Belajar Dari Anak-Anak Kita

belajarBismillahirrahmannirrahim

Kita telah lama hidup bersama anak-anak kita. Para ibu telah mengasuhnya sejak dalam kandungan, memberikan ASI & makanan terbaik, menjaga dan merawat mereka. Tapi pernahkah kita terpikir untuk banyak belajar dari perkembangan dan pertumbuhan mereka? Sayang bila kita tidak melakukannya, karena banyak sekali hal yang bisa dipelajari dari mereka.

1. Saat mereka lahir kita sambut dengan sukacita, kita benar-benar merasa kelahirannya sebagai anugerah besar dalam hidup kita. Itulah yang dirasakan semua orang tua saat anak mereka lahir. Ada kegembiraan besar. Segera sang buah hati kita pilihkan nama yang terbaik agar menjadi doa baginya, kita akikahkan, kita potong rambutnya dan kita setarakan dengan emas bobotnya untuk kita keluarkan sedekahkan kepada fakir miskin.
Tapi pernahkah kita merasa bahwa kelahiran kita juga adalah sesuatu yang luar biasa? Biasanya, setiap tahun kita diingatkan akan tanggal kelahiran kita, nggak usahlah dengan perayaan ulang tahun, pada momen itulah seharusnya kita menghargai benar bahwa kita telah dilahirkan oleh ibu kita dan masih terus diberi kehidupan oleh Allah SWT.
Caranya tentu dengan tasyakkur bi ni’mat dan mengisi kehidupan pasca-kelahiran kita dengan menjaga diri kita gaya hidup yang sehat. Menjalankan hidup sesuai dengan aturan Allah, menjaga halal-haram, dan beribadah kepada Allah.
Selalu ada orang yang mengatakan “life’ suck”. Hidupku menyebalkan. Itu karena ia tidak paham bahwa sebenarnya banyak orang yang ingin mendapatkan hidup mereka kembali dan menjalaninya dengan baik, sesuai aturan Allah.

“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.”
(QS. as-Sajdah: 32).

So, berbahagialah karena kita telah dilahirkan dan isilah hidup ini dengan ketakwaan padaNya.

2. Anak-anak kita jaga dan kita beri aturan agar mereka tidak melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya atau orang lain, atau melakukan hal yang kita anggap tidak pantas. Kita akan terkejut misalnya saat ia mengacak-acak makanan atau membanting mainan yang baru kita belikan. Kita akan amankan barang-barang itu agar ia tidak mengulanginya.
Lalu mengapa kita juga tidak menjaga diri kita dengan aturan yang terbaik dari Allah SWT.? Mengapa banyak orang dewasa justru tidak mau mengikuti syariat Islam, padahal Allah sengaja menurunkan aturan itu demi keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat? Tidak sedikitpun Allah berkehendak mencelakakan kita dengan adanya al-Quran dan as-Sunnah.

“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah”(QS. Thaha: 2).

3. Anak-anak kita beri makanan yang terbaik, ASI dari ibunya dan aneka makanan bergizi lalu kita jaga dari sembarang makanan yang bisa membuatnya sakit.
    Bukankah kita pun semestinya menjaga diri dari makanan yang thayyib dan – yang paling pokok – halal? Banyak muslim yang menyakiti diri mereka dengan tidak mempedulikan makanan yang mereka konsumsi itu sebenarnya tidak halalan-thayyiban. Sayang, padahal saat kita kecil kedua orang tua kita menjaga benar asupan gizi bagi kita semua. Saatnya kita jag.a lambung kita dan hanya zat yang halal yang layak masuk ke dalam pencernaan kita, agar benar-benar menjadi manfaat bagi kehidupan kita.

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”(QS. an-Nahl: 114).

4. Kita maklumi kelakuan anak-anak kita dan kita bimbing penuh dengan kasih sayang. Bukankah seharusnya kita juga bertindak sama pada diri kita dan orang lain manakala mereka melakukan kesalahan? Ada orang yang memberi pelajaran secara keterlaluan pada dirinya sendiri saat berbuat salah, seolah-olah Allah bukan Zat Yang Maha Pengampun. Padahal Allah punya asma al-Ghaffur, al-Ghaffar dan at-Tawwab juga ash-Shabur.
Manakala kita berbuat dosa, maka segeralah bertobat, sesali perbuatan kita tapi bukan untuk melaknati diri kita. Allah Maha pengampun.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”
(QS. ali Imran: 135-136).

5. Kita sering terkaget-kaget melihat pertumbuhan anak-anak kita, “Wow dia makin tinggi!”. Pertumbuhan anak-anak kita seharusnya menjadi cermin diri kita. Mereka bertambah besar sementara kita mulai layu. Lalu pernahkah kita mengukur diri kita sendiri? Tentu bukan pertumbuhan badan, tapi pertambahan amal dan kualitas diri. Sudah sejauh apa kedudukan kita di hadapan Allah? Sudahkah umur yang kian berkurang menjadi penguat keimanan dan kedekatan kita dengan Rabb?

“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?”
(QS. Yaasin: 68).

Marilah bermain bersama anak-anak, dan belajarlah dari kehidupan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.