Dimanakah Abu Bakar?

mujahidNama aslinya adalah Abdullah bin Abu Quhafah tapi kemudian umat ini lebih mengenal nama kunyahnya, Abu Bakar. Pria berkulit putih dan bertubuh kurus ini berasal dari Bani Tamim. Satu keluarga yang terkenal dengan keluhuran budi pekertinya sejak jaman jahiliyah. Nasab Abu Bakar bertemu dengan nasab Rasulullah saw.  pada kakek keenam yang bernama Murrah bin Ka’b.

Dialah lelaki pertama di luar keluarga Nabi saw. yang menyambut dakwah Islam. Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah aku menyodorkan agama Islam kepada seseorang melainkan masih ada keraguan pada dirinya kecuali Abu Bakar ra. Sesungguhnya dia tidak pernah bimbang dalam perkataannya.”[i]

Abu Bakar adalah khatib pertama dari umat ini yang mengumandangkan Islam dengan lantang di tengah kaum Quraisy, padahal saat itu jumlah kaum muslimin masih sedikit. Keberanian Abu Bakar ash-Shiddiq berbuah penyiksaan keji dari kaum Quraisy. Seorang tokoh musyrik Quraisy Utbah bin Rabiah menghajar wajah Abu Bakar dengan kedua sendalnya sehingga rupa hidungnya sulit dikenali. Sampai akhirnya Bani Tamim menyelamatkan dirinya.

Keberanian Abu Bakar mengundang pujian dari Ali bin Abi Thalib, “Demi Allah, satu jam bersama Abu Bakar lebih baik dari dunia dan seisinya dibandingkan kerabat Firaun yang beriman. Mereka menyembunyikan keimanannya, sedangkan Abu Bakar menunjukkan keimanannya.”[ii]

Keberanian Abu Bakar juga dilengkapi dengan empatinya kepada sesama kaum muslimin yang tertindas di Mekkah. Dengan hartanya ia bebaskan para budak yang beriman, termasuk Bilal bin Rabah ra. yang menjadi muazin pertama dalam Islam. Kemurahan hatinya dalam membebaskan para budak beriman yang membuatnya diberi gelar Atiq, sang pembebas. Allah mengabadikan sifat pemurah Abu Bakar dalam perjuangan ini dalam ayat-ayatnya yang mulia:

Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.[iii]

Ketika tiba masa menjabat kekhilafahan pidatonya diawali dengan kalimat kesederhanaan:

Aku telah dijadikan pemimpin kalian, padahal aku bukanlah orang yang terbaik. Jika aku benar dalam melaksanakan amanah  ini, maka bantulah aku. Namun bila aku salah, luruskanlah aku…orang yang lemah di antara kalian dalam pandanganku adalah orang yang kuat hingga aku berikan haknya. Sebaliknya, orang yang kuat di antara kalian dalampandangaku adalah orang  yang lemah hingga aku ambil hak-hak orang lain darinya.[iv]

Abu Bakar berdiri ketika kaum muslimin diterpa gelombang kemurtadan, kemunafikan dan serangan dari Romawi setelah wafatnya sang Nabi. Seperti kesaksian Aisyah ra. “Demi Allah, ayahku menanggung amanah berat  yang jika dipikulkan ke atas gunung niscaya akan ia akan hancur lebur, dan para sahabat Rasulullah saw. seperti domba yang tercerai berai di tengah hujan malam yang gelap gulita dan dingin, di tengah padang yang dipenuhi binatang buas.”

Tapi pria kurus dan berhati lembut ini membuat keputusan yang mengejutkan dan kelak berbuah penyelamatan bagi umat. Beliau tetap mengirimkan pasukan Usamah bin Zaid ke perbatasan untuk menghadang invasi imperium Romawi meski sebagian sahabat besar termasuk Umar bin Khaththab ra. menampakkan ketidaksetujuan. Beliau juga tak bergeming atas ketidaksetujuan sebagian orang untuk menumpas gerakan kaum murtad yang enggan membayar zakat. Sang Khalifah berprinsip tak boleh seorang muslim memisahkan satu hukum Allah dari hukum Allah yang lain. Berkat pertolongan Allah semua api pemberontakan dapat dihancurkan melalui kejelian dan keteguhan Khalifah pertama kaum muslimin Abu Bakar ash-Shiddiq.

Sungguh umat ini berhutang besar kepada jasa Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Seandainya ia tak mengambil keputusan yang berani untuk memadamkan setiap pemberontakan niscaya agama ini hancur dalam kepingan. Sebagaimana pujian Abu Hurairah kepada Abu Bakar, “Demi Allah, Dzat yang tiada berhak diibadahi kecuali Dia, seandainya Abu Bakr ash-Shiddiq tidak diangkat sebagai khalifah, niscaya Allah tidak diibadahi.” Beliau mengulangi ucapan tersebut tiga kali

Hari ini umat juga seperti domba yang tercerai berai di tengah padang yang diguyur hujan dan gemuruh topan badai di tengah malam yang gulita. Sedangkan binatang-binatang buas sudah menerkam mereka dari segala penjuru. Umat kembali membutuhkan Abu Bakar dan kekhilafahannya. Umat membutuhkan ketegasan dan keberanian sang Khalifah untuk menegakkan syariat Islam dan melindungi umat.

Telah cukup lama umat menderita. Demokrasi yang dijanjikan memberikan kemakmuran justru memperpanjang kesengsaraan. Kemurtadan makin menjadi, kemiskinan kian bertambah, para pengaku nabi palsu dan penghina ajaran Ilahi tak kunjung berhenti. Para pemimpinnya adalah rezim jibayah penghisap darah umat dan lebih senang menjadi penjilat kaum kolonial.

Dimanakah sang khalifah? Dimanakah Abu Bakar?

Tentu sang khalifah tak akan datang bila hanya dinanti. Saatnya umat bergerak, berkumpul di Tsaqifah Bani Saidah yang baru, mengangkat sang khalifah yang akan menepati janji sang Nabi. Mengemban bisyaroh kenabian sebagai khilafah ala minhajin nubuwwah. Melindungi umat dan mengembalikan tegaknya kemuliaan dalam naungan syariat Islam.

 


[i] Diriwayatkan oleh Razin, juga ad-Dailami dengan redaksi semakna dalam Musnad al-Firdaus dari Ibnu Mas’ud
[ii] Al-Bidayah wa an-Nihayah, juz 3 hal. 30
[iii] QS. al-Layl: 17-18
[iv] Al-Bidayah wa an-Nihayah, juz 6 hal 306.

Incoming search terms:

  • bagaimana sifat abu bakar dalam menegakan syariat islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *