Dalam Sistem Khilafah Keluhan Rakyat Lebih Didengar

political-bullshit-large-msg-133563473074Rasulullah saw. baru saja mendapat pengaduan dari Bani Salimah di Yaman ihwal gubernur mereka, Muadz bin Jabal ra. Perkara yang diadukan bukan perkara yang rumit. Malah sepertinya sepele. Mereka tidak suka dengan sikap Muadz yang memanjangkan bacaan shalatnya.

Dalam riwayat Shahihayn diceritakan bahwa saat itu Muadz bin Jabal memimpin shalat Isya di Bani Salimah dengan membaca surat al-Baqarah. Masyarakat yang bermakmum merasa terkejut. Seorang pemuda meninggalkan shalat jamaah lalu mengerjakan shalat sendirian di sisi mesjid.

Ketika kabar ini disampaikan kepada Muadz, ia berkata, “Sungguh ada kemunafikan pada dirinya! Aku pasti akan mengabarkan perbuatannya kepada Rasulullah saw.!” Pemuda itu membalas ucapan Muadz dengan berkata, “Aku pun sungguh akan mengabarkan perbuatan Muadz kepada Rasulullah!”

Ketika kabar ini sampai kepada Rasulullah saw. , Beliau sama sekali tidak membela Muadz, bahkan menegurnya, “Apakah engkau hendak menjadi juru fitnah, ya Muadz?” Selanjutnya Rasulullah saw. memberhentikan jabatan Muadz sebagai gubernur.

Bukan sekali saja Nabi SAW. memberhentikan jabatan pemerintahan yang dipangku sahabat karena ada pengaduan dari masyarakat. ‘Ila’ bin al-Hadhrami ra. dicopot jabatannya setelah ada pengaduan dari Abd al-Qais. Rasulullah saw. kemudian menggantinya dengan Aban bin Said bin al-‘Ash.

Tindakan Rasulullah saw. ini menjadi dalil bahwa keluhan masyarakat — termasuk anggota Majlis Ummah – tentang pejabat negara mengikat Khalifah. Sehingga khalifah wajib mengikuti saran dan komplain dari khalayak dalam hal ini.

Hal ini juga dilakukan oleh para khalifah sepeninggal Beliau saw. Misalnya Amirul Mukminin Umar bin Khaththab ra. memberhentikan Saad bin Abi Waqqash ra. dari jabatan gubernur setelah ada pengaduan dari masyarakat. Meskipun Umar tidak menyalahkan tindakan dan sikap Saad. Umar berkata, “Sungguh, aku tidak memberhentikan (Saad) karena kelemahan atau pengkhianatannya.”

Dalam sistem kekhilafahan masukan dan keluhan masyarakat benar-benar diperhatikan dan diikuti oleh kepala negara. Tudingan sistem Khilafah melanggengkan otoritarianisme dan kediktatoran sama sekali tak terbukti.

Karenanya, kita merasa heran dengan sistem demokrasi. Sistem politik yang sohor dengan slogan ‘kedaulatan rakyat’, kenyataannya aspirasi dan keluhan rakyat justru sering tak ditanggapi pemerintah. Padahal, pemerintah yang berkuasa itu adalah pilihan dan wakil mereka sendiri.

Kita bisa melihat gagapnya pemerintah menanggapi gesekan antara KPK dan Polri, meski opini publik menguat agar presiden campur tangan. Bahkan cukup banyak kalangan yang meminta agar Presiden Jokowi menghentikan pencalonan Budi Gunawan sebagai calon Kapolri. Tapi riak gelombang aspirasi publik itu justru menjadi buih di lautan yang tak diperhatikan pemerintah mereka. Dengan dalih taat asas, taat hukum, presiden tak mau — dan tak bisa – mengintervensi konflik dua lembaga negara ini.

Sistem demokrasi yang mengaplikasikan teori pembagian kekuasaan, pada ujungnya membuat pemerintahnya terbelenggu dalam menyelesaikan berbagai persoalan lembaga kenegaraan. Presiden sebagai eksekutif tak boleh mencampuri domain yudikatif dan legislatif. Akhirnya kekuasaan presiden memang dikerdilkan.

Selain itu, harus disadari bahwa dalam sistem demokrasi pemerintah juga tersandera kepentingan parpol pendukungnya. Hari ini publik bisa menangkap sinyal bahwa presiden terbelenggu oleh parpolnya. Hal ini menguatkan analisa Deny J.A. beberapa saat setelah pengangkatan Jokowi sebagai presiden terpilih, bahwa Jokowi adalah presiden terlemah dalam sejarah Indonesia. Di antaranya karena ia bukan pemimpin parpol. Ia hanya petugas partai. Akhirnya ia tak berdaya melawan kehendak partai dan induk semangnya. Inilah hakikat demokrasi. Hanya bagus dalam tataran teori, tapi cacat dalam aplikasi.

Sementara itu sistem kekhilafahan telah memberikan aturan yang jelas dan haq. Sistem ini datang dari langit, dari Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui kelemahan-kelemahan manusia. Sayang, manusia seringkali sombong dan merasa mampu berlepas diri dari aturan Allah. Hasilnya? Kekacauan dan kerusakan terus menerus diproduksi. Tinggal rakyat yang gigit jari dan bingung serta frustrasi dengan pemerintah pilihan mereka sendiri.

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (QS. Al-Mukminun [23]: 71)

Incoming search terms:

  • ila bin hadrami dicopot jabatan oleh rosul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *