Bangsa Ini Berhutang Pada Fanatiknya Umat Islam

pemimpin pertempuranMunculnya RUU ORMAS menunjukkan sebagian elit penguasa di negeri ini masih mengidap Islamphobia. Mereka menempatkan Islam sebagai ancaman khususnya terhadap kelompok yang giat beramar ma’ruf nahi mungkar, dan yang berjuang menegakkan syariat Islam dan Khilafah. Bila RUU ini disahkan maka tindakan represif ala Orba akan kembali terulang, dan umat Islam kemungkinan besar kembali akan menjadi korban.

Sulit dimengerti mengapa masih ada Islamphobia di negeri ini dari sebagian orang di negeri ini, khususnya di kalangan penguasa. Mereka menempatkan Islam dan para pengemban dakwahnya sebagai pesakitan. Selain itu mereka juga memaksa Islam harus tunduk pada kemauan mereka, dan bukan mereka yang tunduk pada ajaran Islam. Hal itu tercermin dari draft RUU ORMAS yang di antaranya mengharuskan setiap ormas mencantumkan Pancasila sebagai asas, serta melarang ormas melakukan aktifitas politik.

Padahal, bangsa ini berhutang budi kepada Islam dan umatnya. Andaikan mereka mau belajar dari sejarah dengan hati yang ikhlas, semestinya mereka merasa malu kepada para founding fathers negeri ini. Karena tanah Sabang sampai Merauke telah basah dengan keringat dan darah para pejuang muslim yang bertekad mengusir para penjajah dengan ruhul jihad. Para sejarawan yang jujur mencatat bahwa perlawanan terhadap kaum kolonial dikobarkan oleh para alim ulama, kyai, tokoh tasawuf, dan ribuan santri.

Kala itu para ulama dan santri yang berjuang di negeri ini belum mengenal kata ‘indonesia’ atau ‘nusantara’, apalagi ‘pancasila’ dan ‘UUD 45’. Mereka berjuang semata karena dorongan jihad fi sabilillah dan kebencian pada Kristenisasi di negeri mereka, serta pengrusakan moral yang dilakukan kaum kolonial.

Tapi bangsa ini seperti mengalami amnesia akut. Melupakan sejarah dengan cepat. Seperti lupa bahwa ibukota negara ini, Jakarta, dibebaskan dari cengkraman penjajah Kristen Protestan Portugis oleh seorang alim dan balatentara santri.  Bukankah Jakarta dulunya bernama Soenda Kelapa dikuasai Portugis, yang kemudian oleh Sjarif Hidajatoellah atau Soenan Goenoengdjati bersama menantunya, Fatahillah, berhasil dipukul mundur? Lalu nama Soenda Kelapa diganti menjadi Fathan Mubina (dari surat al-Fath: 1) dan disebut pula Jayakarta yang artinya adalah kemenangan yang sempurna? Tapi berapa banyak orang yang masih mengingat itu lalu merasa berhutang budi kepada para wali dan santri?

Bukankah tanah Jawa juga diperjuangkan mati-matian oleh seorang putra kesultanan Yogyakarta yang begitu mencintai Islam, Pangeran Diponegoro yang terkenal dengan sorban dan gamis-nya? Diponegoro tak sudi negerinya dijajah dan dirusak moralnya oleh Belanda. Ia menentang kebiasaan Soeltan Hamengkoe Boewono IV  yang gemar mabuk-mabukkan mengikuti kebiasaan kaum kafir Belanda. Soeltan Hamengkoe Boewono IV akhirnya tewas saat mabuk minuman keras.

Dalam perjuangannya Diponegoro dibantu oleh 108 kyai, 31 haji, 15 Syeikh, 12 penghulu Yogyakarta, dan 4 kyai guru. Sang Pangeran sendiri bergelar Soeltan Abdoelhamid Eroetjakra Amiroel Moekminin, Sjaijjin Panatagama, Chalifah Rasulullah saw. ing tanah Jawa.

Bersama Diponegoro ada kyai kharismatik, Kyai Modjo dan panglima perang Sentot Alibasah Prawirodirdjo. Di tangan Pangeran Diponegoro kaum kolonial Belanda harus menelan kenyataan 8000 serdadu mereka tewas dan mengalami kerugian hingga 20 juta gulden. Perang yang kemudian dikenal dengan sebutan Perang Djawa ini nyaris membangkrutkan VOC kala itu.

 

Tidak ada satupun sejarawan tulen yang bisa mengatakan bahwa para pejuang kemerdekaan negeri ini berperang tanpa spirit Islam. Bahkan pasukan Aceh melibatkan bantuan militer dari Khilafah Utsmaniyyah untuk melawan penjajahan Belanda. Itulah buah kecintaan para syuhada terhadap negeri ini. Mereka tidak berdiam diri apalagi bekerja sama dengan kaum penjajah Barat yang kafir.

Aneh bila kemudian ada elit penguasa yang memusuhi kelompok-kelompok Islam yang tengah berjuang menyelamatkan negeri ini dari degradasi moral, korupsi, dan penjajahan sumberdaya alam. Kelompok-kelompok ini bertindak mengikuti naluri para pahlawan yang tidak rela negeri mereka dirampok kekayaan alamnya dan rakyatnya dimiskinkan.

Sebuah kesalahan besar kemudian tokoh-tokoh Islam yang tengah memperjuangkan perbaikan di negeri ini dianggap sebagai public enemy, dengan alasan pemecah belah bangsa, kelompok fanatik, radikal dan garis keras.  Padahal tanpa peran ulama negeri ini akan hancur sejak lama. Seperti pernyataan Douwes Dekker, salah satu pendiri Indische Partij yang mengatakan, “Jika tidak karena sikap dan perjuangan para ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan.”

Para ulama dan tokoh-tokoh Islam-lah yang berada di garda terdepan mempertaruhkan diri mereka untuk keutuhan dan keselamatan negeri ini.

“Tuanku Imam Bonjol melawan Belanda adalah karena fanatik. Teungku Cik Di Tiro melawan Belanda adalah karena fanatik, Pangeran Diponegoro melawan Belanda adalah karena fanatik, semuanya adalah karena fanatik. Yang habis mati bertimbun mayat menegakkan kemerdekaan adalah orang-orang fanatik. Kalau tidak ada lagi orang fanatik di negeri ini maka segala sampah, segala kurap akan masuk ke mari, tidak dapat ditahan-tahan. Sayangnya orang yang mempertahankan yg munkar itulah sekarang yg dgn fanatik menantang tiap org yg ingin menegakkan kebenaran dan keadilan,tulis Buya Hamka, dalam artikel “Dari Hal Fanatik” dalam buku “Dari Hati ke Hati”.

Maka siapa yang lebih cinta tanah air, kelompok-kelompok Islam yang setiap hari bekerja keras mengingatkan masyarakat akan kerusakan moral, bahayanya liberalisasi dalam berbagai bidang, digadaikannya aset-aset negara kepada asing dengan harga murah, menentang demokrasi yang melahirkan korupsi? Ataukah mereka yang membiarkan itu semua dengan alasan nasionalisme dan pancasila?

Apakah namanya cinta tanah air dan pendukung Pancasila bila banyak kader partainya terjerat korupsi? Apakah namanya pemimpin yang cinta rakyat dan cinta tanah air yang menelantarkan jutaan rakyat dalam kemiskinan dan menderita gizi buruk? Lalu menjajakan aset negara kepada imperialis asing dengan harga semurah-murahnya?

Bangsa ini berhutang besar kepada Islam dan umatnya, khususnya para alim ulamanya. Akan tetapi jasa besar itu segera dilupakan. Bahkan sebagian sejarah itu dimanipulasi untuk menutupi rasa malu mereka. Kini saat bicara Islam maka yang terbayang adalah pembajakan pesawat Woyla oleh kelompok garis keras Imron, pemberontakan DI/TII serta jaringan teroris.

Bila kini RUU ORMAS menghendaki kelompok-kelompok Islam tidak lagi berkiprah di bidang politik dan dilarang kritis mengingatkan pemerintah, berarti ini sinyal yang cepat bagi kian hancurnya bangsa ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.