Meja Yang Berantakan

LPG-3-kg-habis-ok-1Ada yang bilang; bila Anda melihat meja kerja seseorang rapi, maka periksalah lacinya, kemungkinan berantakan. Perkataan di atas hanya untuk menggambarkan seseorang yang memang senang dengan ketidakberesan, selalu susah untuk bekerja rapi jali. Ketika ia merapikan meja kerjanya, kekacauan itu dipindahkan ke dalam lacinya.

Rasanya idiom di atas pas untuk melukiskan kebijakan pemerintah dan Pertamina dalam menaikkan harga LPG. Dengan alasan merugi terus hingga triliunan rupiah, Pertamina lalu mengatrol harga LPG 12 kg tinggi-tinggi. Kenapa yang 12 kg? Karena itu yang tidak bersubsidi dan diperuntukkan untuk kalangan menengah ke atas. Asumsinya, orang kaya pastilah sanggup membelinya. Beda dengan LPG 3 kg yang masih bersubsidi karena ditujukan untuk konsumsi kaum proletar.

Selesai? Tidak.

Karena warga menengah ke atas lalu memborong LGP tabung 3 kg. Akhirnya si gas tabung melon itu pun menjadi langka dan harganya ikutan naik di pasaran. Warga proletar pun terimbas dampak kenaikkan LPG 12 kg. Maka seperti idiom di awal tulisan ini, kekacauan berpindah dari atas meja ke dalam laci.

Saya percaya negeri ini mampu menyelesaikan krisis enerji, termasuk pada sektor gas. Karena potensi gas alam negeri ini luar biasa. Menurut catatan Kementerian ESDM cadangan gas alam kita masih cukup untuk 59 tahun (lihat di sini: http://www.esdm.go.id/berita/40-migas/3190-cadangan-produksi-gas-bumi-indonesia-mencapai-59-tahun.html).  Caranya, hentikan ekspor gas alam ke luar negeri, penuhi dulu kebutuhan domestik. Pemerintah jangan hanya berpikir mencari untung tapi rakyat jadi buntung. Bagaimana bisa 75 persen gas alam justru diekspor ketimbang memenuhi kebutuhan dalam negeri (lihat di sini: http://www.investor.co.id/energy/produksi-gas-alam-cair-nasional-75-persen-diekspor/65423 )? Masak iya tega menjual beras ke tetangga sedangkan anak-anak di rumah terkapar kelaparan?

Harusnya sudah sejak dulu rakyat ini menikmati gas alam yang murah meriah. Mestinya sejak lama pemerintah membangun instalasi gas alam dari rumah ke rumah, bukan malah menjual LPG yang memang lebih membawa untung bagi kas negara.

Bangsa ini bisa sejahtera asal para penguasanya bekerja untuk kemakmuran rakyat. Bukan untuk pribadi, anak istri maupun parpol. Atau hanya berpikir devisa tapi rakyat tersiksa.

Tapi sebelum bicara kemakmuran harus terlebih dahulu meninggalkan sikap memberhalakan ekonomi kapitalisme-liberal. Masalah gas hanyalah cabang dari persoalan di meja kerja yang berantakan. Dengan ekonomi liberal, keberantakan itu hanya dipindahkan dari atas meja ke dalam laci, atau mungkin ke kolong meja. Mental neoliberal itu yang harus dirapikan lebih dulu, berganti dengan mental yang rapi jali. Apalagi kalau bukan sistem dari langit, mulia karena dari sisi Ilahi. Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *