Demokrasi Memecah Bangsa

the-divide2Tiba-tiba saya merasa ngeri dengan pilpres kali ini. Terutama setelah melihat aksi massa ‘menggerudug’ satu stasiun televisi yang dianggap menyerang dan merugikan salah satu kandidat pasangan capres dan cawapres. Massa menyegel dan melakukan aksi corat-coret di kantor tersebut.

Kecaman memang bermunculan. Mengapa pihak yang merasa dirugikan tidak menempuh jalur hukum untuk selesaikan kasus ini? Bukankah ini negeri hukum? Bukankah lebih elegan? Kalangan pers juga menyayangkan hal tersebut.

Tapi yang membuat saya jadi ngeri adalah aksi ini digerakkan langsung oleh petinggi parpol yang bersangkutan. Ada kesan ‘halal’ bertindak anarkis kepada lawan politik.

Terus terang saya merasa ngeri. Otak kecil saya membayangkan apa yang akan terjadi saat penghitungan suara mendekati titik akhir. Kala quick count sudah mulai diumumkan, nama capres yang diduga bakal memenangkan persaingan dibacakan, tensi kegelisahan dan emosi para pendukung semakin menegang. Manakala selisih keduanya tipis amat, isu ‘kecurangan perhitungan suara’ menyeruak, saya ngeri satu kata bakal membumi: C-H-A-O-S.

Baru masa kampanye saja suasana persaingan sudah memanas. Black campaign jadi senjata bagi masing-masing kubu. Saling ejek, saling menjatuhkan, saling mengklaim dukungan, saling mengklaim paling baik keislamannya, dsb.

Media massa juga menunjukkan keberpihakan dan ketidakadilan, tergantung pemiliknya mendukung siapa. Pemberitaan yang negatif dari media menyumbangkan tabungan emosi kefanatikan maupun kebencian bagi masing-masing kubu.

Saya ngeri Indonesia terbelah. Situs Republika menurunkan hasil temuan Prapancha Reasearch bahwa pilpres telah merusak perkawanan. Banyak orang merasa tidak nyaman dengan kawannya dalam suasana pilpres. Di jejaring sosial riset itu menemukan pantauan antara 4 Juni-4 Juli 2014, PR menemukan perbincangan unfriend, unfollow, block, dan unshare seputar pemilu meningkat sampai sekitar 3.513 di Twitter dari yang sebelum pilpres tidak ada sama sekali.

Itu di dunia maya, di dunia nyata lebih parah lagi. Banyak ormas yang terbelah. Bukan saja parpol, ormas Islam juga ikut terbelah. Pesantren terbelah. Para kyai juga ikut memecah belah jamaah. Saling menyalahkan bahkan saling mengharamkan.

Getir rasanya melihat kyai terbawa arus demokrasi. Para kyai kedua kubu mengeluarkan dalil yang sama, termasuk akhofu dlarurayn. Keburukan yang paling ringan. Padahal kedua kubu sama-sama mudlorot, tak ada yang paling ringan.

Aparat keamanan dan para purnawirawan juga ikut terbelah. Kepolisian dan militer ikut-ikutan berpihak. Terang-terangan mereka menyatakan dukungan. Bahkan intelijen juga terbawa ikut pecah belah. Ada kubu intelijen pro capres A, ada juga capres B. Perang opini ala intelijen dimainkan. Pertanyaannya; Kalau keamanan saja sudah terbelah, lalu siapa yang bakal mengamankan negeri?

Jangan tanya suasana di akar rumput. Namanya saja ‘akar rumput’, saat kering mereka mudah terbakar. Isu remeh temeh sekalipun bisa membakar mereka. Ironinya mereka hanya dibayar dengan nasi bungkus, atau malah ada juga yang rela tak dibayar. Tapi merekalah yang akan jadi garda terdepan andai terjadi permusuhan kaum elit politik. Mereka akan menjadi seperti kata pepatah; gajah sama bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah.

Anda boleh tidak merasa ngeri, tapi saya tetap ngeri. Catatan pilkada dan pileg di Indonesia tidaklah baik. Khususnya pilkada, berungkali kerusuhan tercipta. Apalagi ini yang melibatkan uang lebih banyak dan massa lebih banyak, akumulasi emosi pasti lebih besar.

Meskipun bisa jadi semua berjalan tidak seperti kecemasan saya. Bisa jadi pihak yang kalah merangkul yang menang. Saling bersalaman untuk kemudian kompromi berbagi kekuasaan. Siapa mendapatkan apa. Win-win solution jadi jalan. Kalau skenario ini yang terjadi, lalu apa gunanya ngotot-ngototan mendukung jagoannya? Apalagi sampai menggunakan dalil al-Quran. karena ujungnya tetap satu; kompromi kekuasaan. Padahal kebenaran ayat al-Quran tak pernah bisa dikompromikan. Kebenaran itu satu dari Rabbmu, janganlah engkau menjadi bagian golongan orang yang peragu.

Kalau skenario kedua ini yang berjalan, mungkin banyak orang merasa lega, tapi saya tetap ngeri juga. Karena modal keislaman yang selama ini dipakai selama kampanye akhirnya tiada guna. Demokrasi tetap menang, dan Islam hanya menjadi alat dagang.  Demokrasi terbukti merusak perkawanan, merusak persatuan negeri, dan merugikan umat Islam. Wallahualam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.