
Photo by Nataliya Vaitkevich: https://www.pexels.com/photo/close-up-of-a-bloody-hand-5605492/
Satu keluarga tewas diracun di Magelang, pelakunya adalah anak mereka sendiri. Korban meninggal adalah oleh ayah Abbas Ashari (58), ibu Heri Riyani (54), dan anak perempuan pertama Dhea Chairunisa (25). Pelakunya ada Dio Dhaffa (22) anak bungsu mereka.
Sampai sekarang polisi masih menelusuri motif pembunuhan. Awalnya pelaku mengaku sakit hati karena diminta menjadi tulang punggung keluarga, termasuk membiayai pengobatan sang ayah dan membayar utang-utangnya, Namun belakangan tersiar kabar kalau pelaku sering berbohong, mengaku kuliah tapi tak jelas kampusnya, dan pernah meminta uang puluhan juta pada sang ayah yang ternyata dihambur-hamburkan.
Salah seorang kakak dari ibu Heri Riyani, Sukoco, menolak bila dikatakan keluarga korban punya persoalan ekonomi, karena sebagai pensiunan satu instansi pemerintah penghasilan sang ayah berkecukupan. Ia juga menyatakan keluarga ini tak pernah terdengar cekcok. Hanya saja ia mengakui bila ayah pelaku pernah curhat tentang perilaku anaknya yang kemudian menjadi pelaku pembunuhan.
Disharmonisasi Anak Dan Orang Tua
Tidak berlebihan bila hari ini kita bisa bahkan harus mengatakan Indonesia sedang mengalami krisis nilai-nilai keluarga. Sederet kasus yang sering terjadi di masyarakat menunjukkan Indonesia sedang alami disharmonisasi dan disfungsi nilai-nilai keluarga. Keluarga yang harusnya menjadi salah satu benteng perlindungan bagi individu, justru menjadi tidak aman karena tengah meluncur deras ke jurang dehumanisasi.
Di antara dampak rusaknya nilai-nilai keluarga adalah kian renggangnya hubungan anak dengan orang tua. Hubungan yang harusnya penuh kasih sayang seringkali berganti menjadi saling tidak peduli bahkan bermusuhan. Beberapa kali kita membaca pemberitaan konflik dan kekerasan orang tua terhadap anak.
Rumah bukan lagi menjadi tempat yang aman untuk anak-anak, karena tidak sedikit orang tua berlaku kasar baik secara verbal maupun fisik pada anak mereka. “Survei Kekerasan Terhadap Anak Indonesia 2013” dari Kementerian Sosial menunjukkan 73,7 Persen Anak Indonesia Mengalami Kekerasan di Rumahnya Sendiri.
Dilihat berdasarkan jenisnya, anak-anak Indonesia cenderung mengalami kekerasan emosional dibandingkan fisik. Sebanyak 70,98 persen anak laki-laki dan 88.24 persen anak perempuan pernah mengalami kekerasan fisik. Untuk kategori kekerasan emosional, sebanyak 86,65 persen anak laki-laki dan 96,22 persen anak perempuan menyatakan pernah mengalaminya. Ironisnya, pelaku yang cukup besar melakukan kekerasan pada anak adalah orang terdekat, yaitu keluarga dan pengasuh.
Beberapa hari lalu, di Muara Enim, Sumatera Selatan, seorang ibu muda menggorok bayi usia 10 hari. Tindakan yang kemudian disesali sang ibu disebabkan kompleksnya persoalan rumah tangga; perpisahan dengan suaminya, tanpa nafkah, dan konflik antara temannya yang hendak hendak mengadopsi bayinya dengan kakek sang bayi yang tidak setuju.
Hubungan anak dengan orang tua di tanah air juga mengalami krisis. Kasus konflik dan kekerasan oleh anak terhadap orang tua, bukan kali pertama terjadi. Pada bulan Januari 2021, seorang ibu bernama Hj Daminah berusia 78 tahun digugat tiga anak anak perempuan kandungnya soal warisan. Berkali-kali sang ibu menghadiri sidang di Pengadilan Negeri dengan menggunakan kursi roda karena sudah lanjut usia.
“Kalau sudah begini mereka bukan anak kandung lagi, saya melahirkan anak setan. Durhaka, durhaka, durhaka mereka bukan anakku,” ujarnya.
Kasus perseteruan Hj Daminah dengan anak-anaknya baru satu dari sekian konflik anak dengan orang tua yang berlanjut ke meja pengadilan.
Kasus kekerasan hingga pembunuhan orang tua oleh anak juga terus terjadi. Pada bulan Oktober 2022, seorang anak membunuh ibu kandungnya gara-gara kesal tidak diberi uang rokok. Sebelumnya di bukan September, di Ngawi, Jawa Tengah, seorang anak berusia 19 tahun membunuh ayahnya yang sedang sakit stroke. Motifnya pelaku kesal dengan ayahnya yang sering memarahinya. Selain itu pelaku juga sudah bosan merawat ayahnya dan ingin pergi merantau.
Di sini terlihat banyak anak sudah merasa tidak nyaman berkomunikasi dan hidup bersama dengan orang tua mereka. Bahkan mereka menempatkan orang tua sebagai beban bahkan lawan berkonflik. Bukan lagi sosok yang mereka hormati dan sayangi.
Dari sisi orang tua, juga tidak jarang ditemui yang memiliki karakter toxic parent, orang tua beracun. Minim kasih sayang, keras dan otoriter, tidak adil, dan menganggap anak adalah beban.
Individualisme dan Hedonisme
Di antara faktor penyebab rusaknya hubungan anak dengan orang tua adalah berkembangnya sikap individualistik. Orang tua kehilangan kepedulian pada anak karena sibuk dengan pekerjaan atau aktivitas pribadi. Kondisi ini akhirnya membuat ikatan emosional anak dengan orang tua menipis, sehingga anak pun ikutan menjauh.
Hubungan yang individualistik ini membuat anak merasa tidak membutuhkan lagi orang tua secara utuh. Ia menganggap orang tua sebagai orang asing. Kadang kala sikap keras pada anak adalah cara mereka ‘balas dendam’ pada orang tua yang kerap mengabaikan anak. Pada titik tertentu, anak-anak akan tega melakukan kekerasan bahkan pembunuhan pada kedua orang tuanya.
Perilaku lain yang merusak hubungan orang tua dan anak adalah budaya hedonisme, menciptakan kepuasan materi. Anak-anak dimanjakan dengan fasilitas oleh orang tua. Tak ada permintaan anak yang tak dikabulkan. Anak-anak yang tumbuh dalam suasana ini merasa bahwa pemberian materi adalah simbol kasih sayang. Materi adalah ukuran kasih sayang. Semakin besar pemberian materi, semakin besar penilaian terhadap kasih sayang.
Budaya hedonisme ini berpotensi menciptakan konflik antar anggota keluarga, termasuk anak dengan orang tua, karena ketidakpuasan akan materi. Kondisi inilah yang terjadi belakangan; perebutan harta waris antar saudara kandung, atau anak menggugat warisan dari orang tua. Bahkan sampai terjadi kekerasan dan pembunuhan.
Konflik soal harta antar anggota keluarga seputar harta warisan sudah sering terjadi. Pada tahun 2012, keluarga PT Santos Jaya Abadi atau yang dikenal dengan produk Kopi Kapal Api terlibat sengketa perebutan saham milik keluarga.
Pada 2013, keluarga pemilik Maspion Group alami perseteruan internal tengah akibat transaksi jual beli kawasan industri Maspion IV dan V di Gresik. Akibat perseteruan itu, salah seorang anggota keluarga mereka keluar dari Maspiom Group dan menjual seluruh sahamnya. Dia kemudian mendirikan perusahaan bernama Satoria Group.
Hal serupa juga terjadi pada keluarga pemilik Grup Sinar Mas. Pada tahun 2020, Freddy Widjaya, anak dari pendiri Grup Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja menggugat lima kakak tirinya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, seputar 12 warisan yang dipersoalkan sekitar Rp 600 triliun.
Tidak Sederhana
Umat harus segera menyadari krisis hubungan antara anak dan orang tua ini adalah akibat krisis nilai-nilai keluarga. Semua terjadi disebabkan masuknya nilai-nilai sekulerisme yang menghasilkan perilaku individualistik dan hedonis, yang menjadi pemicu besar konflik antar anggota keluarga, termasuk anak dan orang tua.
Selain itu banyak pernikahan tidak dibangun berdasarkan agama dan ilmu, semata karena dorongan cinta, tidak dirawat dengan bimbingan agama. Kondisi rumah tangga seperti ini yang rawan goyah manakala datang persoalan seperti ekonomi, pihak ketiga, tekanan keluarga, selain juga kondisi internal suami-istri yang rapuh hanya mengandalkan ikatan cinta.
Sebagai orang tua juga tidak cukup hanya bermodal keinginan memiliki anak, namun tidak dibarengi dengan pondasi dan tuntunan agama. Banyak orang tua yang abaikan kesehatan mental anak, memanjakan anak dengan materi, hingga kekerasan pada anak baik secara emosional ataupun fisik.
Persoalan yang membelit keluarga di tanah air tidaklah sederhana, semua berkaitan dengan tatanan nilai yang berlaku. Terbukti di negara-negara yang juga menerapkan nilai-nilai sekulerisme-liberalisme yang melahirkan sikap individualistik dan hedonis juga mengalami kondisi serupa, bahkan lebih parah. Di AS, 90 persen anak menyaksikan kekerasan domestik. Lalu pada tahun 2020, ada 618,399 anak menjadi korban kekerasan.
Karena itu, disharmonisasi dalam keluarga, termasuk konflik anak dengan orang tua, tidaklah sederhana. Bukan sekedar persoalan domestik, atau perilaku pribadi tertentu. Semua bersumber dari peradaban yang berlaku saat ini. Maka solusinya bukan sekedar memberikan perlindungan pada anak atau perempuan, tapi harus melindungi juga keluarga dan masyarakat. Solusi seperti itu hanya bisa dilakukan dengan membangun peradaban baru yang lebih sehat dan aman, dan itu hanyalah Islam.

Leave a Reply