Jurnalis dan Teroris

tintinDulu, saat masih remaja saya berpikir seorang jurnalis termasuk orang yang hebat. Cerdas dan berani. Seorang jurnalis, dalam pikiran saya, tidak akan menyerah untuk mengungkap fakta di balik sebuah berita, apapun resikonya. Singkat kata, jurnalis adalah posisi terhormat di mata saya.

Tapi belakangan saya sadar kalau saya terlalu banyak membaca komik Tintin. Tokoh fiktif yang berprofesi sebagai jurnalis karya Herge. Meski perawakannya kurus Tintin besar nyali, jago berkelahi dan punya idealisme tinggi. Banyak kasus kejahatan ia bongkar dan pelakunya dijebloskan ke dalam penjara.

Sayang, di alam nyata tidak banyak jurnalis seperti Tintin. Semenjak media massa menjadi industri, banyak jurnalis yang dipaksa tunduk kepada hukum pasar dan kepentingan politik negara-negara besar. Ada juga yang sukarela menjadi sahaya pemilik industri media massa. Jurnalis yang smart, berpegang pada prinsip 5W+1H, investigatif, menuliskan fakta apa adanya, tersingkir dari arena media massa.

Pengalaman pahit itulah yang dialami banyak jurnalis idealis. Bila Anda membaca buku Perang Demi Uang yang ditulis dialami Amy Goodman & David Goodman, Anda akan tahu bahwa media massa besar telah berselingkuh dengan politisi dan pebisnis perang untuk meyakinkan publik bahwa kebijakan War on Terror yang dicanangkan George Bush adalah tepat. Media massa seperti itu dengan kuasanya memoles faka agar menjadi second hand reality untuk kemudian dijejalkan kepada publik.

Hal yang sama juga berlaku dalam berbagai kasus yang berhubungan dengan kepentingan politik dan ideologi umat Islam di tanah air. Media massa selalu sigap memberitakan apa saja yang mendeskreditkan umat Islam. Kasus GKI Yasmin di Bogor, Ahmadiyah hingga pemberitaan terorisme hampir selalu menjadi fokus pemberitaan. Isu terorisme bahkan sudah menjadi pemberitaan yang seksi bagi banyak media massa dan para jurnalis. Tentu saja para kuli tinta yang sudah mafhum pola 5W+ 1H menelan begitu saja setiap informasi yang disampaikan pihak kepolisian. Hilang sudah spirit investigasi yang semestinya dimiliki seorang jurnalis.

Padahal banyak kejanggalan yang anehnya tidak pernah ditindaklanjuti oleh banyak jurnalis. Benarkah terjadi tembak menembak? Mana bukti proyektil pelurunya? Ada tidak saksi matanya? Lalu mengapa orang yang baru dikatakan ‘terduga’ bisa langsung dieksekusi mati oleh parat? Apakah benar aparat tidak bisa menangkap mereka hidup-hidup? Bagaimana laporan warga yang menyebutkan terjadi salah tangkap dan kepada tetangga mereka? Benarkah terjadi penyiksaan pada mereka? Lalu bagaimana tanggapan aparat keamanan atas kasus salah tangkap yang berujung penyiksaan ini? Dll.

Para jurnalis yang muslim semoga tidak lupa bahwa setiap ucapan  — juga tulisan – seorang manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. bukan saja apa yang telah diucapkan dan dituliskan, tapi kebenaran yang tidak diungkapkan juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Mengapa tidak dipertanyakan dan diungkapkan?

“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”(QS. al-Maidah: 44).

Media massa dan jurnalis yang tidak pernah berusaha mengungkapkan kebenaran atas sebuah peristiwa, sebenarnya tengah melakukan teror terhadap umat Islam. Mereka menakut-nakuti publik dengan berita sumir, menciptakan stigma terhadap ajaran Islam dan membangun Islamphobia di tengah umat. Na’uzubillahi min dzalik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.