Kekerasan Bahasa Baru Bangsa

SchoolViolenceCartoonKekerasan sepertinya menjadi ‘bahasa’ baru bagi negeri ini. Belum lama berselang seorang mahasiswa STIP Jakarta tewas disiksa seniornya, di Tangerang seorang pemuda pengangguran menghabisi keluarga mantan pacarnya. Tragisnya perbuatan keji itu dilakukan usai keluarga menjamunya makan siang bersama. Beberapa minggu lalu di Cibinong, seorang ibu muda usia belasan tahun membayar dua orang kawan perempuannya yang juga masih ABG untuk menghabisi ibu mertuanya. Di IPDN, kampus yang berulang kali terkenal dengan kasus kekerasan praja seniornya, kembali terulang kejadian kekerasan. Lima orang prasa putri disiram air keras oleh kawan mereka setelah terjadi cekcok senior-junior.

Pasti ada yang salah dengan bangsa ini. Gampang sekali seseorang menggunakan kekerasan untuk melampiaskan emosi dan memaksakan kehendak kepada orang lain. Pelaku kekerasan lebih suka membiarkan akal sehatnya dibajak kemarahan ketimbang bertahan dengan cara yang beradab. Banyak orang yang membuang pendekatan dialogis atau menahan diri karena bagi mereka itu percuma.

Bukan saja kekerasan fisik yang marak terjadi, tapi juga kekerasan secara verbal. Bahkan kekerasan secara verbal jauh lebih mudah dan banyak ditemui. Kekerasan secara verbal bisa ditemui di keluarga ketika orang tua memaki atau mengancam anaknya. Di jalanan banyak orang mudah mengeluarkan umpatan kepada sesama karena macet misalnya.

Kekerasan adalah cara primitif namun efektif untuk membuat orang paham dan tunduk pada kemauan Anda. Tapi dalam waktu singkat. Selebihnya penyesalan yang akan datang menghampiri Anda. Ja’far bin Muhammad rahimahullah mengatakan; “Marah itu adalah kunci segala kejahatan.” Sebabnya ketika seseorang marah maka ia akan kesulitan mengontrol amarahnya. Dalam bahasa psikologis seseorang yang marah tengah ‘dibajak’ oleh emosinya.

Celakanya, kekerasan yang ia lakukan bukannya akan mereda namun justru akan meninggi. Kasus pembunuhan keluarga oleh pemuda pengangguran di Tangerang adalah bukti gamblang. Pelaku tak menghentikan kekerasan yang ia lakukan saat sudah menghabisi nyawa ibu pacarnya, tapi justru berlanjut kepada anggota keluarga yang lain.

Bagaimana menghentikan kekerasan di tanah air? Ada dua cara; pertama, memformat ulang karakter masyarakat sehingga memiliki pribadi yang sabar dan panjang akal, tak gampang marah. Untuk itu harus dilandaskan kepada akidah Islam atau keimanan. Format masyarakat sekarang adalah masyarakat liberal dengan prinsip survival of the fittest atau the might is right. Kekuatan menjadi ukuran kebenaran. Orang tak lagi berpikir jangka panjang akan ancaman kekerasan pada masyarakat.

Sementara Islam mengajarkan agar orang bertindak sesuai dengan hukum syara’. Marah pun harus sesuai dengan hukum syara’. Ada amarah yang boleh dilepaskan seperti menghukum anak atau istri yang berbuat maksiat, marah kepada pelaku kemungkaran, dsb. Tapi ada juga amarah yang wajib untuk ditahan. Islam mengajarkan bahwa bersabar dalam menahan amarah akan menciptakan ketentraman di masyarakat dan menuai kemenangan di sisi Allah kelak.

Kedua, memberikan sanksi bagi pelaku kekerasan yang setimpal. Dalam sistem hukum sekarang sanksi yang ada tidak memberikan preventif. Karena tidak memberikan efek jera, tidak menakutkan. Perlu ada sanksi yang layak ditakuti. Itu hanya ada dalam sistem pidana Islam. Ada sanksi qishash bagi pelaku pembunuhan dan penganiayaan, juga ada denda (diyat) yang besar nilainya bagi pelaku kekerasan.

Mengingat kekerasan yang sudah menjalar ke berbagai lapisan, sudah mendesak untuk melakukan perubahan secara masif di tengah masyarakat. Kita membutuhkan perubahan peradaban karena keadaan sekarang amat jauh dari peradaban kalaulah tidak dikatakan biadab. Satu-satunya pilihan peradaban yang terbaik dan manusiawi hanyalah Islam. Sejarah sudah membuktikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.