Menggadaikan Diri

soldSalam!

Alkisah seorang pria idealis yang bersemangat memajukan minat membaca buku bermutu bagi tetangga-tetangganya di kampung. Ia berpikir bahwa warga-warga di desanya akan semakin cerdas bila gemar membaca buku-buku yang baik, bukan buku picisan. Demi mewujudkan idealismenya ia berencana membuka toko buku yang hanya menjual bacaan-bacaan yang bagus.

Demikianlah ia mulai membuka toko buku yang diidamkannya. Hari demi hari pria ini menanti pembeli pertama di tokonya tapi tak kunjung ada. Hingga suatu hari seorang remaja yang masih duduk di bangku sekolah masuk ke tokonya dan mencari sesuatu. “Di toko ini jual pulpen, Pak?” tanyanya. Sang pria menggeleng, “Saya menjual buku, tidak menjual pulpen.” Remaja itu beranjak pergi sambil bersungut, “Aneh, toko buku kok tidak menjual pulpen.”

Pria itu mendengar omongannya dan mulai berpikir alangkah baiknya bila juga  menjual peralatan menulis seperti pulpen, pensil, penggaris, dsb. Karena ia tak punya modal lagi, maka sebagian buku bermutunya ia gadaikan di penjual buku bekas dengan harga murah. Ia pun membeli bermacam-macam alat menulis.

Satu persatu orang berdatangan ke tokonya untuk membeli peralatan menulis. Kemudian datanglah seorang pelajar ke tokonya menanyakan peralatan menggambar. Pria itu menggeleng, “Toko ini tidak menjual peralatan menggambar,” katanya. Pelajar itu pun pergi sambil bergumam, “Heran, toko buku kok tidak lengkap, tidak menjual peralatan menggambar?”

Pria itu mendengar gumamannya. Ia lalu berpikir bahwa cukup bagus bila tokonya juga menjual kebutuhan menggambar bagi para pelajar. Bukankah itu menunjang pendidikan? Maka ia pun kembali menggadaikan sebagian besar lagi buku-buku bacaannya yang berkualitas ke penjual buku-buku bekas. Ia pun membeli banyak peralatan menggambar. Tokonya pun semakin ramai didatangi pembeli.

Begitulah, setiap kali ada keluhan dari pembeli soal ketidaklengkapan tokonya ia pun menjual buku-buku bermutunya untuk menambah modal. Tentu saja buku-buku itu dijual dengan harga murah kepada para penjual buku bekas. Hingga akhirnya tak tersisa lagi satu pun buku bacaan yang sudah ia kumpulkan.

Suatu hari datanglah seorang pembeli ke tokonya, “Pak, apakah toko ini menjual buku sastra bagus seperti karya Shakespeare atau Hemmingway?” Pria pemilik toko itu mengerenyitkan dahinya mendengar pertanyaan itu. Dengan malu ia menggelengkan kepala. Pembeli itu pun pergi sambil menggerutu, “Aneh, toko buku kok tidak menjual buku?”

Saudaraku,

Saya ingin berbagi hikmah dari kisah di atas, betapa idealisme adalah sesuatu yang harus dijaga dalam diri kita. Butuh kerja keras untuk mempertahankan keimanan dan semangat perjuangan kita. Karena di kanan dan di kiri, beragam godaan akan datang menghampiri setiap anak Adam.

Kadangkala seorang pengemban dakwah diuji keteguhan imannya lewat sisi penerimaan masyarakat. Ketika ia melihat masyarakat tidak merespon dakwahnya  — apalagi memusuhinya – ada sebagian pengemban dakwah yang memutar haluan dakwah. Ia tidak mau lagi menyampaikan dakwah secara terbuka, lalu ia menyembunyikan tujuan dakwahnya. Menyinggungnya pun tidak dalam setiap ceramahnya atau tulisannya. Ia takut para penggemarnya atau pengikutnya lari meningalkannya.

Sehingga ada orang yang bergabung dalam dakwah menegakkan syariat dan khilafah tapi orang-orang di sekitarnya tidak pernah mendengar ia menyuarakan hal itu. Itu karena ia sendiri merasa canggung, malu dan khawatir ditolak orang bila menyampaikan hukum-hukum syara, kewajiban menegakkanya serta kewajiban mendirikan khilafah.

Ada juga yang beralasan melakukan hal itu untuk menjaga brand atau citra diri. Karena sudah dikenal sebagai motivator misalnya, atau pengusaha, maka ia merasa tidak pantas bila bicara urusan syariat Islam dan khilafah. Ia berkeyakinan bahwa fokus pada satu kegiatan jauh lebih baik daripada menyampaikan yang lain. Jangan PALU GADA  — aPA LU minta GUA ADA –, pesan sebagian orang. Kalau motivator ya motivator, jangan bicara dakwah syariah dan khilafah.

Akhirnya sebagian pengemban dakwah tanpa ia sadari sudah menggadaikan misi perjuangannya untuk sesuatu yang murah. Jauh lebih murah dari harga buku yang dijual ke tukang loak.

Padahal yang ia sudah mendapatkan hidayah yang amat besar. Ketika orang-orang belum tersadarkan apa permasalahan umat yang sebenarnya, dan apa kewajiban yang harus dilakukan saat ini ia sudah mendapatkannya. Tapi sayang, ia tidak tahan menghadapi ujian penerimaan dari masyarakat.

Sesungguhnya hidayah dan taufik yang ia sudah dapatkan jauh lebih bernilai ketimbang citra diri di depan banyak orang. Bukankah tidak ada citra diri yang baik melainkan di hadapan Allah?

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. Hujurat: 13)

Nabi saw. juga mengingatkan bahwa orang yang takut menyampaikan kebenaran sebenarnya sudah menjatuhkan citra dirinya sendiri di hadapan Allah Ta’ala:

“Janganlah seseorang menghinakan dirinya sendiri” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimanakah seseorang menghinakan dirinya sendiri?” Beliau saw. menjawab, ”Ia melihat satu perintah Allah dan ia bisa mengatakannya namun ia tidak mengatakannya, maka Allah berkata padanya pada Hari Kiamat, ‘apa yang menahanmu untuk berkata begini dan begini?’ orang itu menjawab, ‘aku takut pada orang-orang’ lalu Allah berkata, ‘Akulah yang lebih berhak untuk kamu takuti’”(HR. Ibnu Majah).

Kita patut beristighfar bila berpikir pikiran dan ucapan kita lebih baik ketimbang perintah Allah dan RasulNya untuk menegakkan syariat Islam dan khilafah, lalu akhirnya ia menyembunyikan perintah yang demikian agung tersebut. Orang-orang seperti demikian lupa bahwa kemuliaan itu adalah milik Allah dan bukan milik siapa-siapa.

“Padahal izzah (kemuliaan/kekuatan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.”(QS. al-Munafiqun: 8).

 

Tetap Semangat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.