Lady Gaga Takkan Goyahkan Iman?

tolak lady gagaSudah beberapa hari ini saya merasa sebal melihat tayangan televisi saat membahas kontroversi Lady Gaga. Berulangkali para anchor di sejumlah media itu memberikan komentar yang menyudutkan kalangan yang menolak kehadiran ‘mother monster’ asal US itu. Celetukan demi celetukan yang menurut saya tidak bermutu sering keluar dari mulut para anchor news, seperti ‘di tanah air sebenarnya konser erotis juga sudah sering terjadi mengapa konser Lady Gaga yang hanya 2-3 jam diributkan dan dilarang?’ sambil stasiun televisi itu mulai menayangkan pagelaran musik dangdut yang memang erotis, untuk menguatkan opini mereka di hadapan jutaan pemirsa. Maksudnya jelas yaitu mencari pembenaran.
Sampai pernyataan seorang pakar sosial-politik yang mengeluarkan nada mengancam, ‘kalau negara sampai takluk ke tangan kaum radikal itu alamat keruntuhan negeri ini’. Terakhir adalah komentar seorang tokoh muslim yang menyebutkan bahwa konser Lady Gaga tidak akan menggoyahkan iman warga pendukungnya.

Liberalisme vs Keimanan

Apa yang dibela oleh segelintir orang; jurnalis, seniman, pemilik media hingga kyai, bukanlah konser Lady Gaga-nya, tapi ideologi liberalisme-nya. Sang ‘mother monster’ hanyalah ikon yang dikedepankan untuk melawan apa yang mereka katakan sebagai kelompok radikal agama, baik Kristen – seperti di Filipina – apalagi kaum radikal Islam.     Bagi sebagian orang, liberalisme sudah diyakini sebagai jalan keselamatan karenanya patut dibela.
Maka berbagai ikon pengusung liberalisme pun dibuat dan dibela mati-matian; bisa bintang film porno macam Miyabi, Miss Indonesia, tokoh lesbian Irshad Manji, Ahmadiyah sampai Lady Gaga. Berbagai alasan yang tak logis pun dilontarkan untuk membenarkan liberalisme. Seolah-olah liberalisme adalah ajaran yang suci dan lebih mulia dibandingkan agama.
Kita juga heran mengapa ada muslim yang lebih rela membela orang-orang yang menyebarkan kerusakan moral lalu menjelek-jelekkan saudara seakidah yang ikhlas menjaga akhlak masyarakat dan membela akidah Islam. Sepertinya orang yang bejat moral jauh lebih terhormat dan lebih bersaudara ketimbang saudara seiman. Padahal Nabi saw. bersabda:

المسلم أخزو المسلم لا يخونه و لا يكذبه و لا يخذله
“Muslim adalah saudara bagi muslim lain, janganlah mengkhianatinya, mendustakannya dan membiarkannya dihina orang lain.”(HR. At-Tirmidzi)

Kita juga heran mengapa ada muslim yang malu menjaga agamanya sendiri, malu mencela kefasikan dan malah memberikan pujian setinggi langit. Padahal di Filipina saja, pemuda Kristen menentang konser Lady Gaga yang dianggap menghina Yesus. Cina yang komunis bahkan sepertinya lebih peduli menjaga moral warganya sehingga mereka melarang konser Lady Gaga. Bahkan pemerintah Cina juga melarang stasiun tv dan radio memutar lagu Lady Gaga dan Kate Perry yang berisi kecabulan. Lalu kenapa orang Islam di negeri ini, apalagi tokoh islamnya, justru cuek dengan persoalan moral masyarakat?
Mencengangkan ada orang Islam yang lebih senang membela liberalisme dan demokrasi ketimbang menghormati al-Quran dan sunnah. Bagi mereka, kalau ada yang bertentangan dengan liberalisme maka harus disingkirkan, termasuk al-Quran dan sunnah Nabi saw. Padahal, bukankah minimal 5 kali sehari mereka mengikrarkan ‘inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin – sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata bagi Allah Rabb semesta alam’.
Buat sebagian orang, urusan moral adalah urusan pribadi masing-masing. Tidak usah orang lain apalagi negara ikut campur. Agama juga tidak perlu mengatur moral masyarakat, biarlah itu urusan Tuhan dan pribadi masing-masing. Menurut mereka beriman itu tidak mesti menjalankan aturan agama. Bersyahadat bukan berarti seorang muslim harus tunduk pada aturan Allah. Secara implisit mereka berkata, “Ya Allah, kami memang mengakui Engkau sebagai Tuhan kami, tapi janganlah Engkau coba-coba mengatur hidup kami, karena kami lebih tahu urusan kami ketimbang diriMu, ya Allah!” Inilah prinsip dasar liberalisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme).
Dari pendirian seperti itulah wajar muncul pernyataan bahwa 1000 Lady Gaga sekalipun tidak akan menggoyahkan iman. Karena bagi mereka beriman itu adalah sekedar percaya bahwa Tuhan itu ada, rasul itu ada, kitab suci itu ada. Tidak mesti taat pada perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Tidak peduli apakah idola mereka itu nabi ataukah pembawa kemungkaran, tidak lagi memikirkan apakah mereka lebih senang bersahabat dengan para perusak moral dan memusuhi sesama muslim.
Dari sinilah, siapapun yang berpegang teguh pada keislaman akan melihat bahaya liberalisme-sekulerisme. Karena dalam Islam, keimanan harus berbuah komitmen terikat dengan aturan-aturan Allah. Halal dan haram harus menjadi miqyas al-a’mal (tolak ukur) perbuatan. Beriman kepada Allah bukan sekedar percaya bahwa Allah itu ada, tapi juga mengimani bahwa Allah adalah satu-satunya Maha Pembuat aturan. Beriman kepada al-Quran bukan sekedar yakin bahwa ia adalah kitab suci lalu hanya menilawahkannya, tapi juga menjalankan kandungannya. Meyakini Muhammad saw. adalah utusan Allah bukan hanya bershalawat untuknya tapi juga memperjuangkan kemuliaan dien yang dibawanya.
Seorang mukmin tidak rela melihat kemungkaran, apalagi terlibat di dalamnya. Karena di antara ciri orang beriman yang disebutkan oleh Nabi saw. adalah senantiasa menjalankan amar maruf nahi mungkar. Membiarkan kemungkaran bukanlah ciri orang beriman. Sabdanya:

مَامِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ ، يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ ، وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ ، يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ ، وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ

“Tidaklah ada seorang Nabi yang Allah mengutusnya di umat sebelumku, melainkan ada baginya dari umatnya Hawariyun (para penolong) dan sahabat-sahabat, mereka mengikuti sunnahnya, menjalankan perintahnya, sampai ada orang-orang yang bertentangan sepeninggal mereka, mereka mengatakan apa yang tidak mereka perbuat, dan mengerjakan apa yang tidak diperintahkan, maka siapa saja yang menentang mereka dengan tangannya maka ia adalah orang beriman, siapa yang menentangnya dengan lisannya maka ia orang beriman, dan siapa yang menentang dengan hatinya maka ia adalah orang beriman, dan tidak ada lagi setelah itu keimanan meski hanya sebesar biji bayam.”(HR. Ahmad)

Jadi hal yang lucu bila ada orang masih tetap mengaku beriman tapi ia menyetujui pertunjukkan yang mengumbar kemaksiatan; mempertontonkan erotisme dan membawa syair-syair kemungkaran. Sama juga menggelikannya dengan orang-orang yang mengaku beriman tapi memusuhi sesama muslim dan merasa lebih terhormat menjadi pengawal orang yang menyebarkan kemesuman dan kemungkaran yang menyuarakan lesbian dan menghujat al-Quran.
Inilah jaman yang disebut oleh Nabi saw. Islam dianggap perkara yang asing. Bila kemunculan Islam dianggap asing oleh kaum musyrik dan ahli kitab, tapi di jaman modern ajaran Islam justru dianggap asing oleh umatnya sendiri. Orang-orang yang berusaha istiqomah dan melawan kemungkaran justru dicaci maki oleh sesama muslim, disebut ‘garis keras’, ‘muslim radikal’, ‘fundamentalis’, dsb. Sementara mereka lebih ta’dzhim dan ihtirom terhadap kekufuran dan kemungkaran termasuk kepada para pengusungnya.
Kita prihatin melihat keadaan ini. Muslim yang ngotot membela ajaran liberalisme dan sekulerisme ini ada dua golongan; muslim yang memang percaya bahwa liberalisme itu lebih mulia daripada agama mereke sendiri. Kedua, muslim yang tunduk kepada hukum pasar. Karena jaman sekarang liberalisme itu laku maka mereka membebek pada liberalisme, karena dari situlah mereka mendapatkan periuk nasi untuk hidup. Innalillahi wa inna ilayhi raji’un.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.