Demokrasi-Liberalisme Tak Ramah Pada Keluarga

24021818

24021818

Anda penggemar drama Korea? Pasti kepincut dengan ketampanan dan kecantikan para pemerannya. Sebut saja Lee Min Ho yang namanya sudah melekat di hati banyak perempuan pecandu drama Korea. Selain ganteng, yang buat banyak penggemar drama Korea betah berlama-lama menatap layar kaca — termasuk membeli DVD atau menyimpannya di hard disk komputer –, pria Korea Selatan tervisualisasi charming, romantis dan setia pada kekasih mereka.

Itu dalam drama. Kenyataannya? Sebaiknya Anda berpikir ulang. Pasalnya pada bulan Febuari lalu, Mahkamah Konstitusi Korea Selatan baru saja melegalkan perselingkuhan bagi warganya. Keputusan ini membatalkan UU sebelumnya yang melarang perselingkuhan yang sudah berlaku sejak tahun 1953. Sebelumnya di Korea Selatan perselingkuhan dianggap kriminalitas. Pelakunya bisa diancam kurungan badan 2 tahun penjara. Konon sekitar 53 ribu Korea Selatan didakwa berselingkuh (baca: berzina) dan 30 ribu telah masuk jeruji besi. Termasuk seorang aktris bernama Ok So Ri.

Lalu, kenapa tiba-tiba Undang-Undang itu dibatalkan? Rupanya ada perubahan pemikiran pada pemerintah Korea Selatan, khususnya para hakim konstitusi. Dulu UU yang melarang perselingkuhan dibuat untuk melindungi kaum wanita, para istri. Kini mereka menganggap bahwa persoalan selingkuh dan perzinahan adalah persoalan pribadi. Negara tidak perlu campur tangan dalam urusan seperti itu.

Perselingkuhan adalah salah satu persoalan sosial di Korea Selatan, selain juga sudah membudaya. Hasil survey oleh Durex pada tahun 2011 mendapatkan hasil 34 percent pria Korea berselingkuh.

Sex bebas kelihatannya sudah jadi kultur bagi pria Korea Selatan, termasuk bagi yang telah menikah. Seorang kawan yang telah bermukim selama 4 tahun di negeri ginseng itu bercerita bahwa perzinahan sudah dianggap lumrah, terutama di dunia bisnis. Sebagian besar aktifitas bisnis di Korea Selatan melibatkan aktifitas perzinahan, baik itu menggunakan jasa pelacur ataupun dengan para wanita yang merupakan sesama rekan bisnis.
Kawan saya yang tengah menuntut kuliah doktoral di satu kampus di Seoul itu bercerita bahwa perempuan yang terlibat dalam dunia bisnis juga tak bisa dan tak boleh menolak ajakan kliennya untuk tidur bersama. Lagi-lagi agar urusan bisnis menjadi lancar.
Selain itu, seorang pria Korea juga pantang menolak ajakan senior mereka di tempat kerja untuk melakukan pesta, mengkonsumsi minuman keras, dan menggunakan jasa para PSK di tempat-tempat prostitusi. Hal ini dianggap sebagai bagian dari budaya menghormati atasan atau senior mereka. Sekaligus sebagai upaya memajukan karir mereka dalam pekerjaan.
Ironinya, kultur semacam ini telah diketahui juga oleh para wanita Korea. Banyak di antara mereka yang tahu bila suami-suami mereka terbiasa berhubungan seks dengan perempuan lain, baik untuk keperluan bisnis atau bersenang-senang bersama rekan kerja mereka. Sebagian besar dari perempuan itu memilih menerima kenyataan itu, dan berpikir itu adalah cara agar suami mereka dapat meraih sukses dalam pekerjaan.

Dampak dari dilegalkannya perselingkuhan sudah bisa ditebak, kan? Ya, aktifitas seksual warga Korea Selatan meningkat. Itu terlihat dari naiknya permintaan kondom di pasaran. Tragisnya, hal itu justru dilakukan bukan dengan pasangan yang sah, tapi dengan perempuan lain.

broken-family

Apa yang saya tuliskan di atas adalah gambaran kalau demokrasi dan liberalisme tidak ramah terhadap keluarga dan pernikahan. Dalam ajaran demokrasi-liberalisme, keluarga tidak lebih penting ketimbang kebebasan dan hak asasi manusia. Persoalan keluarga adalah persoalan privasi, dimana negara tak perlu campur tangan.

Padahal, apa artinya sebuah komitmen pernikahan, hidup bersama lewat sebuah janji, bila negara malah tidak memberikan perlindungan kepada institusi pernikahan? Terutama tidak melindungi kepentingan dan kehormatan kaum wanita juga anak-anak? Tidak mudah merawat pernikahan bila negara tidak memberikan garansi moral dan sanksi bagi tindakan asusila.

Benar, pernikahan berawal dari individu, namun hanya keluarga saja tak kan cukup dan kurang berdaya menghadapi dekadensi moral. Di sinilah harusnya negara berperan melindungi individu, keluarga dan masyarakat. Menjaga moral masyarakat dan menghukum pelanggar moralitas.

Tapi dalam demokrasi-liberalisme, kehormatan dan moral adalah sesuatu yang tak lagi dianggap penting. Demokrasi lebih memuja kebebasan, termasuk kebebasan perilaku dan kebebasan keinginan (freedom for want). Moral hanyalah nilai yang bisa dievolusi sekehendak hati mengikuti keinginan publik.
Maka heran bila kemudian ada yang mengatakan demokrasi itu membawa keberkahan. Apa yang terjadia di Korea Selatan adalah produk demokrasi. Termasuk dilegalkannya pernikahan sejenis di beberapa negara seperti Finlandia dan Irlandia Utara, adalah bagian dari ajaran demokrasi. Bukan agama dan moral yang disakralkan, tapi kebebasan.

Saya jadi teringat dengan sabda Rasulullah saw. akan datangnya masa dimana orang-orang melegalkan perzinaan. Sabdanya:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
Akan ada dari umatku kaum-kaum yang mereka menghalalkan zina, sutra, minuman keras dan alat musik (HR. Bukhari).

Di tanah air, memang belum ada undang-undang yang terang-terangan melegalkan perzinahan. Akan tetapi, KUHP tidak mencantumkan perbuatan zina sebagai sebuah tindak kejahatan bila dilakukan oleh kaum lajang. Mereka yang telah menikah juga tak akan tersentuh hukum bila tak ada yang pengaduan.

Sampai di sini, kita perlu bertanya, sampai kapan kaum muslimin harus percaya pada demokrasi dan liberalisme? Apa harus menunggu dilegalkannya undang-undang rusak seperti yang sudah terjadi di belahan dunia lain?

Sementara kerusakan sosial sudah tampak di mana-mana. Alampun sudah mulai murka kepada kita semua. Sebelum terlambat, marilah kita kembali pada Syariat Islam dimana kehidupan akan mendapatkan keberkahan dan kemuliaan. Dimana nilai kemanusiaan dijunjung tinggi, termasuk di dalamnya institusi pernikahan. Apa lagi yang kita tunggu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.