Kelaparan vs Kemewahan: Derita Dalam Kapitalisme

jambi kelaparanAda peribahasa lama yang sekarang terngiang lagi di dalam kepala saya; bak anak ayam mati di lumbung padi. Peribahasa itu berputar lagi di kepala setelah membaca berita 11 saudara kita dari Suku Anak Dalam, Jambi, tewas karena kelaparan dan gizi buruk. Diperkirakan jumlahnya akan terus bertambah cepat karena jumlah mereka tersebar di wilayah Taman Nasional Bukit Dua Belas, Propinsi Jambi.
Penduduk Suku Anak Dalam yang masih mengandalkan pangan dari berburu dan memakan buah-buahan di hutan, semakin terdesak karena ketersediaan pangan dan air yang semakin berkurang. Mereka kelaparan lalu terserang sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Kejadian ini mengingatkan saya pada peristiwa tahun 2013 di Papua, saat sekitar 90-an warga Distrik Kor meninggal akibat kasus yang sama; kelaparan. Saat itu pemerintah berdalih kawasan itu sulit dijangkau karena medannya yang berat, berbukit dan hutan lebat ditambah cuaca yang buruk.
Mungkin banyak orang Indonesia yang tidak percaya, khususnya bila Anda tinggal di kawasan perkotaan dan Anda masuk golongan middle-class apalagi high class, bahwa kelaparan masih menghantui Indonesia. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Welthunger Hilfe dan International Food Policy Reaserch Institue (IFPRI) pada tahun 2014, Indonesia masuk kategori ancaman serius kelaparan. Dua lembaga itu membagi tingkat ancaman kelaparan pada lima level; extremely alarming, alarming, serious, moderat, dan low.
Hasilnya, Indonesia menempati negara dengan tingkat ancaman kelaparan yang serius. Menurut FAO dari sebelas warga Indonesia, satu mengalami kelaparan. Kelaparan menurut FAO adalah kekurangan gizi atau asupan makanan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan diet energi, yang berlangsung setidaknya selama satu tahun. Tepatnya kekurangan gizi kronis.
Laporan akhir tahun 2012, data Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat sebanyak 8 juta anak balita mengalami gizi buruk kategori “stunting” yakni tinggi badan yang lebih rendah dibanding balita normal.
Dari data 23 juta anak balita di Indonesia, 8 juta jiwa atau 35 persennya mengidap gizi buruk kategori stunting, sementara untuk kasus gizi buruk tercatat sebanyak 900 ribu bayi atau sekitar 4,5 persen dari total jumlah bayi di seluruh Indonesia. Sementara itu di dunia, ada 162 juta anak menderita kurang gizi kronis.

Apa penyebab kelaparan ini?
Kelaparan dan kemiskinan hari ini bukanlah disebabkan kemalasan, sebagaimana pikiran sebagian orang. Dimana sebagian orang ada yang masih menganggap orang menjadi miskin karena malas atau tidak mau bekerja keras.

Kenyataannya kemiskinan dan kelaparan hari ini adalah gambar suram perekenomian yang masih buruk. Gap antara pedalaman, pedesaan dengan perkotaan begitu dalam. Jurang lebar antara si kaya dan si miskin menganga. Warga pedalaman dan pedesaan sulit mendapatkan akses sekolah, kesehatan dan juga sumberdaya ekonomi seperti modal, skill dan info bisnis.

49-rich-and-poor

Ketika ada sebagian orang makan nasi aking, atau berebut jatah beras miskin yang berbau dan berkutu, di kota-kota besar seperti Jakarta atau kawasan wisata seperti Bali, Anda masih bisa memesan satu porsi steak wagyu seharga 400 ribu supiah di sejumlah restoran bintang lima.

Atau ketika anak SD di kampung sarapan pagi dengan mengunyah sepotong pisang goreng seharga seribu rupiah — malah masih ada yang menjualnya Rp 500/biji –, di berbagai hotel bintang lima harga seporsi pisang goreng adalah 25 ribu rupiah. Berisi tiga potong pisang goreng mentega dibanjur saus fla.
Bagi yang tidak mampu bisa begitu berbahagia mendapatkan sumbangan baju layak pakai. Sementara sebagian orang Indonesia ada yang biasa berbelanja ke Singapura, Prancis, dll. Membeli tas atau ikat pinggang merk Hermes, dll.

Kapitalisme menciptakan hidup bak langit dan bumi. Heaven or hell, kata orang bule. Ada yang begitu kaya, ada yang begitu miskin dimana makan sekerat daging adalah kemewahan. Saya jadi teringat kawan-kawan saya saat bersekolah di SD Negeri Argapura Cirebon pada tahun 1985-1989. Rata-rata mereka keluarga petani tidak mampu. Sebagian lagi orang tua mereka bekerja sebagai tukang becak atau kuli bangunan. Ada juga kawan SMP saya yang juga berprofesi sebagai penarik becak usai pulang sekolah.

Ada kawan saya, Rudi namanya, yang dengan gembira bercerita bahwa ia semalam bisa makan daging dari berkat/besek tahlilan tetangganya. Saat itu saya baru tahu bahwa ada di antara kawan-kawan saya yang hampir tidak pernah makan daging kecuali bila ada pembagian kurban atau besek/berkat.

Silakan bila ada orang yang menganggap hal itu adalah mubah. Tapi yang perlu diingat adalah kewajiban mengentaskan kemiskinan dan kelaparan itu yang terjadi secara sistemik. Karena dua persoalan itu terjadi bukan karena kemiskinan mereka apalagi faktor alam, tapi buruknya pelayanan publik dan terutama rusaknya sistem kapitalisme dalam menata perekonomian masyarakat.

Kapitalisme adalah yang paling harus dipersalahkan dalam kasus kelaparan dan gizi buruk. Diakui atau tidak, Indonesia adalah salah satu negara yang menganut sistem kapitalisme-neoliberalisme. Salah satu tipikal negara kapitalisme adalah memberlakukan pola survival of the fittest bagi rakyat. Kita dibiarkan bertarung di medan perekonomian untuk mendapatkan jatah ‘kue’ ekonomi. Siapa yang kuat, akan mendapat yang terbanyak.

Wanita, anak-anak, kaum disabilitas, orang lanjut usia, kaum miskin, semakin terpuruk dalam sistem kapitalisme. Kisah-kisah sukses yang diraih warga miskin yang sering diangkat media hanya satu dari sekian ribu warga miskin yang masih dan makin susah hidupnya dari hari ke hari.
Kenyataannya yang kaya semakin berfoya-foya. Fakta, di Indonesia lima puluhan ribu rekening ini menguasai uang Rp. 1.215 triliun dari total simpanan bank nasional sebesar Rp. 2.879 triliun(42 % dana simpanan bank) artinya rekening sejumlah 0.057 % menguasai 42 % dana simpanan bank.

poor vs rich

Kapitalisme itu kejam. Kapitalisme tak bisa dihilangkan hanya dengan kerja keras dan belajar sungguh-sungguh, karena itu hanya mengangkat harkat hidup individu, bukan masyarakat. Kapitalisme juga tak bisa dihapus hanya dengan kita menyumbang makanan sebanyak-banyaknya kepada warga miskin, karena akar persoalannya tak jua hilang.

Kapitalisme harus didongkel, dicabut dari akar hingga ke daunnya. Kapitalisme harus diopinikan sebagai sistem kejam, tidak manusiawi dan pembunuh berdarah dingin. Dan hari ini Indonesia memberlakukannya. Maka rakyat harus diopinikan kekejaman dan kerakusan sistem ini.

Lalu apa yang layak untuk menggantikannya? Tak ada yang layak menggantikannya selain syariat Islam. Hanya dengan syariat Islam kehidupan manusia akan kembali pada fitrah, dan negara ada untuk menjamin kehidupan rakyatnya. Bukan secara agregat, tapi kepala demi kepala wajib ditanggung kehidupannya oleh negara dalam Islam. Dalam sistem khilafah.

Incoming search terms:

  • miskin dan kelaparan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *