Hukum Marital Rape; Melindungi Perempuan?

Para suami, mulailah berpikir jernih ketika libido seksual Anda bergejolak. Komnas Perempuan mulai menyuarakan pembelaan hak perempuan dalam urusan ranjang. Komisioner Komnas Perempuan, Adriana mengatakan, memaksa istri untuk melakukan hubungan seksual adalah bentuk pemerkosaan terhadap istri atau lebih tepatnya marital rape.

Menurutnya, kekerasan seksual juga masuk ke dalam kategori Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). “Jadi KDRT itu dia memaksa istrinya untuk melakukan sesuatu tapi dia tidak mau. Itu bentuk pemerkosaan atau kekerasan seksual pada perempuan ekstrem yang dapat berakhir kepada kematian,” ujar Adriana.

Apa yang disampaikan Komnas Perempuan itu sebenarnya gagasan yang sudah lama betul. Akhir tahun 90-an sudah diwacanakan soal pemaksaan hubungan badan ini. Komnas Perempuan mendapatkan momentum setelah terjadi kasus pembacokan suami pada istrinya yang menolak diajak hubungan badan.

Mungkin niat Komnas Perempuan dan para pendukungnya baik; melindungi perempuan/para istri dari tindak kekerasan suami-suami mereka. Namun apakah wacana itu bila dinaikkan ke dalam pasal pidana tidak akan timbulkan masalah baru? Yang jauh lebih besar dan mengancam kehidupan rumah tangga, juga sosial masyarakat?

Coba kita urai satu persatu potensi masalah yang muncul; pertama, pernikahan itu adalah institusi yang legal untuk sepasang pria-wanita melakukan aktifitas hubungan intim. Bila kemudian ada pembatasan hubungan intim  — ajakan dari pihak suami – maka salah satu fungsi pernikahan itu sudah batal demi hukum.

Ketika seorang suami atau istri memiliki dorongan seksual, maka menurut hukum negara – apalagi agama Islam – satu-satunya orang yang sah untuk diajak melakukan itu adalah pasangannya. Sekarang saat suami sedang birahi, tapi istri menolak, lalu apa yang harus dilakukan suami? Penolakan sekali atau dua kali mungkin suami bisa terima, tapi kalau penolakannya berkali-kali. Apakah ada batasan berapa kali istri boleh menolak? Lalu apakah sanksi untuk perempuan yang berkali-kali menolak hubungan intim dengan suaminya?

Kedua, Komnas Perempuan mengesampingkan kenyataan kalau lelaki itu mahluk yang lebih mudah dan cepat terangsang libido seksualnya ketimbang perempuan. Hormon testosteron pria 20 kali lebih banyak dibandingkan perempuan. Impuls atau rangsangan yang dikirim ke otak lelaki lebih cepat 4 kali lipat dibandingkan perempuan. Ditambah dengan banyak wanita berpakaian minim atau terbuka, lelaki bisa lebih sering memikirkan seks ketimbang perempuan. Apa saran Komnas Perempuan kalau gairah seksual para suami sedang ‘on’, lalu istrinya menolak? Disuruh puasa sunnah? Kalau terangsangnya sudah siang hari, mau puasa apa? Shalat? Bagaimana pria yang bukan muslim? Apakah itu berarti pasal marital rape ini akan membuka peluang perselingkuhan dan meramaikan prostitusi, akibat lelaki tak bisa memenuhi dorongan biologis pada istrinya yang sah?

Ketiga, ini sebenarnya yang paling esensial, hubungan seksual itu hak atau kewajiban sih dalam pernikahan? Komnas Perempuan sepertinya menempatkan hubungan seksual itu hak, bukan kewajiban. Artinya, suami atau istri boleh menolak ketika diajak berhubungan badan oleh pasangan. Nah bila itu dianggap hak, maka bukan cuma istri yang berhak menolak, suami juga berhak menolak ajakan hubungan intim dari istri secara mutlak.

Lalu bagaimana kebalikannya; bila istri yang meminta tapi suami menolak? Kalau istri memaksa, mengancam misalnya bilang ‘aku akan bunuh diri kalau kamu tidak mau tidur sama aku!’ nah akhirnya suaminya terpaksa melakukan itu, ini masuk pemerkosaan oleh istri atau tidak? Yang repot kalau suaminya malah dengan enteng bilang, ‘Bunuh diri aja, aku juga udah ilfil sama kamu gara-gara nolak aku terus.’

Soal hak dan kewajiban memang tidak bisa selesai bila dipecahkan dengan cara akal-akalan ala manusia. Pas bicara uang belanja, beli rumah dan pulsa, beli kosmetik, ongkos ke salon, mungkin sebagian perempuan akan bilang itu kewajiban para suami. Tapi begitu melayani suami, punya anak, mereka akan teriak itu harus sesuai kesepakatan.

Saya tidak mengatakan laki-laki boleh melakukan kekerasan pada perempuan, termasuk untuk melakukan hubungan intim. Dalam syariat Islam, tindakan seperti itu diharamkan. Allah memerintahkan para suami untuk melakukan mu’asyarah bil ma’ruf/pergaulan yang baik dengan para istri. Nabi SAW., sampai bilang, “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik pada istrinya.”

Namun, dalam Islam ada hak dan kewajiban yang ditentukan Allah SWT. baik untuk suami maupun istri. Keduanya tidak boleh melanggar hak dan kewajiban yang telah diatur olehNya. Bagi suami, selain ada kewajiban memberikan nafkah lahir juga berkewajiban memberi nafkah batin, termasuk melakukan jima’. Berdosa seorang suami yang mengabaikan kebutuhan biologis istrinya. Allah berfirman:

Wanita punya hak (yang harus ditunaikan suaminya sesuai ukuran kelayakan), sebagaimana dia juga punya kewajiban (yang harus dia tunaikan untuk suaminya). (TQS. al-Baqarah: 228)

Khalifah Umar bin Khathtab pernah mendapat pengaduan dari seorang perempuan tentang suaminya terlalu sibuk beribadah hingga mengabaikan nafkah batin untuknya. Beliau kemudian memerintahkan Ka’ab al-As’adi bertindak sebagai hakim untuk menyelesaikan pengaduan perempuan tersebut. Kepada sang suami, Ka’ab berkata’

”Sebagai suami darinya, istrimu mempunyai hak atas dirimu. Kamu wajib memenuhi haknya itu. Allah SWT telah menghalalkan bagimu dua wanita, tiga wanita, atau sampai empat wanita untuk dapat kamu jadikan istrimu. Sekarang, istrimu hanya seorang. Itu berarti dalam empat hari berturut-turut kamu mempunyai waktu tiga hari untuk melakukan ibadah dan sehari dapat kamu gunakan untuk memenuhi kebutuhan biologis istrimu.”

Hubungan seksual menjadi salah satu pilar asasiyah dalam pernikahan, karena Allah menjadikan halal persetubuhan dengan adanya akad nikah. Para istri diminta untuk taat pada suami termasuk tidak menolak ajakannya untuk melakukan hubungan badan. Itu adalah salah satu kewajiban dan tanda kasih sayang pada suami. Dengan rela melayani suami – sekalipun mungkin ia sedang tidak fit atau tidak mood – ia ingin mendapatkan pahala di sisi Allah, juga menyelamatkan lelaki yang dicintainya dari dorongan birahinya yang bergejolak karena rangsangan di luar rumah. Dengan demikian pahala didapat dan rumah tangga berjalan serta akhlak suami terjaga.

Tidakkah ini terpikir oleh kalian, Komnas Perempuan, bahwa pernyataan kalian bisa membahayakan keluarga di tanah air, bahkan juga membahayakan kaum perempuan yang kalian bela?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.