternya. Bila keadaan ini terus berlanjut, bisa dibayangkan nasib negeri ini di masa mendatang.

Semuanya memang berawal dari keluarga, tapi keluarga tanpa negara tak berdaya menghadapi serbuan budaya hedonis yang terus datang bertubi-tubi. Orangtua tak bisa mengawasi dan melindungi anak-anak mereka 24 jam, negara bisa melakukannya. Negara bisa menertibkan remaja-remaja bermasalah dengan penegakkan hukum yang orang tua tak punya kuasa.

Negara bisa menjamin kebutuhan pokok dan pendidikan anak-anak, dimana keluarga punya keterbatasan untuk melakukannya. Tidak semua orangtua sanggup menyekolahkan anak ke jenjang perguruan tinggi. Seperti tidak semua keluarga sanggup memasukkan anaknya ke rumah sakit karena biaya pengobatan yang mahal. Negaralah yang sanggup melakukan itu semua bagi rakyatnya.

Secara terbuka harus diakui bila Indonesia, khususnya umat Muslim, telah lama kehilangan sosok pemimpin yang ramah keluarga, pemimpin yang memperhatikan persoalan-persoalan keluarga dan generasi masa depan. Pemimpin yang dihasilkan dari sekian kali pemilu lebih fokus pada persoalan mempertahankan jabatan hingga dua periode. Kalaupun ada perhatian pada topik-topik keluarga nyaris artifisial, karena kenyataannya keluarga Indonesia dan anak-anak Indonesia tak kunjung membaik secara sosial. Persoalan seks di luar nikah, anak-anak gang motor, narkoba di kalangan mahasiswa-pelajar, tawuran dan kekerasan antar pelajar terus meningkat setiap tahunnya.

Kita membutuhkan pemimpin yang ramah keluarga, memberikan perhatian pada persoalan-persoalan keluarga, dan memberikan solusi dalam persoalan yang dihadapi keluarga-keluarga. Termasuk memberikan solusi-solusi krisis masalah sosial yang dihadapi kaum muda, bukan solusi secara personal tapi secara sistemik. Keseluruhan.

Keluarga-keluarga di Indonesia ingin melihat pemimpin yang peka mendengarkan masukan dan keluhan para orangtua. Sebagaimana Umar bin Khaththab ra. mau ditegur dan diberi masukan oleh seorang wanita dalam kebijakannya yang tidak tepat saat membatasi mahar.

Kita juga membutuhkan pemimpin yang tak jaim saat bertemu anak-anak. Mendahului mereka dalam mengucapkan salam, memangku, mengusap kepala dan mendoakan mereka. Bahkan menghibur mereka saat binatang peliharaannya mati. Sebagaimana Nabi SAW. tak sungkan menggendong mereka, mengusap kepala mereka dan mendoakan mereka. Sementara Khalifah Umar bin Khaththab ra. membuat kebijakan yang melindungi keluarga diantaranya dengan memberikan insentif 100 dirham/bulan pada setiap bayi yang lahir, agar ibu dan anak mendapatkan pangan yang layak untuk hidup.

Pemimpin yang ramah keluarga bukan saja sosok yang berkarakter kuat, penuh integritas dan menyayangi rakyat, tapi ia harus menegakkan aturan yang kuat karena sistem kehidupan itulah yang akan menyokongnya dan melindungi rakyatnya, termasuk semua keluarga di dalamnya.

Pemimpin yang kuat, berkarakter, penyayang, akan lumpuh bila tak punya aturan kehidupan yang kuat. Kepeduliannya pada rakyat dan keluarga akan terhadang beragam regulasi dan tata nilai yang justru merusak keluarga.

Karenanya, mungkinkah pemimpin yang peduli pada keluarga dan anak-anak hadir di era sekulerisme-liberalisme? Karena dalam negara yang berdiri di atas prinsip sekulerisme-liberalisme, persoalan moral adalah privat, bukan wewenang negara. Pemerintah di sistem liberalisme manapun – apalagi yang demokratis – akan membiarkan individu-individu beraktifitas sendiri menurut kemauan mereka. Berpacaran, hidup tanpa ikatan nikah, LGBT, miras, adalah urusan privat. Di AS misalnya ganja dan LGBT sudah dilegalkan.

Di Indonesia agama memang dijadikan salah satu sumber nilai hukum dan moral, tapi dalam ruang yang amat terbatas. Agama hanya dibiarkan bicara dalam urusan ibadah dan akhlak. Itupun hanya himbauan.

Bagaimanapun juga, keluarga-keluarga di tanah air merindukan pemimpin yang peduli pada keluarga, dan mau menegakkan aturan-aturan yang melindungi dan memuliakan keluarga, dan itu hanya bisa dengan menjalankan syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Sekulerisme-liberalisme sudah gagal melindungi keluarga dan remaja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.